Padang, Prokabar.com – Sosok Kartini tergambar dalam perjuangan Aprila Wulandari.
Aprila Wulandari berprofesi sebagai teknisi elektromedis di Rumah Sakit Semen Padang (SPH).
Sampai saat ini sudah tiga tahun dia menjalani profesi itu di SPH.
Bahkan dia merupakan satu-satunya teknisi perempuan di rumah sakit tersebut.
Wulan sapaan akrab Aprila Wulandari ccccccccccccccccccmenuturkan, perempuan jarang melakoni profesionya itu.
Memang, profesi teknisi mayoritas dilakoni laki-laki.
Baca Juga:
- Gubernur Ajak Masyarakat Berilmu, Beriman Kejar Kebahagia Dunia Akhirat
- Triwulan I/2021, Semen Padang Catatkan Peningkatan Ekspor Semen dan Klinker
- Wagub Hadiri Vaksin di Semen Padang Pekan Depan
Wulan memang tak pernah memimpikan menjadi seorang elektromedik.
Tapi takdir membawanya menjalani profesi elektromedik hingga saat ini.
“Dulu saya tidak memiliki cita-cita menjadi teknisi alat medik di Rumah Sakit.”
“Setelah wisuda dan masuk dunia kerja hal itu menjadi berbeda.”
“Saya merasa lebih tertantang melakukan hal baru yang sebelumnya belum pernah saya lakukan sampai saya melakoni profesi ini,” tutur Wulan.
Pendidikan Aprilia Wulandari
Wulan merupakan alumni Poltekes Siteba Padang pada tahun 2015.
Di sana, Wulan mengambil jurusan Teknik Elektromedik yang kini mengantarkannya sebagai satu-satunya Elektromedik perempuan di SPH.
Sejak masuk kuliah, Wulan mencari tahu apa saja tentang elektromedik dan memikirkan rencananya setelah wisuda.
Setelah tahu tentang Elektromedik, Wulan merasa memiliki peluang yang cukup besar untuk dunia kerja.
Menurutnya Elektromedi tidak hanya bekerja di Rumah Sakit, bahkan keilmuannya bisa masuk ke perusahaan lain.
“Kenapa saya mau menjadi elektromedik? Ya karena saya merasa profesi itu dapat menjadi bagian dari masa depan saya.”
“Tidak harus menjadi persoalan karena biasanya mayoritas pria. Jadi saya pun ingin menjadi wanita dengan profesi elektromedik,” katanya.
Selama menjadi Elektromedik peremuan, Wulan tak sekalipun mendapatkan pengalaman terkait gender.
Baca Juga Milenialisme.com
- Menjaga Komitmen Moral Selama Ramadhan
- Soeharto Bangun 999 Masjid dari Sedekah Umat Islam
- Lantunan Indah Para Gadis di Malam Pertama Ramadhan
Perlakuan yang selama ini ada dari rekan seprefoesinya sangat baik dan menyenangkan.
Bahkan ada juga sebagai dari pria rekan seprofesinya yang bangga melihat seorang perempuan di bidang Elektromedik.
Di sinilah minat dari pria seprofesinya tumbuh untuk membawa adik perempuan mereka ke jurusan yang sama dengan Wulan.
Perempuan 27 tahun tersebut bercerita, ada berbagai suka dan duka selama menjalani profesi sebagai Elektromedik.
Namun, Wulan menganggap hal itu wajar karena pria dan wanita memiliki cara berpikir, emosional dan lainnya yang berbeda.
Baginya, semua hal itu kembali kepada pribadi masing-masing yang menjalaninya.
“Motivasi saya, walau bekerja di lingkungan yang mayoritas laki-laki. Saya tidak menjadikan itu halangan. Selagi saling menghargai dan punya potensi kenapa tidak?” tegas Wulan.
Hari Kartini bagi Aprilia Wulandari
Hari Kartini, Wulan sangat bangga menjadi perempuan yang memiliki profesio Elektromedik.
Baginya, tidak semua orang bisa seperti dirinya yang harus menyesuaikan diri di lingkungan orang yang tidak begitu banyak wanita.
“Seperti yang kita ketahui, ibu Kartini sendiri dalam sejarah, beliau yang berperan penting dalam mempelopori kesetaraan pria dan perempuan di Indonesia.”
“Jadi walaupun bekerja dengan gender lebih dominan pria, saya akan berusaha tetap melakukan yang terbaik selagi bisa,” terangnya.
Wulan berpesan pada perempuan atau Kartini lainnya di tempat yang berbeda agar tidak perlu merasa takut untuk mencoba hal baru terutama di bidang pendidikan atau profesi yang dominan pria.
Pria atau wanita, berhak untuk mendapatkan berbagai hal yang diinginkan untuk menjadi masa depannya.
“Untuk seluruh srikandi di seluruh Indonesia, jangan takut akan perbedaan yang menjadi momok untuk kalian di masa depan.”
“Karena masa depan sendiri itu ada di tangan kalian, bukan di tangan orang lain.”
“Jika profesi dan tempat lingkungan kalian bekerja mungkin lebih dominan pria, maka ingatlah bahwa saling menghargai itu penting.”
“Dengan begitu orang lain pun juga menghargai kalian walaupun berbeda gender,” tuturnya. (rls/eym)
















