Oleh: Siti Awal Syaravina (Mahasiswa Sastra Indonesia)
Agam, Prokabar — Bagi orang Minangkabau tentunya tidak asing lagi dengan istilah “Batagak Penghulu” yakni upacara untuk mengangkat seorang penghulu (Kepala Adat atau Pimpinan suatu suku atau kaum) yang baru. Seorang Penghulu Suku mempunyai anggota kepengurusan yang akan dipimpinnya disetiap suku masing-masing.
Istilah itu disebut dengan “Urang nan limo jenih” atau Orang Nan Lima Jenis yaitu Panghulu Suku, Mamak Pusako Urang nan arih bijaksana (orang yang arif bijaksana), Imam, Katik dan Bundo Kanduang.
Penghulu suku ibarat:
“Kayu Gadang di Tangah Koto,
Urek nan cukam ka bumi,
Pucuak nan cengwang ka langik,
Batang tampek rang basanda,
Urek tampek rang baselo,
Dahan tampek rang bagantuang,
Daun jo rantiang tampek balinduangan,
Dari paneh jo kahujanan.”
Bahasa Indonesia:
Kayu Besar di Tengah Desa,
Urat yang cukam ke bumi,
Pucuk yang menjulang ke atas,
Batang tempat bersandar,
Urat tempat duduk bersila,
Dahan tempat bergantung,
Daun dan ranting tempat berlindung,
Dari panas dan kehujanan.
Untuk Mamak Pusako Memiliki kiasan :
“Tau diombak nan kamaampeh,
Tau diangin nan basiru,
Pandai manimbang samo barek,
Tau di bulang nan bakicuah,
Alun bakilek lah bakalam,
Takilek ikan di lauik,
Jaleh jantan batinonyo,
Maminteh sabalun anyuik,
Mancari sabalun ilang.
Bahasa Indonesia:
Tahu dengan ombak yang menghempas, Tahu dengan angin yang berseru,
Pandai menimbang sama berat,
Tahu dengan tingkah laku yang tidak baik,
Belum terjadi sudah tampak,
Terlihat ikan di laut,
Jelas jantan dan betina,
Memintas sebelum hanyut,
Mencari sebelum hilang.
Lain pula dengan seorang Imam dalam kaumnya. Seperti diibaratkan :
“Kok bakato-kato malereang,
Sabarih bapantang lupo,
Mamakaikan sifat Nan Ampek,
Satiok garak manantukan,
Kok lakuang nan ka Maninjau,
Kalam nan ka manyigi.”
Bahasa Indonesia:
Kalau berkata-kata melereng/ berbasa-basi,
Sebaris berpantang lupa,
Memakai sifat Nan Empat,
Setiap gerak menentukan,
Kalau hilang yang akan mencari,
Kalau kurang mengerti diberi petunjuk).
Berbeda pula dengan seorang Katik dalam kaum persukuannya. Ia merupakan :
“Suluah bendang dalam nagari,
Palito tarang dalam kampuang,
Tagak nan rintang jo pituah,
Duduaknyo bacamin kitab,
Ka unduang-unduang ka Madinah,
Ka payuang panji ka sarugo.”
Bahasa Indonesia:
Penerang dalam nagari,
Pelita terang dalam kampung,
Berdiri dengan nasehat,
Duduknya bercermin kitab,
Untuk lindungan ke Madinah,
Untuk payung panji ke surga.
Sementara itu, Bundo Kanduang merupakan :
“Limpapeh Rumah nan Gadang,
Amban puruik pagangan kunci,
Kok auih ka mintak aia,
Kok litak ka mintak nasi,
Ibaraik bungo di halaman,
Sumarak anjuang Rumah nan Gadang.”
Bahasa Indonesia:
Penghuni Rumah Gadang,
Penyimpan harta pusaka,
Kalau haus tempat minta air,
Kalau lapar tempat minta nasi,
Ibarat bunga di halaman,
Kebanggaan rumah gadang.
Sesuai dengan sejarah adat Minangkabau, asal-usul Batagak Penghulu telah dimulai sejak zaman kerajaan Minangkabau. Sesuai dengan pepatah:
“Pulai nan bapangkek naiak,
Maninggakan rueh dengan buku,
Gajah mati maninggakan gadiang,
Harimau mati maninggakan balang,
Manusia mati maninggakan jaso.”
Bahasa Indonesia:
Pulai berpangkat naik,
Meninggalkan ruas dan buku,
Gajah mati meninggalkan gading,
Harimau mati meninggalkan belang,
Manusia mati meninggalkan jasanya.
Dari pepatah tersebut dapat disimpulkan, sejarah Batagak Penghulu telah menjadi turun-temurun dan telah terbagi-bagi menurut atau sesuai Adat Salingka Nagari masing-masing. Sesuai dengan pepatah “Dimano titiak palito, dibaliak telong nan batali, darimano turunnyo niniak, dari lereang gunuang barapi.” Itulah yang disebut dengan “Samaso bumi basentak naiak, dan langik basentak turun.” Maka terbagilah daerah Tanah Pasumpahan Minangkabau ke dalam Tiga Luhak yaitu Luhak Agam, Luhak Tanah Datar dan Luhak Limapuluh Kota. Selanjutnya, Sistem Batagak Penghulu disesuaikan dengan adat dan ketentuan dari masing-masing Luhak.
Secara umum jenis-jenis Batagak Panghulu terbagi dua bagian. Pertains, “Hiduik Bakarilahan”. Terjadi ketika seorang pemangku adat telah berusia lanjut, maka ia wajib digantikan oleh generasi muda yang diambil dari keturunan suku tersebut dengan cara “Adaik diisi, limbago dituang.”
Kemudian “Mati Batungkek Budi”, yakni seorang Panghulu Andiko (penghulu yang sudah diresmikan) meninggal dunia secara mendadak, maka wajib digantikan oleh Datuak Panungkek yang telah melembaga. Pengangkatan langsung dilaksanakan di pemakaman menurut aturan Adat Salingka Nagari masing-masing suku di Minangkabau.
Tradisi Batagak Panghulu Suku Tanjuang Nan Salapan Payuang Nagari Sungai Batang.
Batagak Panghulu di Suku Tanjuang Nan Salapan Payuang di Kenagarian Sungai Batang terselenggara di Jorong Nagari, pada (8/11/2020) lalu. Batagak Panghulu termasuk ke dalam jenis “Hiduik Bakarilahan,” dimana seorang penghulu lanjut usia, tidak mungkin lagi mengayomi kaumnya, maka wajiblah “Mamak Pusako” mengadakan musyawarah yang melibatkan seluruh dunsanak dan kemenakan untuk mencari “Kato Saiyo” (Kata Seiya).
Kemudian hasil musyawarah akan dilaksanakan berdasarkan kesepakatan Kerapatan Adat Nagari (KAN) dikarenakan penghulu “Saunjuik sabarian” di dalam kerapatan. Maksutnya, tegaknya seorang Penghulu, Imam, Katik dan Bundo Kandung setelah adanya kesepakatan
“Bulek lah sagolong,
kok picak lah salayang,
Indak ado lai murai nan kabakicau,
Indak ado lai rantiang nan kabadatiak.”
Bahasa Indonesia:
Bulat telah bisa digolongkan,
Tipis sudah bisa dilayangkan,
Tidak ada lagi murai yang berkicau,
Tidak ada lagi ranting yang berdatik.
Barulah bisa dinobatkan seorang penghulu suku. Adapun Mamak Pusako beserta anak buah (atau kaum) harus mempersiapkan syarat-syarat Batagak Panghulu diantaranya, “Undangan Kaban” yaitu untuk mengundang penghulu dari suku-suku lain. Mempersiapkan “Baramban atau mengisi ke nagari. Penghulu wajib mengeluarkan biaya satu emas dan Imam dan Katik masing-masing setengah emas.
“Carano Basa” merupakan sejenis benda peletak sejumlah persyaratan Batagak Panghulu. Seperti daun Siriah (Sirih), buah Pinang, Sadah, Gambia atau gambir, rokok dan emas untuk Baramban.
“Carano Baso-basi”, disediakan untuk menyambut tamu. Mempersiapkan segala macam keperluan seperti risi, pua, galah, padang (keris), gong, dan tabuah larangan yang dilengkapi dengan badia atau meriam balansa.
Setelah syarat-syarat terpenuhi, barulah bisa diadakan Batagak Panghulu, tepat di hari pelaksanaanya. Panghulu datang berpakaian lengkap diiringi Bundo Kanduang, Mamak Pusako, Datuak Panungkek, Imam dan Katik, termasuk anak buah (atau kaumnya).
Ketika penghulu telah sampai di lokasi alek, Panghulu disambut dengan suara bunyi-bunyian seperti beduk, alat musik tradisional seperti Gandang Tasa atau Tambua, Talempong, dan berbagai alat musik tiup lainnya. Badia atau sejenis Senapan Balansa diletuskan ke arah langit beberapa kali, kemudian diiringi dengan suara Gong pertanda Panghulu dan rombongan akan naik ke atas Rumah Gadang.
Inilah ciri khasnya Batagak Panghulu di Minangkabau, khususnya di Nagari Sungai Batang. Merupakan budaya turun temurun yang hendaknya dapat kita lestarikan. Karena inilah kekayaan bangsa kita sesunggunya. Kaya akan adat-istiadat, kebudayaan, bahasa dan juga suku bangsa di Indonesia.
Pada zaman sekarang ini, khususnya generasi muda, banyak yang tidak tahu lagi bahkan enggan untuk mengenal tradisi Batagak Panghulu yang di dalamnya sarat akan nilai nilai kehidupan. Kenapa? Karena generasi milenial memiliki minat yang kurang terhadap budaya-budaya seperti ini.
Di era globalisasi ini hendaknya menjadi wadah untuk menyalurkan atau memperkenalkan budaya-budaya kita kepada generasi penerus, namun pada kenyataannya tradisi yang kental dengan dialek Minang ini kurang diminati remaja, mereka lebih menyukai budaya-budaya modren yang dianggap lebih keren dan tidak ketinggalan jaman.
Walaupun begitu, melestarikan tradisi ini merupakan tanggung jawab kita bersama agar tidak hilang dan terlupakan di masa mendatang. (***)
















