Padang, Prokabar — Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) melanjutkan kuliah umum Posisi dan Peran Fakultas Ilmu Budaya dalam Pemajuan Kebudayaan di Sumatera Barat dan Indonesia.
Dalam rangka Dies Natalis FIB Unand ke-39 FIB, Selasa, (9/3) Tiga pakar dihadirkan Prof. Dr. Mikihiro Moriyama dari Nanzan University, Japan, Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M. Hum dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. dan Dr. Pramono, M. Si dari Universitas Andalas. Sementara, pemandu acaranya Drs. M. Yusuf, M. Hum.
Acara dimulai dengan pembukaan Wakil Dekan I FIB Unand Dr. Anatona, M. Hum. Mewakili Dekan FIB Unand Dr. Hasanuddin, M. Si.
“Minangkabau memiliki kekayaan budaya yang begitu banyak dan ini sebagai tanggung jawab kita untuk melestarikan, memelihara, melindungi, sekaligus mewariskan kebudayaan kita. Kita berharap pada akademisi, institusi, budayawan, dan pihak-pihak lain untuk bekerja sama dalam pelestarian budaya kita ini,” ungkap Dr. Anatona, M. Hum.
Dr. Pramono, M. Si selaku seorang filolog, berpendapat peran FIB secara umum sangat penting dalam pelestarian kebudayaan di Indonesia. Dikutip dari data Badan Bahasa dan Kemdikbud, ada 17.000 ribu lebih pulau, 1340 suku bangsa, dan 718 bahasa di Indonesia. Oleh karena itu ungkapnya, peran FIB penting untuk melestarikan Warisan Budaya Tak benda (WBTb) Indonesia ini.
“Apabila suatu bangsa mengesampingkan kebudayaan serta tidak menghargai warisan nenek moyangnya, maka bangsa itu tidak layak maju,” tegas Dr. Pramono, M. Si.
Pramono melanjutkan, sebanyak 362 WBTb Sumatera Barat yang telah tercatat pada Kemdikbud, namun tidak menutup kemungkinan untuk bertambah lagi. “Inilah peran dari FIB Unand untuk melestarikan, mewariskan, dan melindungi WBTb yang tersebar di Ranah Minangkabau. Tujuannya untuk memperkuat identitas dan kepribadian bangsa. Juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, misalnya dengan memanfaatkan WBTb berupa batik untuk diperjualbelikan, sekaligus bentuk promosi pada masyarakat luas,” ulasnya.
Selain itu lanjutnya, peran FIB dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat luas karena sejatinya masyarakat adalah objek dari kebudayaan, dan akademisi mengaitkan teori dengan masyarakat. Hasilnya akan menjadi wawasan bagi masyarakat.
Pembicara kedua, Dr. Mikihiro Moriyama, mengatakan, tidak ada definisi konsensus mengenai budaya. Namun, dapat didefinisikannya bahwa budaya merupakan cakupan semua hal yang manusia lakukan.
Sejalan dengan pendapat Dr. Pramono, sebelumnya, Dr. Mikihiro Moriyama mengatakan pelestarian budaya sangat penting untuk mencerminkan identitas lokal. Bila suatu moral dan tradisi lisan Minangkabau hilang, maka nilai-nilai budayanya juga akan hilang.
Menurutnya, di era globalisasi ini sangat memungkinkan budaya lokal dapat hilang, maka perlu adanya pewarisan. Selain itu, dengan cepatnya arus informasi membuat nilai khas budaya berkurang. “FIB sangat berperan dalam hal ini, yakni dengan memberikan wawasan pada masyarakat luas, menginovasikan kebudayaan lokal sebagai kebudayaan hybrid dengan tidak melunturkan nilai-nilai aslinya dan mempromosikannya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Prof. Dr. Mikihiro Moriyama menyarankan untuk memerhatikan bahasa. “Bahasa adalah wujud dari kebudayaan. Akibat cepatnya arus globalisasi membuat generasi muda Indonesia lebih bergaya dengan bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Ini dapat melunturkan kebudayaan Indonesia karena bahasa adalah jiwa bangsa,” terangnya.
Pembicara berikutnya Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M. Hum, seorang filolog, menambahkan FIB Unand berperan penting dalam pelestarian manuskrip di Minangkabau. Manuskrip masuk ke dalam bagian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang merupakan bagian dari WBTb.
Sama seperti yang diungkapkan pemateri sebelumnya bahwa pemajuan kebudayaan ini untuk memperkuat dan memperteguh jati diri bangsa.
“Kajian manuskrip nusantara saat ini diserahkan kembali ke Indonesia untuk merawat artefak kebudayaan. Ini bukan lagi menjadi kewajiban negara Belanda,” tutur Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M. Hum.
Dari manuskrip terangnya, dapat melihat pertautan pengetahuan masa lampau dengan saat ini. Dia memisalkan, dunia pernah beberapa kali mengalami wabah penyakit secara bersamaan, seperti wabah corona saat ini.
“Dengan manuskrip kita dapat mengetahui sejarah dari wabah penyakit. Pernah ada wabah The Black Death in the Middle East, wabah yang terjadi di negara Timur Tengah, dsb. Selain itu, kita dapat mengambil manfaat dari manuskrip untuk mengatasi wabah yang terjadi saat ini, yakni ditemukan tips tradisional kekebalan tubuh hadapi wabah abad 14 yang ditulis oleh Ibn Khatimah (w. 1369),” jelasnya.
Dari hal tersebut Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M. Hum mengatakan pentingnya peran FIB Unand dalam pelestarian manuskrip di Minangkabau sebagai pengembangan ilmu pengetahuan. Pelestarian tersebut sebagai bentuk pemajuan kebudayaan lokal guna mempertahankan tradisi dan budaya masyarakat Minangkabau. (rel/rud)
















