Prokabar.com – Indonesia beberapa tahun terakhir terus mengalami tren peningkatan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang cukup signifikan.
Hal ini menyebabkan indsutri tekstil di tanah air mengalami lonjakan produksi yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

Lonjakan produksi ini juga membuat pemakaian zat warna semakin tinggi, zat warna dari industri tekstil ini terbuat dari pewarna sintesis seperti methylene blue dan reactive red.
Produksi yang meningkat juga menyebabkan peningkatan limbah, terutama limbah cair dari proses pencelupan kain dengan zat warna.
Limbah cair tekstil mengandung senyawa organik tinggi, logam berat, suhu tinggi, COD tinggi, pH tinggi, dan warna pekat1.
Di mana limbah cair ini dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan mengganggu kesehatan manusia.
Penanggulangan limbah ini bisa dengan berbagai proses serta metode pengolahan seperti fotolisis, sonolisis dan ozonolisis.
Ketiga metode ini sangat populer dalam penelitian yang berkaitan dengan zat warna.
Ozonolisis
Pada kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang ozonolisis, di mana ozonolisis yaitu pemisahan ikatan pada senyawa oleh ozon untuk mengubah struktur yang dapat menyebabkan degredasi molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil.
Ozon dapat mendegradasi struktur kompleks zat warna dalam waktu singkat.
Oleh karena itu, ozonasi merupakan salah satu alternatif yang paling efektif untuk mengatasi masalah warna pada limbah tekstil.
Sebenarnya, warna dari zat warna tergantung pada kelompok kromofor. Ozon adalah agen yang sangat baik untuk penguraian gugus kromofor khususnya dan sangat efektif untuk menghilangkan warna dari zat warna dalam air limbah2.
Metode ozonolisis ini memiliki kelebihan yaitu menghilangkan warna pada air limbah, menhilangkan kekeruhan, pemasangan dan pengoperasian yang mudah serta dekomposisi ozon sisa menjadi oksigen.
Pengolahan Limbah Cair
Pengolahan limbah cair dengan menggunakan metode ozonolisis sudah ada dengan skala laboratorium dan skala industri.
Pada skala laboratorium, pengujian dengan parameter nilai COD, pengaruh pH, dosis ozon, pengaruh konsentrasi awal serta kepekatan warna.
Ali Riza (2018) telah melakukan percobaan treatment pencemaran pewarna limbah tekstil untuk skala laboratorium di Turki.
Pemakaian zat warnag pada penelitian adalah Reactive Red 195 dan Acid Blue 284.
Hasilya, terdapat nilai COD yang terkandung dalam sampel tersebut menurun seiring bertambahnya waktu ozonasi serta kepekatan warna dari sampel juga menurun dengan bertambahnya waktu ozonasi.

Pengujian Zat Warna seperti Remazol Black B
Pengujian zat warna lain seperti Remazol Black B jug amenggunakan ozonasi. Hasil pengujian ini memperlihatkan tingkat penghilangan warna Remazol Black B pada konsentrasi 1500 mg/L mencapai 94% penghilangan, dengan waktu 25 menit.
Hasil analisis biaya proses perawatan menunjukkan bahwa penghilangan warna maksimum dicapai dengan energi dan biaya yang sangat rendah3. Lihat tabel 1.

Ozonasi sangat efektif untuk menhilangkan zat warna pada limbah, akan tetapi jika ozonasi digunakan untuk menghilangkan warna pada kain akan menyebabkan kain tersebut akan rusak, hal tersebut dikarenakan kain akan kehilangan daya tariknya dan menyebabkan kain menjadi rapuh4.
Lucyna dkk (2019) juga melakukan penelitian terkait tentang limbah zat warna, pada penelitian ini peneliti menguji dengan kromatografi lapis tipis untuk mengetahui produk samping hasil ozonasi.
Telah diketahui bahwa perlakuan ozon dalam kondisi basa menyebabkan dekomposisi ozon sendiri, yang menghasilkan pembentukan radikal hidroksil.
Tidak hanya diluar negeri di Indonesia juga berkembang penelitian tentang ozonolisis dengan penambahan ZnO/zeolit sebagai katalis dalam mendegradasi tartrazine oleh Prof. Dr. Safni, M.Eng dan Dr. zilfa, MS yang berasal dari universitas andalas.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa katalis ZnO/zeolit dapat memperbesar persen degradasi tartrazin secara ozonolisis.
Dengan demikian berarti bahwa zeolit dapat mengefektifkan pemakaian ZnO. Untuk mengetahui penelitian ini lebih lanjut dapat mengunjungi google scholar dari Prof. Dr. Safni, M.Eng.6
Referensi
- Ali Rıza DİNÇER, Meltem BAYRAM. Treatment Of Pollution From Textile Dyes With Ozone Method. International Agricultural, Biological & Life Science Conference, Edirne, Turkey, 2018
- Turhan K. Determination of optimal conditions in decolorization of disperse dyes in aqueous solution by ozonation. Global NEST Journal, Vol 23, No X, pp 143-151
- R. Quaff, S. Venkatesh, K. Venkatesh. Degradation of Azo Dye by Ozone Oxidation: Cost Analysis and Buffering Effects on Dye Decomposition. Natl. Acad. Sci. Lett. https://doi.org/10.1007/s40009-020-01008-9
- Ajinkya Sudhir Powar, Anne Perwuelz, Nemeshwaree Behary, Levinh Hoang and Thierry Aussenac. Application of Ozone Treatment for the Decolorization of the Reactive-Dyed Fabrics in a Pilot-Scale Process—Optimization through Response Surface Methodology. Sustainability 2020, 12, 471; doi:10.3390/su12020471
- Lucyna Bili ´nska, Kazimierz Blus, Marta Gmurek and Stanisław Ledakowicz. Brine Recycling from Industrial Textile Wastewater Treated by Ozone. By-Products Accumulation. Part 1: Multi Recycling Loop. Water 2019, 11, 460; doi:10.3390/w11030460
- Zilfa Z, Safni S, Rahmi F. Penggunaan ZnO/Zeolit Sebagai Katalis Dalam Degradasi Tartrazin Secara Ozonolisis. J Ris Kim. 2021;12:53-64. doi:10.25077/jrk.v12i1.387
















