Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Buka Rapat Senat Dies Natalis UIN Imam Bonjol, Ini Pesan Menag

Dibaca : 310

Padang, Prokabar — Menag Fakhrul Razi hari ini menghadiri Rapat Senat Terbuka bersama Menteri Agama dalam rangka Dies Natalis ke-53 UIN Imam Bonjol (29 November 1966 – 29 November 2019). Rapat dengan tema: Menjadi Universitas Islam yang Kompetitif di ASEAN tahun 2037 ini berlangsung di Auditorium Mahmud Yunus UIN Imam Bonjol.

Hadir, Senat UIN Imam Bonjol, Kapolda Sumbar Jenderal Pol Fakhrizal, Kakanwil Kemenag Sumbar, serta ribuan civitas akademika dan mahasiswa UIN Imam Bonjol.

Ada tiga pesan yang disampaikan Menag. Pertama, Menag minta agar UIN Imam Bonjol untuk terus berprestasi. “UIN harus mampu menjadi pelopor kerja strategis akademis yang bermanfaat bagi umat dengan menjunjung tinggi Pancasila, UUD 1945, dan NKRI,” pesannya di Padang, Jumat (29/11).

Selain itu, UIN juga harus ikut bersama menjaga prestasi Kementerian Agama yang sudah diraih selama ini. Prestasi tersebut antara lain opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK dan indeks kepuasan jemaah haji yang sudah sangat memuaskan (85,91).

“Penilaian BPK, kita dapat WTP dalam tiga tahun terakhir. Ini luar biasa,” pesan Menag.

Menag minta, keluarga besar Kementerian Agama terus mengedepankan lima nilai budaya kerja yang telah ditekankan selama ini. Yaitu, integritas, profesionalitas, inovasi, keteladanan, dan tanggungjawab.

“Dengan lima nilai budaya kerja ini, diyakini akan dapat prestasi lebih baik lagi,” tutur Menag.

Pesan kedua, Menag minta civitas akademika meneladani Tuanku Imam Bonjol. Menag menilai, Imam Bonjol tidak hanya tokoh alim dengan pengetahuan keislaman luas, tapi juga patriotik dan menjunjung tinggi nilai budaya masyarakat Minang.

“Keislaman, kebangsaan, dan sikap menghargai budaya lokal sangat melekat pada diri Imam Bonjol. Ini harus diteladani,” ucap Menag.

Pesan ketiga, UIN harus punya distingsi, dan itu salah satunya bisa bersumber dari budaya Minang luar biasa. Dikatakan Menag, Islam Indonesia juga dipengaruhi budaya Minang. Manuskrip sejarah di indonesia juga banyak ditemukan di Minang. Bahman, pendiri NU dan Muhammadiyah juga pernah berguru pada ulama Minang, yaitu Syekh Khatib al Minangkabawi.

“Ini bisa jadi kajian akademik. UIN Imam Bonjol harus punya kajian akademik yang khas sesuai kekayaan lokal yang dimiliki,” harapnya.

“Saya bangga dengan UIN. Saya bangga dengan Minang. Bukan karena ayah saya orang Minang, tapi karena memang banyak yang bisa dibanggakan dari Minang,” tandasnya. (*/hdp)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top