Budaya Alam Minangkabau dan Sebuah Kegelisahan

Penulis -

Sabtu, 14 Juli 2018 - 21:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rudi Yudistira, S.S

Alam sebagai sumber dan tempat hidup manusia. Melalui alam, manusia terus berkembang dan beradaptasi hingga memiliki komunitas tersendiri. Hingga akhirnya menempati sebuah tempat dan menciptakan aturan-aturan norma serta nilai-nilai moral, sesuai yang mereka sepakati. Sedangkan waktu menjadi metafora kehidupan manusia itu, yang terus berkembang dan mengalami perubahan. Waktu bergerak maju dan entah kapan berhenti sebagai catatan perkembangan zaman. Refleksi kehidupan yang terus berkembang sesuai apa yang diterima, dijalankan dan diamalkan manusia. Terus berubah dan berkembang sesuai zaman serta peradapan sesuai keinginan manusia itu sendiri. Pada Masyarakat Minangkabau terkenal dengan falsafah Alam Takambang Jadi Guru. Seperti pepetah ‘panakiak pisau sirauik, panungkek batang lintabuang, salah satu filosofi masyarakat minang berkenaan dengan Alam, manusia, waktu dan kehidupannya. Simbol masyarakat yang berarti belajar pada alam dengan memahami pelajaran dan hikmah yang tampak dengan kesat mata maupun yang tersirat.

Filosofi diserta sumpah marapalam Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) antara kaum Adat dengan Kaum Padri (Ulama Islam) hanya semboyan dan keagungan semata. Masyarakat telah banyak mengabaikan nilai-nilai moral dan Islam sesuai karakter budaya Minangkabau itu sendiri. Ironisnya, nilai-nilai yang menjunjung etika dan estetika kehidupan yang begitu luruh, terkikis secara berlahan.

Masyarakat telah terpengaruh arus globalisasi melalui teknologi, menyusupkan paham-paham budaya barat dan bertentangan karakter bangsa. Masyarakat minang tidak mampu membendung paham budaya asing, yang masuk melalui teknologi modern yang serba cangging tersebut. Akibatnya, dari waktu ke waktu, generasi penerus terus kehilangan jati diri dan ketidaktahuan akan sejarah serta budayanya sendiri. Mereka tidak lagi mengenal apa itu baju kuruang, rumah gadang, peranan laki-laki dan peranan perempuan di ranah minang. Pedalaman sejarah dan budaya sendiri tersisihkan dengan materi pelajaran Matematika. Tekanan hidup yang semakin tinggi, mengalihkan pemikiran dan paham dalam memahami bagaimana memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga jiwa sosial dan komunal kemasyarakatan jauh dari pikiran masyarakat. Raso jo pareso telah mulai menipis, sehingga egosime yang individual telah menguasai kepribadian setiap insan.

Pergeseran atau perubahan negatif melalui waktu yang panjang seakan-akan telah terjadi secara sistematis. Kegelisahan yang terus menggundah pemikir masyarakat Minang. Seperti halnya Kamal Guci, seorang pelukis nasional dari Pakandangan Padang Pariaman. Tahun 1991-an, Kamal Guci kembali ke ranah minang untuk mengabadikan karyanya, untuk meningkatkan kecintaan pada tanah kelahiran. Dilatarbelakangi oleh terjadinya pergeseran nilai etika dan estetika masyarakat. Melalui media kertas kanvas, sebuah kuas serta beberapa campuran cat, ia mampu meretrospeksikan waktu suatu keadaan tempo dulu, masa kekinian dan masa yang akan datang. Keindahan seni lukis yang ia ciptakan membentuk estetika, etika dan peristiwa yang saling terikat kuat, menggambarkan kegelisahan dan keindahan alam Minangkabau.

Kegelisahan Kamal Guci tidak hanya dirasakan sendiri, sebelumnya Musral Esten seorang Akademisi dari Solok juga merasakan hal yang sama. Seperti kutipannya, “Tantangan orang Minangkabau sekarang bukan hanya bagaimana menjadi orang Minangkabau sejatinya, tetapi juga bagaimana menjadi orang Indonesia, atau bahkan menjadi warga dunia yang berkualitas namun tetap merasa sebagai Orang Minangkabau” (Prof. Dr. Musral Esten, 1993). Ketimpangan jati diri sebagai suku bangsa Minang, memiliki rasa bagian dari suatu identitas budaya secara luas bukanlah persoalan baru. Terbukannya media masa dan jaringan internet, membuka cakrawala serta wawasan dunia, membawa perubahan besar-besaran terhadap masyarakat sebagai konsumen. Proses globalisasi dengan berbagai dampak social seperti Akulturasi, Asimilasi dan sebagainya tidak dapat terelakan. Parahnya, generasi yang tidak memiliki karakter kuat memilah-milah kebudayaan asing, terbawa arus evoria budaya barat. Mereka merasakan sebagai bagian dari budaya luar, sehingga budaya mereka sendiri terlupakan, seumpama pantun rami pasanyo Ujuang Guguak, rami hanyo manjalang hari patang. Padi jo apo ka ditumbuak, Alu tu bana nan lah hilang (Cimbuak, 2013).

Kegelisahan jiwa semakin memuncak ketika wabah HIV dan AIDS semakin merajalela di Sumatera Barat. Tahun 2014 saja terdapat 2.092 kasus, yang terdiri 1.136 kasus HIV dan 956 kasus AIDS (data Dirjen PP PL Kemenkes RI/ coversia.com). Padahal tahun 2013 masih tercatat 1.875 kasus yang terdiri dari 923 kasus HIV dan 952 AIDS. Penyebaran utama asal penyakit itu, berasal dari masyarakat minang sempat keluar daerah atau perantauan. Di kampung halaman, mereka terkukung erat dengan aturan adat istiadat. Saat berada diluar kontrol sosialnya, mereka leluasa sekehendak hati melakukan hubungan sek bebas di sana, kemudian kembali pulang membawa penyakit terkutuk tersebut.

Peranan Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai dan Bundo Kanduang Semestinya Aktif Berfungsi

Anak dipangku kamanakan dibimbiang. Urang kampuang dipatenggangkan. Tenggang nagari jan binaso, tenggang sarato jo adaiknyo adalah sebuah sepenggal mamangan masyarakat yang diyakini sebagai pituah adat yang patut diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kiasan tersebut dibunyikan peranan Laki-laki minang. Sebagai seorang ayah, ia wajib menjaga dan membesarkan anaknya dengan harta pencarian dirinya sendiri. Sedangkan kemenakan atau anak dari adik-adik perempuannya, wajib ia bimbing dengan nasihat atau pituah dengan harta pusako. Kekilafan atau aib yang dilakukan anak dan kemenakan, juga menjadi aib pada dirinya. Kesalahan atau aib yang terjadi itu menjadi buah bibir dusanak dikampung halaman. Dengan artian, aib yang diperbincangkan juga menjadi aib urang sekampung halaman, sehingga dapat mencoreng nama baik diri, keluarga besar bahkan nama baik kampung halaman. Begitulah kekuatan adat dan hubungan komunal masyarakat Minangkabau yang seharusnya terjalin. Mereka saling manjaga dan saling tenggang raso jo pareso. Raso dibaok naik, pareso dibaok turun. Dengan adanya rasa dan periksa (introspesi diri) yang tinggi antara satu dengan lainnya, melahirkan persaudaraan, persatuan, keselarasan dan keharmonisan di sebuah nagari. Penguatan raso jo pareso lah yang menjadi kekuatan Niniak Mamak dalam membina anak dan kemenakan mereka. Untuk membangun kembali generasi Minang yang berkarakter, dibutuhkan pemimpin yang mampu menunjukan keteladanan sesuai ajaran Islam dan Adat Istiadat. Menghubungkan jalinan hati nan tulus, tanpa mengharapkan imbalan ataupun kepentingan politik semata.

Begitu juga peranan Bundo kanduang atau wanita di ranah minang ini. Ketika seorang wanita (Bundo Kanduang) tidak lagi mengetahui sopan santun, tata krama atau menjaga dirinya dari aib dan malu, maka runtuhlah pondasi Islam, adat dan budaya Minang. Kita menyadari bahwa masyarakat Minang menganut sistem Matrilinial terbesar Indonesia bahkan di dunia. Menjadikan Ibu atau Bundo Kanduang sebagai landasan kesukuan seseorang. Mengkedepankan Ibu sesuai sunah rasul dan Al-Qur’an, sebagai sosok yang diutamakan. Seperti sunah rasul dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548) (kutipan Wikipedia Ensiklopedi Bebas, tanggal 20/2 2015, 9:15 WIB). Selain itu, surga terletak di kaki seorang ibu, seperti Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata: Saya mendengar rasulullah bersabda: “Celakalah dia, celakalah dia”, rasulullah ditanya: Siapa wahai rasulullah?, Bersabda rasulullah : “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga (karena tidak berbakti kepada keduanya)”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan). Dari Mu’awiyah bin Jaahimah, Bahwasannya Jaahimah datang kepada rasulullah kemudian berkata: “Wahai rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka bersabda: “Apakah kamu masih memiliki Ibu?”. Berkata dia: “Ya”. Bersabda : “Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya”. (kutipan Wikipedia Ensiklopedi Bebas, tanggal 20/2 2015, 9:15 WIB).

Ketika moral atau etika seorang wanita atau Bundo Kanduang di ranah minang telah rusak, tidak terbayangkan lagi kehancuran yang akan terjadi nantinya. Kita telah banyak melihat secara kesat mata, wanita minang saat ini dengan pakaian tidak layak dipandang secara Islam dan Adat. Peranan Orang Tua, selaku Ninik Mamak atau Bundo Kandung perlu ditegakan dengan benar, sesuai sandi Islam dan Adat Budaya Minang.

Masyarakat yang telah terbuai dengan perjalan waktu waktu, lupa jati diri dan cendrung memilih kehidupan budaya asing. Mengalihkan paham dan pedoman nilai-nilai identitas budaya ABS-SBK serta filosofi Alam Takambang Jadi Guru, dengan mengadopsi kehidupan budaya barat yang bersifat Individual dan praktis. Waktu terus berjalan menuju masa-masa kehancuran identitas budaya, yang entah kapan titik akhirnya. Dan hanya kita yang mampu menjawab, kenapa ini terjadi dan harus bagaimana kita selanjutnya.

Kaluak paku kacang balimbiang
Tampurung lenggang lenggokan
Baok manurun ka Saruaso
Tanamlah siriah jo gagangnya
Anak dipangku kamanakan dibimbiang
Urang Kampuang dipatenggangkan
Tenggang nagari jan binaso
Tenggang sarato jo adatnyo

Panakiak pisau sirauik
Panungkek batang lintabuang
Salodang ambiak ka nyiru
Satitik jadikan lauik
Sakapa jadikan gunuang
Alam takambang jadikan guru.

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB