Awas! Tagar dan Viral Jadi Jembatan Arus Revolusi

Penulis -

Minggu, 14 Juni 2020 - 15:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Abdullah Khusairi

Dosen Pengkajian Islam dan Komunikasi Massa UIN Imam Bonjol Padang

“Tujuh tahun jadi Jurnalis Pengadilan, rasanya cukup untuk menolak ajakan debat kelompok yang lantang berkoar soal keadilan, yang seolah sudah tamat di fase penuntutan. Mereka yang bukan murni bersuara, mereka yang seolah sedang berjuang, seolah jadi bagian dalam menyuarakan keadilan. Padahal saya tahu, sesungguhnya mereka tak lagi menyuarakan keadilan seperti yang lain, tapi sedang menyalurkan kebenciannya lewat saluran kasus, membalaskan dendam politiknya yang masih pekat, walau Pemilu telah lebih setahun berlalu.”

Kutipan dari akun Bhenz Maharajo ini patut diulas, agar tidak terbawa arus wacana yang sedang dikembangkan melalui beragam arus informasi agar bisa meraup simpati publik. Padanannya, agar menjaga kewarasan dalam berpikir dan tidak larut dalam model berpikir dengan kebencian yang akut, yang akhir-akhir ini memang digandrungi dan tanpa disadari publik.

Berulangkali, saya mengungkapkan soal arus wacana publik yang dimainkan kelompok berkepentingan melalui kekuatan tagar dan viral. Beberapa hasil penelitian menyebutkan, peran media sosial sangatlah besar sebagai wahana menggulirkan revolusi dan demonstrasi besar-besaran guna mengguling kursi kekuasaan atau tidak mencederai tatatanan. Arab Spring disebut sebagai “The First Social Media Revolution” yang dimulai dari Tunisia hingga merambat ke seluruh jazirah. Termasuk di dalam itu, runtuhnya kuasa Hosni Mubarak di Mesir.

Di Amerika dan Thailand juga mengalami hal yang sama, ketika ketidakadilan terasa menusuk batin publik. Publik marah, melalui tagar dan viral akan memacu simpati dalam beberapa menit saja hingga berhari-hari. Jika berhasil tagar dan viral itu meraih simpati publik, momentum dan quantum meledakkan arus massa. Amerika baru saja mengalami kejadian berulang dengan isu rasis, beberapa tahun lalu Thailand juga berhari-hari massa berkerumun, mendesak kekuasaan untuk berubah. Junta militer harus bekerja keras.

Di Indonesia, Gerakan Bela Islam 212 yang fenomenal juga dimulai dari tagar dan viral di media sosial. Jurnal Maarif Institut Volume 11 No. 2 Desember 2016, secara menyeluruh menurunkan artikel soal Gerakan Bela Islam 212 sebagai sebuah fenomena penting abad ini. Termasuk kehadiran dan dukungan media sosial dalam mengaduk emosi massa diaduk di media sosial dan diikuti media massa.

Galibnya pisau bermata dua, seluruh kanal informasi sangat tergantung siapa di belakangnya (behind the gun). Begitu banyak kelebihan dan kehebatan media sosial yang tak diduga sebelumnya. Kuasa media massa yang sebelumnya sangat diagungkan sebagai kekuatan dalam memengaruhi publik kini tak lagi sendiri. Media sosial kini tegak menjadi kuasa baru sebagai alat perjuangan sipil. Sungguhpun begitu, masih banyak kelemahan dari media sosial. Salah satunya, ketidakjujuran di dalamnya. Perlu verifikasi berkali-kali, perlu kerja keras agar mendapatkan kebenaran yang bisa berterima akal sehat.

Ini contoh baik, ketika sebuah film sangat pendek pramusaji menggratiskan makanan gratis kepada dua orang petugas kebakaran yang hendak rehat ngopi, ia mendapatkan dampak yang luar biasa setelah itu. Apa yang dilakukannya kepada dua petugas itu viral oleh petugas dan teman-teman kantornya. Pramusaji itu mendapat imbal dari kerja kejujuran dan simpati melebihi kesederhanaannya menggratiskan makanan kepada dua petugas itu. Catatan pentingnya, ketika ada kejujuran dan emosi massa menemukan momentum, maka quantum isu pecah menjadi wacana.

Beberapa hari terakhir, ini pula yang dicoba agar simpati didapatkan dari publik. Rasa keadilan publik terhadap seseorang terenggut oleh keputusan yang dianggap begitu tidak adil. Ketukan akhir palu hakim memang tidak bisa digugat, itulah keputusan yang harus dihormati. Atas kehormatan profesi yang telah disandangnya, atas fakta hukum yang didapatkannya, tak hendak dipengaruhi hal-hal di luar itu, ia akan meyakini dirinya untuk memutuskan sebuah perkara. Keadilan memang nisbi, tidak semua orang sama. Relatif. Sebab telah ada perspektif yang hadir ketika melihat memberi pendapat terhadap sebuah keputusan pengadilan.

Ada banyak perdebatan soal ini di media sosial termasuk di bilik percakapan kelompok (WAG) yang tak kalah ebohnya. Semua berkomentar menurut standar wawasan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Seperti ingin meruntuhkan tatanan dan mencoba meraih simpati untuk itu. Sayangnya, secara tidak langsung ingin ingin menegasikan kinerja hakim di meja hijau. Kuasa publik melalui media sosial mencoba merangsek kuasa pengadilan, begitulah keadaan yang terjadi. Jika itu didapatkan, maka akan merembet kepada politik kekuasaan. Melompat dari kuasa pengadilan hingga langsung ke politik kekuasaan, inilah yang hendak dipaksakan.

Keadilan memang perlu diperjuangkan, sebab kekuasaan di mana pun itu, punya jalan sendiri dalam menelaah keadilan tersebut. Jika publik bersetuju dengan itu, maka akan dipuji, meskipun sangat jarang. Jika tidak maka akan ebohlah jagat media sosial. Kekuasaan sesuai lakunya, cenderung disalahgunakan tetapi ia dibutuhkan (power is evil but is necessary) untuk sebuah tatanan. Walaupun begitu, masih banyak yang menjalankannya secara rata-rata air. Baik tidak terlalu, buruk juga belum. Namun bisa meraup keuntungan besar dari sebuah kekuasaan sekecil apapun itu didudukinya.

Kekuasaan memang perlu diawasi, itu prinsip kesetaraan dalam demokrasi. Kekuasaan absolut harus dilawan. Kini, peran perlawanan itu melalui media sosial, diikuti media massa. Persoalannya adalah, belum ada momentum yang menciptakan quantum melahirkan musuh bersama (common enemy). Semoga itu tidak terjadi, yang justru memerburuk keadaan. Jika pun itu terjadi karena memang kekuasaan di segala lini telah menzalimi batin publik secara menyeluruh. Tugas negara, memastikan kekuasaan di semua lini, eksekutif, legislatif, yudikatif, menjalankan tatanan sebagai amanat sesuai dengan batin publik.

Kekuasaan yang buruk dimanapun dan di level apapun itu, akan berujung buruk jika tidak segera diubah. Buruk bagi yang dipimpin, buruk bagi yang memimpin. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebab semua sepakat atas ketidakkeadilan boleh terjadi kepada siapapun. Karenanya keadilan terus diperjuangkan dengan perlawanan masif melalui berbagai kalan, salah satunya, media sosial bagi orang-orang yang terzalimi oleh tangan-tangan kekuasaan.

Sejauh ini, politik memang menyaru dan menyusup ke batin publik dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat. Tunggu dulu, sejauh masih belum ada kebenaran dan kejujuran, didukung momentum yang menciptakan quantum, dapat diduga itu belum akan terjadi. Sebuah gerakan perlawanan membutuhkan misi kebenaran dan kejujuran hingga revolusi sosial bisa terjadi dan didukung penuh oleh rakyat. Pada titik inilah, tagar dan viral nantinya bisa jadi alat perjuangan kebenaran.

Ajakan Bhenz Maharajo, benar. Kita tak boleh lancang dan ikut-ikutan jika tidak mengerti dengan persoalan sesungguhnya. Jangan pernah mudah terperdaya satu dua informasi yang rumpang dan hanyut karenanya. Bersikap kritis dan jaga jarak (distancing) terhadap setiap informasi yang datang sebagai reaksi dari sebuah aksi. Informasi yang aktif datang, pastilah ada maksud di baliknya. Periksalah dengan hati-hati, gadget memang milik pribadi tetapi informasi di dalamnya bisa menjerumuskan jika tidak bijak menggunakannya. []

 

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB