Cemilan Pariaman, Gurih, Jadi Lagu dan Murah

Penulis -

Minggu, 6 Mei 2018 - 10:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Sudah jadi lagu dan pantun. Gurih. Murah. Itulah sala lauak khas Pariaman. Belilah jika suka.

Bentuknya bulat sebesar bola pingpong, warnanya kuning kecoklatan Renyah pada bagian luar, gurih isinya, itulah camilan tesebut. Terken di khas Sumatera Barat.

Sala lauak dibuat dari campuran tepung beras, ikan asin dan beberapa penyedap yang digoreng dengan minyak panas Dapat dijumpai di berbagai kedai di Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman. Sala menjadi teman pas untuk menemani makan lontong sayur atau lontong gulai kikil, namun dimakan langsung rasanya juga tetap lezat sehingga tak cukup jika hanya memakan satu biji.

Untuk membuat sala, resepnya tepung beras dicampur cabai merah, bawang merah. Kemudian bawang putih, kunyit, jahe, garam dan ikan asin yang dihaluskan, lalu adonan disiram air hangat. Untuk sala ikan biasanya ikan yang digunakan relatif besar dan tidak dihaluskan. Proses peracikan bumbu dan memasak sala ikan yaitu tepung beras dicampur rempah-rempah, lalu diaduk rata.

Di Padang Pariaman salah satu pusat penjualan sala ada di mawasan Makam Syekh Burhanuddin di Kecamatan Ulakan Tapakis. Pada kawasan cagar budaya tersebut terdapat puluhan pedagang yang menyajikan penganan itu. Sala bulat dijual Rp1.000 empat buah, sala ikan Rp8.000 hingga Rp10.000 per buah tergantung ukuran, sala rakik Rp1.000 per buah, sala rakik Rp1.000 dan sala cumi Rp4.000.

Salah seorang pedagang setempat, Jusnelti (34) mengaku telah menjual sala lauk semenjak 2002. Keuntungan yang didapatkan dari berjualan sala dan penganan goreng lainnya beragam, tergantung dari jumlah peziarah yang mendatangi makam.

“Menjelang Ramadhan jual beli bisa mencapai Rp1 juta sehari. Berbeda di hari biasa, hanya mencapai Rp500 ribu,”katanya.

Pendapatan tersebut bisa meningkat apabila memasuki lebaran Idul Fitri dan basafa atau waktu jamaah tarikat satariah menziarahi makam Syekh Burhanuddin. Bahkan Lebaran tahun lalu, jual beli Jusnelti mencapai Rp2 juta per hari sedangkan basafa mencapai Rp5 juta per hari.

Kepala Dinas Perdagangan Tenaga Kerja Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Padang Pariaman, Nurhelmi mengatakan sala lauak menjadi salah satu penambah penghasilan warga di daerah itu.

“Bahkan untuk di Kawasan Makam Syekh Burhanuddin, berdagang sala lauk menjadi mata pencarian utama warga ,” ujarnya. (*/nrs)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB