Padang, Prokabar – Berkunjung ke Sumatera Barat, Senin (21/5), Presiden RI Joko Widodo kembali bertemu dan bertatap muka dengan sejumlah ulama asal Ranah Minang.
Apa komentar ulama dari kampung pencetak tokoh bangsa tersebut?
“Pak Jokowi, Presiden yang santun dan ramah. Adabnya tinggi,” kata Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Makmur Tungkar, Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota, Sumbar, Buya Syahrul Isman.
Syahrul yang juga Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Limapuluh Kota, diundang khusus Presiden Jokowi bersama beberapa pengurus Pondok Pesantren dan pengurus Masjid di Sumbar, untuk bersilatutrahmi sekaligus menerima sertifikat tanah.
Acara berlangsung Senin (21/5) di Masjid Jamiatul Huda Simpang Unand, Kota Padang. Jokowi bertatap muka dengan ulama, usai meresmikan pemakaian Kereta Bandara Internasional Minangkabau.
Buya Syahrul Isman menceritakan pengalamannya saat shalat dzuhur. Menurutnya, dia dan ummat lainnya, sama sama menjadi makmum dengan Presiden RI Joko Widodo.
“Waktu jama’ ashar, baru pak Jokowi yang jadi imam,” sebut Syahrul Isman. Diakui Syahrul Isman dan sejumlah ulama lainnya, sosok Jokowi sangat dekat dengan ormas Islam dan ulama.
Paling penting kata Syahrul, Presiden Jokowi merupakan sosok yang terbuka dan siap dikritik. “Kami rasa, segala fitnah yang selama ini ditujukan oleh segelintir pihak kepada pak Jokowi, harus diakhiri. Selain dosa besar, ini (fitnah,-red) juga bukan budaya Minang,” pesan Buya Syahrul Isman.
Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi menyerahkan sertifikat beragam ukuran tanah, termasuk untuk areal Ponpes Al-Makmur Tungkar lokasi II Situjuah Limo Nagari, yang luasnya 8.777 M2.

Sebelumnya, saat meresmikan kereta bandara, Presiden Jokowi menjawa isu
tentang PKI, pro China dan segudang isu lainnya yang kuat diduga sengaja dihembuskan pihak-pihak tertentu dengan tujuan politis.
Presiden Joko Widodo menegaskan dirinya bukan PKI, serta bukan anak dari orang tua PKI serta bukan anak pengusaha China Singapura seperti yang selama ini banyak isu diembuskan sejumlah pihak.
“Perlu saya tanggapi isu yang belakangan banyak mengatakan saya PKI. Kalau isu seperti itu dibiarkan dan tidak saya jelaskan maka akan ke mana-mana,” kata Presiden Joko Widodo .
Presiden menyampaikan penegasan itu sesaat sebelum mengakhiri pidato peresmian acara itu. “Saya lahir tahun 1961 dan PKI meletus tahun 1965. Jadi mana mungkin balita ikut PKI,” katanya.
Tapi, kata Presiden, isu tidak berhenti di situ saja dan giliran orang tuanya yang dituduh PKI. Di Solo, katanya, banyak ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah, yang bisa dicek kebenaran isu itu.
“Silahkan cek dan tanyakan kebenaran isu itu ke sejumlah ormas Islam yang banyak di Solo,” kata Presiden.
Isu, katanya, belum juga berhenti soal PKI tapi ada yang mengatakan Joko Widodo anak pengusaha China Singapura.
Joko Widodo mengatakan, dirinya adalah anak kampung yang bapaknya berasal dari Karanganyar dan ibunya dari Boyolali. “Saya itu anak kampung,” kata Presiden.
Presiden mengajak semua elemen bangsa untuk selalu berpikiran positif dan menjauhkan hal yang negatif.
“Sebaiknya kita memikirkan hal yang produktif untuk membangun bangsa dan negara, seperti memikirkan bangun infrastruktur,” kata Joko Widodo.
Presiden minta juga agar masyarakat tidak mudah terpengaruh dan mudah berprasangka buruk dan negatif, tapi selalu berpikiran positif. (vbm)
















