Begini Misi Samawe Adventure dan Komunitas Get Plastic Atasi Sampah Plastik

Penulis -

Senin, 26 April 2021 - 23:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Prokabar – Jelang ekspedisi pendakian 30 gunung di Indonesia, Samawe Adventure kembali mendapat dukungan. Setelah Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno dan sederet musisi, ekspedisi ini mendapat dukungan dari komunitas Get Plastic.

Sebuah komunitas pelestari lingkungan yang berasal dari Bali ini tertarik dengan kegiatan Samawe Adventure. Bukan hanya sekedar mendaki gunung dan mengabadikan sumber kekayaan budaya sekitar, tim ini juga sekaligus melestarikan lingkungan terutama masalah sampah plastik.

“Jika di media sosial menggambarkan keindahan gunungnya saja, tapi datanglah ke sana. Begitu banyak sampah plastik yang ditinggalkan. Miris sekali karena kurangnya kesadaran dari pengunjung yang meninggalkan sampah terutama plastik di sana,” sebut Awe, founder Samawe Adventure di acara ‘Kita Dukung Program Jangan Mudik’ di Jalan Kerinci, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Misi inilah yang kemudian ‘ditangkap’ komunitas Get Plastic untuk membantu menghentikan polusi tanah dan air yang berasal dari mikroplastik.

“Get Plastic memiliki reaktor yang mampu mengubah plastik zero waste, menjadi bahan bakar bensin, solar maupun minyak tanah,” jelas Handayani, founder Get Plastic.

Samawe Adventure dan Get Plastic sepakat bekerja sama untuk mengedukasi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung, agar peduli pada sampah plastik dan mengolahnya.

“Dari pada jadi sampah selamanya, lebih baik dijadikan benda-benda benilai ekonomi, seperti tas, dompet, vas bunga. Bahkan, sampah plastik dapat diubah menjadi bahan bakar,” ujar Awe.

Ia menyayangkan perilaku manusia telah menjadikan masalah besar di kawasan gunung, yakni sampah plastik yang bertebaran, terutama botol bekas air minum yang ditinggalkan oleh para pendaki.

“Yang namanya konservasi tidak luput dari sampah. Para pendaki seringkali membuang botol bekas wadah air minum secara sembarangan. Tindakan ini mengakibatkan rusaknya kelestarian gunung itu sendiri,” jelasnya.

Harry ‘Koko’ Santoso selaku penasehat Komunitas Samawe, menekankan perlunya menjaga kebersihan gunung dari polusi sampah, utamanya plastik. Hal ini erat kaitannya dengan gunung yang merupakan sumber mata air, sekaligus sumber kehidupan.

“Kalau kita tidak bisa mengelola air dengan baik, pada gilirannya ketahanan bangsa ini pada masa mendatang akan sulit. Untuk merawat air, maka yang utama adalah menjaga gunung agar bebas dari polusi sampah plastik,” pungkas Harry ‘Koko’ Santoso. (beb)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rektor UIN Bukittinggi Prof. Silfia Hanani : ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menag RI
Hujan Abu Vulkanik Gunung Merapi Guyur Bukittinggi dan Agam pada Malam Hari
Pemko Padang Wajibkan Warga Pilah Sampah Rumah Tangga Mulai 2027
Sungai Tumayo Kembali Meluap, Ratusan Rumah Warga Terancam Banjir
Polda Sumbar Gelar Turnamen Mobile Legends, Jadi Ajang Atlet Esports Menuju Kapolri Cup
Merasa Dilecehkan Kadis, Staf Disparporabud Pasaman Lapor Polisi
Hasil 32 Besar Piala Dunia 2026; Kalah Adu Penalti dari Paraguay, Jerman Angkat Koper
Si Jago Merah Mengamuk Dua Unit Rumah Warga Lubuk Sikaping Tinggal Abu

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 14:35 WIB

Rektor UIN Bukittinggi Prof. Silfia Hanani : ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menag RI

Senin, 28 September 2026 - 09:52 WIB

Hujan Abu Vulkanik Gunung Merapi Guyur Bukittinggi dan Agam pada Malam Hari

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:51 WIB

Pemko Padang Wajibkan Warga Pilah Sampah Rumah Tangga Mulai 2027

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:14 WIB

Sungai Tumayo Kembali Meluap, Ratusan Rumah Warga Terancam Banjir

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:48 WIB

Polda Sumbar Gelar Turnamen Mobile Legends, Jadi Ajang Atlet Esports Menuju Kapolri Cup

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB