Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Berakhirnya Kejayaan Breaking News dan Stop Press

Dibaca : 685

Oleh : Abdullah Khusairi

Dosen Pengkajian Islam dan Komunikasi Massa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang

Breaking News akan dilakukan oleh sebuah stasiun televisi dan radio jika ada peristiwa besar dan penting yang harus diketahui oleh publik, saat itu juga. Breaking News hadir di tengah program reguler yang sedang berlangsung secara mendadak dihentikan. Penghentian itu diputuskan oleh top manajemen lembaga penyiaran tersebut, yang bisa saja direktur utama, direktur pemberitaan, pemimpin redaksi, direktur program, dll. Keputusan menghentikan program reguler berdampak pada kekacauan sistem, untung rugi lembaga pers, tetapi harus dilakukan agar publik mendapatkan informasi penting tersebut.

Keputusan itu juga berdampak kerja sama mitra periklanan di program reguler, durasi tayang, serta hal-hal yang telah rutin dilakukan secara sistemik dalam sebuah lembaga penyiaran. Tetapi dampak positif bagi lembaga penyiaran, akan mendapatkan tingkat “trust public” yang menjadi sandaran penting bagi eksistensi lembaga penyiaran di masa depan. Mendapat tempat di hati publik merupakan hal yang harus diperjuangkan bagi lembaga penyiaran. Trust itu pula yang akan menggantikan kekecewaan public dan mitra iklan bila mana ada yang kecewa memotong acara yang sedang berlangsung tadi.

Hal serupa juga terjadi pada media cetak. Bila ada tulisan Stop Press, berarti telah terjadi pemberhentian putaran mesin cetak di tengah berlangsungnya proses penerbitan. Pemberhentian tersebut dilanjutkan menggantikan plat pada mesin cetak dengan yang baru, yang berisi berita terbaru. Berita terbaru tersebut telah menggeser berita sebelumnya. Bisa jadi dibuang, dialihkan ke halaman lain, dst.

Penghentian itu punya dampak dengan rentetan panjang mata rantai sirkulasi pemberitaan. Terlambatnya proses cetak, terlambatnya koran sampai ke titik sebaran terjauh, serta tim produksi media cetak akan mengeluarkan ongkos karena sudah menggantikan flat satu kali dalam semalam. Atas dampak tersebut, keputusan atas Stop Press hanya berlaku untuk peristiwa penting menurut prinsip-prinsip jurnalistik, nilai berita, kebijakan redaksi, sertai lembaga pers bersangkutan.

Begitulah, ketika media massa (koran, radio, televisi) sedang berjaya. Jika ada sebuah peristiwa tak terduga setelah deadline kerja redaksi berakhir namun ada berita penting tiba. Mau tak mau, pemimpin redaksi akan menyampaikan keadaan genting, berpacu dengan waktu, agar ada keputusan untuk Breaking News – Stop Press harus dilakukan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Pada film-film produksi 70-90an, sering sekali digambarkan suasana redaksi yang gaduh dan sibuk karena ada peristiwa besar. Biasanya pemimpin redaksinya sedang marah, tegang, dan menelepon sambil berdiri.

Kini, Breaking News pada televisi berita maupun televisi umum sudah menjadi nama program televisi reguler, bukan lagi sebuah kegiatan tiba-tiba dalam menghadapi peristiwa penting. Breaking News sudah disiapkan dengan mensiasati jeda program penyiaran di awal-awal jam, dengan mengambil spot 5-10 menit, setiap jam. Sungguhpun tak ada peristiwa besar, materi Breaking News sudah disiapkan. Semacam program pendukung sebelum melangkah ke program reguler lainnya. Perkembangan Breaking News tak lagi mengejutkan publik, jauh dari substansi dan fungsi sebelumnya.

Seiring waktu, perkembangan teknologi yang kian canggih, hadirnya media online, media sosial, Breaking News dan Stop Press sudah jarang dilakukan. Setiap ada berita besar, sudah ada siasat agar tidak melakukannya. Seperti tak perlunya pramugari menugaskan penumpang untuk membuka pintu darurat. Setiap berita peristiwa besar bisa masuk ke program reguler tanpa perlu menghentikan program-program lain yang otonom “dikuasai” oleh para produsernya.

Begitu juga dengan lembaga pers di media cetak. Sudah jarang peristiwa menggantikan flat yang sudah bergulung di mesin cetak. Itu rugi sekali perusahaan pers dibuatnya. Kini disiasati jika ada peristiwa penting yang harus diketahui khalayak, lembaga pers memuat berita tersebut versi online. Inilah siasat top manajemen surat kabar. Versi cetak akan menyusul memuat pada terbitan lusa dengan memberitakan sisi lain yang belum tergarap oleh pemberitaan sebelumnya pada versi online.

Kecepatan sistem teknologi informasi secara tidak sadar telah menggeser peran besar Breaking News dan Stop Press sebagai pintu darurat bagai awak redaksi. Bisa jadi tak banyak generasi baru yang kini bekerja di media tahu sifat, fungsi dan memahami kejayaan Breaking News dan Stop Press. Sebab teknologi informasi yang cepat, tepat, tangkas, telah menghapus secara pelan-pelan peran tersebut. Generasi baru hanya bisa mengenal dua kegiatan ini sebagai sebuah sejarah, seperti sejarah huruf-huruf kecil dari timah yang susun jadi tulisan.

Peran dan fungsi Breaking News dan Stop Press telah bergeser seiring waktu. Sebab kita sudah masuk era banjir informasi, semua berita berlomba-lomba diproduksi seakan-akan penting dan maha penting. Saking pentingnya, polesan berita lebih banyak dari pada substansi berita yang disampaikan. Karena semua merasa penting, akhirnya banyak, berkerumun, hanya yang sangat dan lebih pentinglah yang bisa menonjol.

Televisi berita dan media online juga berperan melibas kejayaan Breaking News dan Stop Press. Ditambah lagi dengan fasilitas Siaran Langsung (live) di media sosial, kanal youtube.com, membuat kecepatan tiada tara setiap informasi penting untuk publik. Berbeda dengan Breaking News dan Stop Press hanya bisa berjaya dalam keadaan kecepatan informasi yang masih lamban karena teknologi pada waktu itu belum memadai.

Breaking News dan Stop Press sangat berjaya ketika sistem percetakan masih serba manual. Kini mesin telah serba digital, membuat informasi bisa disampaikan secara cepat. Lalu keduanya menjadi nama rubrik di media cetak dan nama program di media elektronik. Breaking News setiap jam di televisi berita kadang-kadang tidaklah senilai dengan maksud dan tujuan awal namanya. Nilai berita biasa-biasa saja bisa jadi Breaking News, dipaksakan, sehingga menurunkan nilai keterkejutan publik atas kehadiran berita. Sementara itu Stop Press, juga sudah jarang dilakukan!

Sejarah telah mengubur dua kegiatan yang pernah jaya pada masanya. Pegiat komunikasi massa, pekerja media, jurnalis, awak media, patut mengetahui, mengerti, dan menghargai sebagai “model pintu darurat” bagi lembaga pers dalam meningkahi sebuah peristiwa besar. (*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top