Biochar Berpeluang Masuk Sektor Perdagangan Karbon 

Penulis -

Jumat, 5 Juli 2024 - 16:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Biochar yang merupakan proses karbonisasi, tidak hanya berpengaruh besar terhadap pengurangan biaya operasional perkebunan sawit. Tetapi juga berpeluang masuk dalam sektor perdagangan karbon.

Saat ini infrastruktur perdagangan karbon yang terdiri dari lima sektor untuk skala domestik sudah tersedia. Termasuk sektor pertanian. Bahkan perdagangan karbon juga sudah masuk di bursa saham IDX.

“Dari lima sektor, termasuk sektor pertanian, untuk skala domestik sudah tersedia. Termasuk juga perdagangan karbon di bursa IDX,” ungkap Tenaga Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yanto Rochmayanto usai pembuka Workshop bertajuk “Sosialisasi Karbonisasi Tandan KosongSawit dan Pemanfaatannya sebagai Soil Conditioner untuk Meningkatkan Efisiensi Pemupukan dan Kesuburan Tanah pada Perkebunan Sawit,” Jumat (5/7) di Padang.

Yanto mengungkapkan, setelah satu tahun perdagangan karbon berjalan, yang masuk dan sudah ada transaksi baru sebatas sektor energi. Sementara potensi biochar (arang tempurung) proses karbonisasi untuk masuk dalam carbon offside sangat besar.

“Dalam proses biochar masuk pada perdagangan karbon, tinggal menyusun dokumen, daftarkan ke sistem registrasi nasional dan proses validasi dan verifikasi, untuk mendapatkan sertifikat penurunan emisi,” terang Yanto.

Sementara, Kepala Divisi Teknologi Proses, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB University, Prof. Dr. Erliza Hambali mengungkapkan, salah satu masalah yang dihadapi perusahaan dan petani dalam mengelola kelapa sawit di Provinsi Sumbar terletak di bagian hulunya. Yakni, terkait besarnya biaya operasional perkebunan.

Erliza mengungkapkan, dengan melibatkan petani, pengusaha dan perguruan tinggi, telah banyak usaha yang dilakukan untuk mengurangi biaya perkebunan ini. Salah satunya dengan melaksanakan karbonisasi terhadap lahan sawit yang kosong, sehingga menjadi jadi biochar atau yang dikenal masyarakat dengan nama arang tempurung.

“Jadi biochar ini diberikan ke pokok tanaman. Ini perlu dilakukan, karena Indonesia tidak punya sumber pupuk yang cukup. Seperti pospor. Sebagian besar impor. Pupuk anorganik KCL, kita impor juga dari Rusia dan Kanada. Kalau terjadi perang Rusia Ukraina, supply change terganggu, harga pupuk naik, yang menderita petani,” ungkap Erliza.

Dengan manfaat biochar hasil karbonisasi ini, perlu disosialisasikan sehingga petani “tidak marah” lagi kepada pemerintah karena harga pupuk naik lagi.

“Apalagi dengan kondisi rupiah yang melemah seperti sekarang, Ini salah satu upaya membantu para petani sawit. Karena sawit sumber devisa terbesar dari Indonesia,” terang Erliza pada kegiatan Workshop yang didukung oleh SBRC IPB University dengan dukungan BPDPKS dan APOLIN itu.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand), Dr. Ir. Indra Dwipa, MS mengatakan, sumbangan perkebunan sawit terhadap devisa Indonesia sangat besar di masa Covid-19, mencapai Rp300 triliun. “Jumlah ini sangat luar biasa karena bisa selamatkan Indonesia di masa Covid-19. Jadi sawit ini yang menyelamatkan perekonomian Indonesia,” ungkapnya.

Indra Dwipa menambahkan, yang menjadi kunci dari budidaya sawit adalah tanaman sawit butuh pemupukan. Kalau tidak dipupuk tidak menghasilkan tandan buah segar (TBS). Menurutnya, prospek antara petani dan pengusaha itu berbeda.

“Petani itu bagaimana TBS itu besar. Nilainya di situ. Dari perusahaan rendemennya tinggi, bisa capai 22 persen. Karena ada ditemukan alat yang menentukan rendemen itu, maka panen bisa meningkatkan rendemen bisa di atas 20 persen,” terangnya.

“Kalau bisa, ke depan petani didorong secara massif sehingga peningkatan petani dapat meningkat. Pengambil kebijakan sangat menentukan, sehingga bukan hanya pengusaha tapi petani terangkat ekonominya,” harapnya.

Sementara Perwakilan PT Bumitama Guna Jaya Agro, Dwi Diar mengungkapkan PT Bumitama Guna Jaya Agro merupakan perusahaan pertama yang sudah produksi biochar dalam skala pabrikasi.

“Setahun belakangan dilakukan penelitian melakukan pembuatan biochar secara konvesional dari tanah kosong. Hasilnya cukup baik, karena berhasil meningkatkan PH tanah,” terangnya.

Dengan kondisi pupuk langka saat ini, perusahaan PT Bumitama Guna Jaya Agro telah mengaplikasikan biochar. Selain menghemat pupuk, sifatnya dapat menahan air dan hara serta meningkatkan organisme.

Apalagi saat ini di Sumbar musim hujan cukup tinggi. Ketika kemarau bisa menahan dan menyimpan air, karena pori-pori tanah menjadi besar.

“Dengan mengunakan biochar, biaya produksi cukup sedikit peruntukannya dengan perluasan lahan yang kurang saat ini. Dengan karbonisasi, dalam lima tahun sekali semua areal akan meningkatkan karbon dan kesuburan tanah,” tambahnya.(rls)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

50 Orang Pelaku Ekraf Ikuti Skill Up Laboratorium Kemen Ekraf Peduli
Bajaj-Maxride Resmi Hadir di Kota Bukittinggi, Hadirkan Solusi Transportasi Modern dan Peluang Penghasilan Baru bagi Masyarakat
5 Alasan Memilih Logitech Flagship Store Blibli untuk Perangkat Teknologi Anda
JNE Raih Penghargaan CSR Awards 2026 Lewat Akselerasi Logistik Kemanusiaan
Teguhkan Komitmen Tanggung Jawab Sosial, JNE Sabet Penghargaan Indonesia CSR Brand Equity Awards 2026
DSI Resmi Menjadi BUMN, Dony Oskaria Umumkan Status Baru Perusahaan
Dony Oskaria: Danantara Andalkan Dividen BUMN, Bukan Jual Aset Negara
Ini 5 Laptop ASUS Zenbook Yang Enak Dipakai Kerja Ngebut
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:59 WIB

50 Orang Pelaku Ekraf Ikuti Skill Up Laboratorium Kemen Ekraf Peduli

Rabu, 24 Juni 2026 - 16:48 WIB

Bajaj-Maxride Resmi Hadir di Kota Bukittinggi, Hadirkan Solusi Transportasi Modern dan Peluang Penghasilan Baru bagi Masyarakat

Senin, 22 Juni 2026 - 21:40 WIB

5 Alasan Memilih Logitech Flagship Store Blibli untuk Perangkat Teknologi Anda

Senin, 8 Juni 2026 - 12:58 WIB

JNE Raih Penghargaan CSR Awards 2026 Lewat Akselerasi Logistik Kemanusiaan

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:04 WIB

Teguhkan Komitmen Tanggung Jawab Sosial, JNE Sabet Penghargaan Indonesia CSR Brand Equity Awards 2026

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB