Bukan tak Mampu Hanya tak Punya Pintu Masuk

Penulis -

Minggu, 1 Juni 2025 - 20:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Afdal Salputra, Yuwanda Efrianti

Program Studi Hukum Keluarga
Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam
Duta Kampus UIN Imam Bonjol Padang Tahun 2025

Tidak semua yang berdiri di atas panggung adalah aktor utama. Beberapa hanya bayangan yang menyaru jadi cahaya. Dan sebagian lagi, hanya penumpang gelap yang menumpang tenar lewat pintu darurat bernama “orang dalam.”

Dunia pasca-COVID-19 bukan hanya mengalami krisis kesehatan atau ekonomi. Lebih dari itu, dunia kini digerogoti oleh epidemi yang lebih senyap namun mematikan, yaitu validasi. Seseorang bisa tak punya kompetensi, tapi jika cukup lihai memegang tongkat atau lebih tepatnya, bersembunyi di baliknya, semua jalan bisa dibuka seperti pintu supermarket yang otomatis menggeser kaca.

Sebuah studi dari Populix (2023) mengungkap bahwa 37% Gen Z Indonesia mengaku mendapat pekerjaan melalui jalur koneksi pribadi. Dalam konteks sosial-ekonomi hari ini, angka itu bukan sekadar statistik, itu tamparan bagi seluruh sistem rekrutmen, pendidikan, hingga nilai-nilai keadilan yang selama ini didongengkan.

Pertanyaannya sederhana,
Apakah memang cahaya yang paling terang itu pantas disebut matahari?
Atau sebenarnya hanya lampu sorot, yang dipasang oleh tangan-tangan licik agar panggung tampak megah untuk nama-nama yang belum tentu layak disebut?

Dalam dunia yang mestinya digerakkan oleh kompetensi, nepotisme menjelma seperti hantu yang tidak pernah mati. Ia tidak butuh tubuh untuk hadir. Cukup nama belakang yang dikenal, cukup satu bisikan di ruang rapat, cukup satu jabat tangan di balik meja birokrasi. Maka, terangkatlah satu nama, tergulinglah yang lain.

Lalu muncullah mereka yang merasa hebat karena mendapat tempat. Padahal, tempat itu bukan karena pencapaian, tapi karena sandaran. Sandaran pada “aku anaknya”, “aku temannya”, “aku dari kelompok itu.” Ia berdiri di atas pondasi kebetulan biologis atau sosial, bukan kemampuan.

Mereka tak butuh kerja keras, yang penting kerja cerdas dalam membangun citra. Tak perlu berkeringat mengejar keahlian, cukup basah oleh pujian.
Tak perlu menjawab soal ujian, cukup menjawab “kenal siapa?”

Di balik jasad yang terlihat tenang, sebenarnya tersembunyi bayangan besar yang bermain sebagai penguasa sesungguhnya. Dialah raja tanpa mahkota, sosok tak terpilih tapi memegang kendali. Ia tidak duduk di kursi, tapi menentukan siapa yang duduk. Ia tidak bersuara di mikrofon, tapi kalimatnya menggema di telinga-telinga yang paham kode-kode rahasia kekuasaan.

Bayang-bayang itu bahkan sanggup menyingkirkan orang-orang terang, hanya karena cahaya mereka dianggap menyilaukan.
Karena dalam sistem yang busuk, yang terlalu terang dianggap berbahaya.
Cahaya sejati dibungkam oleh kilau palsu yang dipoles rapi oleh koneksi dan kedekatan.

Ironinya, sistem ini tidak dibangun oleh satu orang. Ia dikukuhkan oleh budaya. Budaya yang membanggakan bisa masuk sini karena kenal si A, yang menertawakan mereka yang jatuh karena berjuang sendiri.
Budaya yang membesarkan nama, bukan kapasitas.
Yang menghormati silsilah, bukan integritas.

“Makanya, pandai-pandailah cari relasi,” katanya. Tapi tidak pernah dijelaskan, relasi macam apa? Apakah relasi yang menyuburkan kolusi? Atau relasi yang menjadi pintu masuk untuk mengubur bakat-bakat yang lahir dari peluh, bukan dari silsilah?

Relasi bukanlah dosa. Tapi saat relasi menggantikan kompetensi, saat tongkat digunakan bukan untuk menuntun, tapi untuk menyingkirkan maka itulah saatnya alarm peradaban dibunyikan.

Seseorang bisa jadi pemenang dalam lomba yang hanya ia sendiri yang tahu aturannya. Tapi kemenangan itu kosong, karena podium yang ia pijak dibangun bukan dari pencapaian, melainkan dari pengaruh yang menyaru jadi prestasi.

Dan jika hal ini dibiarkan, apa kabar dengan mereka yang jujur, mumpuni, dan penuh semangat tapi tidak punya akses ke ruang-ruang kekuasaan itu? Mereka bukan gagal, mereka hanya tidak punya bayangan untuk berlindung.

Pada akhirnya, sistem ini menciptakan generasi yang takut kalah bukan karena tidak pintar, tapi karena tidak punya “siapa-siapa.” Generasi yang belajar, tapi tidak dilirik. Generasi yang jujur, tapi tidak dianggap. Generasi yang bercahaya, tapi dikecilkan karena terlalu menyilaukan.

Ketika dunia lebih menghargai latar belakang dibanding isi kepala, maka kehancuran tak lagi butuh gempa. Ia cukup datang lewat satu kalimat
“Tenang, ada orang dalam.”

Dan saat tongkat kekuasaan terus dipakai untuk menyokong jasad yang tidak siap, maka kehormatan itu akan berubah menjadi kekosongan bersuara nyaring.

Penulis : Opini

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB