Ini Story Kanak-kanak. Kisahmu Dulu?Apa kisah lebaran di Ranah Minang? Banyak, secukup tradisi yang ada. Kita bilang apa yang teringat saja ya.
1. Kanak-kanak
Pernah masa kecil dulu dan Anda tak punya baju rirayo? Pasti ada, itulah kisah paling pilu, mungkin, dalam hidupmu. Baju baju, celana baru, sepau baru, itulah idaman anak-anak, dengan uang jajan di saku. Kemudian hilir mudik kampung sepenatnya.
Kita tak peduli darimana orang tua mendapatkan uang. Jika Anda dari keluarga berada, maka itu urusan sepela. Jika dari keluarga miskin, bias ke kening air mata ortu-mu dibuatnya. Itu tak pernah ia sampaikan pada kaliankan?
Paling kalua bandel, pusek kena pilin. Tak keras-keras amat. Intinya anak kecil harus serba baru. Tak mau tahu pula zakat fitrah sudah dibayar orang tua atau belum. Enaknya dunia anak-anak dan itu terasa benar saat lebaran.
Bersama teman “sejawat,” anak-anak akan bercerita soal lebaran yang akan tiba. Puasa atau tidak, umpang atau genap, soal lain.Mengalir rasa bahagia, berjanji akan ke sana dna ke sini. Berjanji membeli ini dan itu.
Anda suka kue, kue bolu, atau apa saja, asal kue. Juga kacang goreng. Ketupat jangan disebut lagi, kalua ada.
Pada pagi buta, itu Anda telah bangun. Mandi, berdandan, bersolek, lalu pergi shalat Idul Firi. Shalatnya tak penting benar, juga tidak kutbahnya. Yang penting, salam-salaman itu. Lalu pulang, kemudian bermain. Konvoi hilir mudik seharian. Siang atau sore sudah kelelahan, tidur. Senja mandi, lalu sampai malam main lagi.
Anak-anak di Ranah Minang, seharian lebaran itu, adalah bunga kehidupan. Merekalah yang hilir mudik di jalan desa. Mereka yang bermain. Mereka pula yang menjadi makhota rumah tangga hari itu. Saku penuh uang, uang dibelanjakan.

Kalau di padang, pergi menambang dari rumah ke rumah, dapat uang jajan, dikumpul lalu nanti dibelikan sesuatu.
Anda punya kisah, silahkan tulis di komentar. Pasti tak panjang-panjang, karena sudah lupa-lupa ingat. Hayo. (nrs)
















