Oleh: Adinda Ayu Safitri
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
“Pertanian bukan hanya pekerjaan, tetapi panggilan untuk merawat dan melindungi tanah yang memberi kita kehidupan.”
Wendell Berry
Satu butir beras mungkin tak berarti apa-apa bagi mereka yang kenyang, namun bisa menjadi penentu hidup bagi yang kelaparan. Sayangnya, lahan subur warisan leluhur kini kian tergerus. Apakah semua ini terjadi hanya karena gengsi? Padahal Indonesia dikenal sebagai negara agraris, dengan sumber daya pertanian yang melimpah. Salah satu contohnya adalah Kota Solok di Sumatera Barat yang dijuluki sebagai “Kota Beras” karena kualitas hasil panennya yang unggul.
Namun ironisnya, Indonesia masih harus mengimpor beras dari negara lain seperti Thailand dan Vietnam. Salah satu penyebab utamanya adalah semakin menyusutnya lahan pertanian. Bahkan, lebih dari 650 ribu hektare sawah telah hilang dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ini diperparah oleh rendahnya partisipasi generasi muda, khususnya Gen Z, dalam dunia pertanian. Banyak dari mereka lebih memilih bekerja di sektor perkantoran yang dianggap lebih modern dan bergengsi.
Gengsi Dulu, Resesi Kemudian
Pernyataan “gengsi dulu, resesi kemudian” bukan sekadar slogan, melainkan peringatan serius. Generasi muda saat ini cenderung berlomba menampilkan gaya hidup modern demi pengakuan sosial, namun abai terhadap sektor vital yang menopang kehidupan: pertanian. Profesi petani dianggap kurang prestisius, padahal di banyak negara maju, petani justru dipandang mulia dan memiliki prospek ekonomi yang cerah.
Hanya sekitar 8% anak muda di bawah usia 35 tahun yang terlibat di sektor pertanian. Sisanya lebih memilih pekerjaan yang dianggap lebih bersih, nyaman, dan menjanjikan secara finansial. Sektor pertanian, dengan segala tantangannya, masih dipandang sebagai pekerjaan “kotor”, penuh lumpur, dan identik dengan kemiskinan. Padahal, di balik itu semua terdapat potensi luar biasa yang belum tergali secara maksimal.
Mengurai Akar Masalah: Mengapa Anak Muda Menjauh?
Fenomena ini tidak lepas dari dua penyebab utama: faktor internal dan faktor eksternal. Dari sisi internal, banyak anak muda merasa malu atau enggan terjun ke dunia pertanian. Mereka tumbuh dengan anggapan bahwa bertani adalah pekerjaan kelas bawah, jauh dari kata sukses. Pandangan ini terbentuk sejak dini, diperkuat oleh minimnya representasi positif petani dalam media dan pendidikan.
Padahal, pertanian modern telah menawarkan banyak solusi inovatif seperti metode hidroponik, vertikultur, hingga pertanian presisi berbasis teknologi. Cara-cara ini lebih bersih, efisien, dan tidak kalah prestisius dari profesi lain. Di sinilah pentingnya perubahan pola pikir untuk menghapus stigma negatif terhadap dunia pertanian.
Faktor eksternal juga tak kalah besar pengaruhnya. Minimnya dukungan keluarga, sulitnya akses terhadap lahan, kurangnya pelatihan pertanian di sekolah, serta kebijakan yang belum berpihak pada petani muda turut memperparah keadaan. Selain itu, narasi media yang jarang mengangkat kisah sukses petani muda membuat pertanian tidak terlihat menjanjikan di mata generasi baru.
Strategi dan Solusi: Menyemai Harapan Baru
Regenerasi petani harus menjadi prioritas nasional. Salah satu langkah strategisnya adalah mendorong pembentukan kelembagaan dan program khusus petani muda di berbagai daerah. Beberapa wilayah telah memulai inisiatif ini, meski belum secara merata. Pemerintah daerah dan pusat perlu bersinergi untuk memperkuat kelembagaan, insentif, dan pelatihan yang melibatkan anak muda.
Edukasi sejak dini juga sangat penting. Program pertanian di sekolah, ekstrakurikuler bertani, hingga kunjungan ke lahan pertanian bisa membuka wawasan anak muda. Di samping itu, penerapan teknologi mutakhir seperti traktor modern, drone pertanian, dan mesin penanam otomatis bisa membuat dunia pertanian terlihat lebih menarik dan relevan dengan gaya hidup generasi digital.
Penting pula memanfaatkan media sosial sebagai alat promosi pertanian modern. Kisah sukses petani muda dengan omset puluhan juta per bulan perlu ditampilkan secara masif untuk mengubah narasi. Pertanian bukan sekadar profesi, tetapi peluang usaha dengan masa depan cerah.
Penutup: Dari Gengsi ke Generasi Tangguh
Sudah saatnya bangsa ini berhenti memandang petani sebagai profesi terbelakang. Jika lahan pertanian terus ditinggalkan, ketahanan pangan nasional berada di ambang krisis. Dengan pendekatan yang tepat, pertanian bisa kembali menjadi pilihan karier yang membanggakan, bukan karena terpaksa.
Regenerasi petani adalah investasi jangka panjang. Tanpa mereka, dari mana datangnya nasi di piring kita? Maka dari itu, mari bersama-sama mengubah persepsi, membuka peluang, dan menyemai masa depan pertanian Indonesia yang lebih cerah.
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















