Catatan Tsunami di Danau Singkarak

Penulis -

Minggu, 28 Juni 2020 - 07:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh : Tri Ubaya
Fungsional Ahli
BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Padang Panjang

Hari Senin 28 Juni 1926, sekitar pukul 10 WIB, Wilayah Sumatera Barat diguncang gempa tektonik yang sangat kuat. Gempa yang terkenal di kalangan masyarakat Minang ini, lebih dikenal dengan sebutan gempa Padang Panjang, w

Walaupun sebenarnya pusat gempabumi berada di sekitaran Danau Singkarak. Begitu dahysatnya gempa tersebut, orang-orang tua “saisuak” yang lahir pada masa itu lebih suka menyebut tahun lahirnya dengan sebutan “Den lahir waktu gampo Padang Panjang”.

Gempabumi yang terjadi 94 tahun silam ini terjadi pada pukul 10:25:25 WIB dengan magnitudo 6.5 SR. Tiga jam setelah gempa pertama, terjadi lagi gempabumi signifikan dengan magnitude 6.7 SR. Setelah itu rangkaian gempa susulan terjadi beriringan selama sekitar satu minggu.

Dampak dari gempa Padang Panjang ini menyebabkan lebih dari 350 orang meninggal dunia, ribuan rumah roboh dan rusak berat, longsor di beberapa tempat sehingga menyebabkan rel kereta api melengkung, serta terjadi rekahan tanah di daerah Padang Panjang, Kubu Kerambil dan Simabur.

Selain di Padang Panjang, kerusakan bangunan juga terjadi di daerah lain seperti Bukittinggi, Alahan Panjang, Sijunjung hingga Muaro Bungo. Kekuatan goncangan yang dirasakan dipermukaan tanah diperkirakan mencapai 9 skala MMI.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jika ingin membayangkan berapa kekuatan goncangan 9 skala MMI, kita bisa membandingkannya dengan gempa Padang pada tahun 2009 yang mencapai 7-8 skala MMI. Karena banyaknya korban yang disebabkan oleh gempa ini, secara spontan bantuan berdatangan dari berbagai wilayah di Indonesia (dahulu masih wilayah hindia belanda) dan juga dari negeri Belanda.

Di balik dahsyatnya gempa Padang Panjang ini, tidak banyak yang tahu jika gempabumi ini juga menyebabkan tsunami di Danau Singkarak. Gelombang Tsunami ini dibangkitkan oleh penurunan permukaan tanah di bagian selatan Danau Singkarak. Di beberapa tempat, penurunan permukaan tanah bisa mencapai 10 meter. Penurunan secara tiba-tiba ini menyebabkan gelombang tsunami yang menjalar dari bagian selatan danau menuju bagian utara danau yang ditempuh dalam waktu 10 menit (Soetadi, 1962).

Jika diperkirakan jarak yang ditempuh tsunami dari bagian selatan danau menuju bagian utara danau adalah 20.57 km, maka kecepatan tsunami yang menjalar di danau singkarak kala itu diperkirakan mencapai 122 km/jam.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Harian Soeara Kota Gedang 7 juli 1926 menceritakan air danau tumpah membanjiri wilayah sekitar danau dan menimbulkan korban jiwa. Tidak diketahui berapa ketinggian maksimum dan luasan wilayah terdampak yang disebabkan oleh gelombang tsunami ini, karena ketika itu ilmu kegempaan dan tsunami belum sehebat sekarang.

Tsunami yang terjadi di Danau Singkarak ini membuka wawasan kita, bahwa ancaman tsunami tidak saja berasal dari perairan luas seperti lautan, namun bisa juga berasal dari perairan sempit seperti Danau Singkarak.

Faktanya, dalam 100 tahun terakhir, setidaknya telah terdokumentasikan 2 kali tsunami di Danau Singkarak. Yang pertama kali tercatat yaitu pada gempabumi “Padang Panjang” 28 Juni 1926, dan yang kedua terjadi pada gempabumi 6 Maret 2007 (ada dugaan akibat seiche).

Ma’rufin Sudibyo dalam salah satu catatannya (Tsunami Danau Singkarak, 2007) menjelaskan tsunami kecil di Danau Singkarak pada 2007 itu memang tidak membunuh, namun menghempas hingga 15 meter ke pesisir danau sampai tiga kali dan merusakkan bangunan-bangunan warung yang terkena.

Memang ada dugaan meluapnya air tersebut lebih disebabkan oleh fenomena seiche daripada akibat gelombang tsunami, namun tetap saja tidak mengurangi fakta bahwa ada luapan air dalam jumlah besar yang berpotensi menyebabkan bencana bagi masyarakat sekitar danau ketika terjadi gempabumi besar.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Lalu pertanyaannya, akankah fenomena tsunami ini terulang di masa depan? Memang tidak ada yang bisa menjamin tsunami bisa terulang di masa depan, namun jangan lupa bahwa gempa besar akan mengalami perulangan atau periode ulang, sehingga daerah yang pernah mengalami gempa besar pada masa lalu akan dapat terjadi kembali gempa kuat di masa yang akan datang di tempat yang sama.

Dibalik keindahan alamnya yang menakjubkan, Danau Singkarak memiliki keunikan yang selalu menarik untuk dikaji. Baik dari segi pembentukannya yang akibat pergeseran patahan geser (strike slip) maupun potensi kebencanaan dan potensi sumber daya alam yang dimilikinya. Sudah menjadi tugas kita, sebagai makhluk yang diberikan akal dan fikiran, untuk terus mengkaji berbagai potensi tersebut. Memetakan potensinya, mempersiapkan mitigasinya, mengedukasi masyarakatnya, serta memanfatkan sumberdayanya dengan bijak demi kemaslahatan bersama.(*)

 

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB