Berkaca pada Perjalanan Abdullah bin Abdul Khadir Munsyi, Berkelana Sambil Nyastra

Penulis -

Jumat, 14 Oktober 2022 - 20:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nadiati Husna,

Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Andalas

Kebanyakan dari kita menyukai melakukan perjalanan, apalagi bagi yang memiliki jiwa petualangan. Kegiatan berpergian dan mengunjungi tempat-tempat yang baru sudah menjadi hobi bagi sebagian orang. Selain merasakan kenikmatan dalam perjalanan, orang-orang lebih ingin melepaskan penat dan kelelahan ketika melakukan pekerjaan harian yang berulang. Sering dari kita pada akhirnya melakukan jalan-jalan ke suatu tempat atau travelling untuk menyegarkan pikiran dan badan.

Melakukan perjalanan ternyata tidak hanya melakukan kegiatan penyegaran tubuh dan pikiran saja, ada banyak manfaat lainnya yang dapat kita peroleh dari melakukan sebuah perjalanan dan mengunjungi tempat yang baru. Selain pengalaman, kita akan merasakan banyak pelajaran dan makna-makna kehidupan dari setiap mengunjungi tempat yang asing yang tidak kita temui dari perjalanan-perjalanan sebelumnya.

Hal seperti ini yang biasanya menjadikan kegiatan travelling atau jalan-jalan meninggalkan kesenangan tersendiri setelah kita kembali pulang.
Akan ada banyak pengalaman dan pelajaran berharga dari setiap perjalanan. Suatu ide yang bagus untuk kita bisa mengabadikannya menjadi sebuah kenangan. Kebanyakan orang pasti membutuhkan alat atau sarana untuk mengingatnya. Kita bisa memotret tempat yang indah, merekam momen yang menarik, dan menuliskan pengalaman yang berharga.

Karya sastra tidak hanya dipandang sebagai karya yang bersifat mengikat pada sebuah konsep kepenulisan saja. Tulisan-tulisan sederhana yang berangkat dari pengalaman dan perjalanan juga bisa menjadikannya indah dan termasuk ke dalam ranah kesusasteraan karena mengandung suatu makna serta ada hal yang berusaha disampaikan penulis kepada pembaca di dalamnya. Salah satu dari itu kita sebut dengan karya sastra perjalanan.

Karya sastra perjalanan tercipta karena adanya suatu kesan atau impresi dari sebuah perjalanan yang dilakukan oleh seseorang. Kita sebagai manusia adalah makhkuk perasa. Butuh media atau sarana untuk mengekspresikan perasaan dan emosi yang kita rasakan. Salah satunya adalah dengan menulis. Hal ini lah yang mendorong terciptanya suatu karya sastra perjalanan yang berangkat dari pengalaman penulis.

Sejalan akan hal itu, kita bisa merujuk kepada bagaimana kisah salah seorang sastrawan Melayu yang dibesarkan di tengah budaya Melayu di Melaka. Ia bernama Abdullah bin Abdul Khadir Munsyi. Dalam salah satu naskah Melayu kuno ‘Perjalanan ke Makkah’ menceritakan bagaimana perjalanan dirinya pergi haji dari Singapura menuju Makkah. Jika kita pikirkan, perjalanan naik haji adalah suatu perjalanan sakral yang akan sangat berkesan dan meninggalkan kenangan di dalam hidup, mengingat pada zaman dahulu untuk berpergian ke luar kota saja bisa berhari-hari, apalagi ke luar negeri melewati berbagai negara dan benua. Pasti membutuhkan waktu yang sangat lama.

Abdullah tidak ingin menyia-nyiakan perjalanan berharganya dengan tidak meninggalkan sebuah kenangan berharga dari setiap perjalanan yang ia lakukan. Kegiatan menulis yang dilakukan Abdullah bin Abdul Khadir Munsyi adalah salah satu cara untuk kita bisa mengukir kenangan dengan sederhana dan menyenangkan. Selain sebagai media mengungkapkan perasaan, menulis juga bisa menjadi salah satu cara mencatat dan merekam sejarah. Banyak hal dan peristiwa yang terjadi selama Abdullah melakukan perjalanan ke Makkah yang ia abadikan ke dalam sebuah tulisan.

Alhasil tulisan-tulisannya tersebut menjadi sangat berguna bagi manusia yang hidup pada saat sekarang. Dengan tulisan itu kita bisa tahu bagaimana orang zaman dahulu ketika berpergian ke luar negeri. Dengan apa mereka ke sana, bagaimana mereka bisa sampai menginjakkan kaki di sana, dan masih banyak pertanyaan lainnya yang bisa memberikan jawaban terhadap tulisan dalam setiap perjalanannya.

Kegiatan menulis atau karya sastra perjalanan ini tidak hanya sekadar merekam setiap perjalanan melalui sebuah tulisan, tetapi juga bentuk kita merepresentasikan sebuah perasaan dan pikiran. Melatih perasaan untuk peka terhadap keadaan dan melatih otak untuk sadar akan peristiwa penting yang bisa kita abadikan. Pada akhirnya menulis bukan perihal kesukaan seseorang terhadap dunia kepenulisan. Namun, menulis juga tentang memenuhi kebutuhan dalam menjalani setiap aspek kehidupan di luar pembahasan kesusasteraan.(*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB