Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Budidaya Hidroponik mengatasi Ketahanan Pangan Skala Rumah Tangga Masa Pandemi Covid-19

Dibaca : 107

 

Penulis : Sri Mariya dan Tim Pengabdian UNP

Saat ini pandemi Covid-19 masih menyerang Indonesia dan tidak bisa dipungkiri daerah Kota Padang juga terkena dampaknya. Tentu saja banyak dari masyarakat yang mengalami kekurangan bahan makanan termasuk kebutuhan sayuran. Rendahnya konsumsi sayuran juga akan menjadi penyebab utama munculnya gangguan pada kesehatan mulai dari obesitas, kanker, stroke, penyakit ginjal krinis, diabetes melitus hingga hipertensi.

Konsumsi buah dan sayuran masyarakat Indonesia mengacu data BPS 2017 mencapai 173 gram per hari, lebih kecil dari angka kecukupan gizi Badan Kesehatan Dunia (WHO) 400 gram per hari.

Sementara konsumsi makanan cepat saji, junkfood masih menjadi menu favorit. Kalau tubuh kita kekurangan konsumsi buah dan sayur dampaknya bisa jangka panjang, bahkan saat ini penyakit tidak menular justru banyak menyerang usia muda, masih produktif. Mengkonsumsi buah dan sayuran diakui dokter yang juga seorang Vegan ini disiplin menjadi kunci menjaga daya tahan tubuh dari serangan penyakit. Rumus sayuran dalam piring sangat sederhana 1/3 sayuran, 1/3 nasi, 1/6 buah dan 1/6 lauk.

Kecamatan Koto Tangah merupakan salah satu kecamatan yang penduduknya banyak bergerak di sektor pertanian tanaman holtikultura, terutama cabe, terung, timun, kangkung, bayam dan lainnya Berdasarkan hasil survey yang dilakukan, ternyata produktivitas petani holtiklutura di Kelurahan Lubuk Minturun tidak setinggi produktivitas dari tahun-tahun sebelumnya.

Penurunan produktivitas tanaman ini disebabkan oleh beberapa kendala diantaranya semakin bertambahnya jumlah penduduk, sehingga lahan yang biasanya dijadikan untuk menanam tanaman holtikultura menjadi semakin berkurang, dan bahkan sudah dijadikan lahan perumahan, selanjutnya tingginya komsumtif masyarakat terhadap tanaman holtikultura, akan tetapi persediaannya terbatas, dan sudah banyaknya masyarakat yang beralih mata pencarian dari yang biasanya bekerja disektor pertanian, berganti dengan sektor transportasi.

Seharusnya kita memikirkan untuk keluar dari permasalahan ini dan salah satu solusinya adalah dengan bercocok tanam. Hari ini untuk bercocok tanam tidak membutuhkan lahan yang luas, namun lahan sempit pun bisa dimanfaatkan untuk menanam sayur-sayuran untuk dimakan. Kegiatan dirumah semenjak pademi covid juga kadang semakin membosankan, namun kita tetap dianjurkan social distancing atau jaga jarak. Untuk mengisi waktu disaat kita dirumah sangat tepat kita menanam sayuran dengan budidaya hidroponik. Kita bisa menanam sayur-sayuran seperti bayam, kangkung dan beberapa sayur lainnya untuk menjalankan program ketahanan pangan di tengah pandemi.

Hidroponik adalah lahan budidaya pertanian tanpa menggunakan media tanah, sehingga hidroponik merupakan aktivitas pertanian yang dijalankan dengan menggunakan air sebagai medium untuk menggantikan tanah. Sehingga sistem bercocok tanam secara hidroponik dapat memanfaatkan lahan yang sempit. Hidroponik tidak membutuhkan pengolahan tanah dan fungsi tanah ini bisa digantikan oleh bahan lainnya seperti arang sekam, rockwool, kerikil atau pasir, dan pemenuhan unsur hara yang diperlukan akan dipenuhi oleh pemberian nutrisi dari pupuk. Wadah yang bisa digunakan pada bercocok tanam secara hidroponik bisa dari botol plastik bekas yang berperan seperti halnya pot tanaman.

Selain botol plastik bekas kita dapat menggunakan wadah yang mudah ditemukan dan berasal dari barang-barang tidak terpakai di sekitar kita misalnya dirigen, kaleng bekas, dan paralon.

Hal ini dilakukan agar sampah plastic yang banyak terdapat dilingkungan masyarakat jumlahnya dapat terkurangi, karena apabila tidak didaur ulang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Sampah plastik dapat mencemari lingkungan karena sampah plastik tidak dapat terurai dengan cepat dan dapat menurunkan kesuburan tanah. Sampah plastik yang dibuang sembarangan juga dapat menyumbat saluran drainase, selokan dan sungai sehingga bisa menyebabkan banjir. Sampah plastik yang dibakar bisa mengeluarkan zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Kegiatan ini secara tidak langsung mengajarkan kepada masyarakat tentang pentingnya mendaur ulang sampah anorganik khususnya plastik untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Nah tentu saja dibutuhkan sebuah pengabdian untuk hidroponik khususnya untuk Kelurahan Lubuk Minturun. Sehingga kami dari Tim pengabdian UNP yang berasal dari Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial UNP melakukan pengabdian yang berjudul Pembudidayaan Hidroponik Untuk Ketahanan Pangan Dalam Skala Rumah Tangga Di Kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Padang.

Kegiatan ini diketuai oleh Sri Mariya S.Pd, M.Pd dengan anggota Ratna Wilis, S,Pd, MP, Bayu Wijayanto, S.Pd, M.Pd, dan anggota lainnya termasuk Dr Armansyah dosen Unand yang menjadi narasumber juga pada kegiatan ini.

Budi daya hidroponik ini mempraktekkan bibit sayuran kangkung dan sayur pangsit. Perlalatan yang diperlukan antara lain : Botol atau Gelas Plastik Air Mineral Bekas, Jerigen Plastik Bekas Minyak Goreng, Kain Sebagai Sumbu (kain bekas), Nutrisi Hidroponik, Media Tanam (Sabut Kelapa, pecahan bata merah, pasir), Ember, dan pengaduk. Sedangkan bahan yang diperlukan adalalah Pupuk Urea 100 g, Pupuk KCL 100 g, Pupuk NPK100 g ,Pupuk Gandrasil 50 g, Air sumur, sungai dan air PDAM diendapkan 7 –10 hri.

Media tumbuh yang dipakai adalah serbuk sabut kelapa, rockwool, dan pasir.

Kegiatan pembinaan ini dimaksudkan untuk bisa membantu ibu-ibu rumah tangga untuk membudidayakan hidroponik dengan media botol atau plastic bekas. Keunggulan hidroponik dibandingkan dengan bercocok tanam menggunakan tanah antara lain pemeliharaan dan budidaya tanaman hidroponik lebih mudah karena tempatnya relatif bersih, media tanaman yang digunakan bersih dari kotoran dan tanaman terlindung dari terpaan hujan, serangan hama penyakit relatif kecil, tanaman lebih sehat, vigor, produktivitasnya tinggi, mutu hasil tanaman berkualitas tinggi dan tahan lama serta harga jualnya tinggi. Sayuran hidroponik telah banyak dikembangkan di Indonesia.

Budidaya secara hidroponik memiliki beberapa keuntungan antara lain tidak membutuhkan lahan luas, bisa diusahakan sepanjang tahun, menambah pendapatan rumah tangga, dan membantu menciptakan lingkungan (udara) bersih dan sehat di sekitar rumah.(*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top