BBM dan Rokok Picu Inflasi di Sumbar

Penulis -

Kamis, 5 April 2018 - 21:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat pada Maret 2018 kembali mencatatkan inflasi, setelah deflasi pada bulan sebelumnya. Tekanan inflasi berasal dari kenaikan semua kelompok disagresi dengan inflasi tertinggi berasal dari bahan pangan bergejolak (volatile food).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat Endy Dwi Tjahjono mengungkapkan inflasi bulanan pada Maret tercatat 0,31 persen (month to month/mtm). Secara tahunan, pergerakan harga pada Maret 2018 tercatat sebesar 2,33 persen (year on year/yoy). Angka ini naik dari bulan sebelumnya yang berada pada 2,03 persen (yoy).

“Realisasi ini menempatkan Sumatera Barat sebagai provinsi tertinggi ke-6 di Sumatera dan ke-14 dari 29 provinsi yang mengalami inflasi di seluruh Indonesia,” kata Endi saat ditemui prokabar.com

Dua kota sampel inflasi di Sumatera Barat yaitu Kota Padang dan Bukittinggi mengalami inflasi bulanan dengan laju masing-masing sebesar 0,31 persen (mtm) dan 0,28 persen (mtm). Kota Padang menduduki urutan ke-10 dari seluruh kota yang mengalami inflasi di Sumatera dan ke 22 secara nasonal. Sedangkan Kota Bukittinggi berada pada urutan ke-12 di Sumatera dan ke-26 secara nasional.

Endy menjelaskan, kelompok volatile food memberi andil terbesar bagi tekanan inflasi Sumatera Barat pada Maret. Kelompok ini mencatatkan inflasi sebesar 0,37 persen (mtm), naik dari sebelumnya yang mengalami deflasi 0,87 persen (mtm).

Sementara itu, di kelompok barang yang diatur pemerintah (administered price) menyumbang inflasi sebesar 0.29 persen (mtm). Dibanding bulan sebelumnya, kelompok ini juga naik karena pada Februari mencatatkan deflasi 0,08 persen (mtm).

“Kenaikan harga bensin dan rokok putih memberikan andil tekanan inflasi pada kelompok barang yang diatur pemerintah,” terang Endi.

Tak jauh berbeda, kelompok inti (core) juga naik tipis dari 0,24 persen (mtm) pada Februari menjadi 0,29 persen (mtm) pada Maret 2018. Kenaikan pada kelompok inti berasal dari subkelompok makanan jadi. Secara umum, penyebab kenaikan komoditas tersebut terindikasi tidak hanya karena bahan baku tetapi juga naiknya jasa penyajian dan upah produksi.(alr)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rektor UIN Bukittinggi Prof. Silfia Hanani : ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menag RI
Hujan Abu Vulkanik Gunung Merapi Guyur Bukittinggi dan Agam pada Malam Hari
Pemko Padang Wajibkan Warga Pilah Sampah Rumah Tangga Mulai 2027
Sungai Tumayo Kembali Meluap, Ratusan Rumah Warga Terancam Banjir
Polda Sumbar Gelar Turnamen Mobile Legends, Jadi Ajang Atlet Esports Menuju Kapolri Cup
Merasa Dilecehkan Kadis, Staf Disparporabud Pasaman Lapor Polisi
Hasil 32 Besar Piala Dunia 2026; Kalah Adu Penalti dari Paraguay, Jerman Angkat Koper
Si Jago Merah Mengamuk Dua Unit Rumah Warga Lubuk Sikaping Tinggal Abu

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 14:35 WIB

Rektor UIN Bukittinggi Prof. Silfia Hanani : ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menag RI

Senin, 28 September 2026 - 09:52 WIB

Hujan Abu Vulkanik Gunung Merapi Guyur Bukittinggi dan Agam pada Malam Hari

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:51 WIB

Pemko Padang Wajibkan Warga Pilah Sampah Rumah Tangga Mulai 2027

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:14 WIB

Sungai Tumayo Kembali Meluap, Ratusan Rumah Warga Terancam Banjir

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:48 WIB

Polda Sumbar Gelar Turnamen Mobile Legends, Jadi Ajang Atlet Esports Menuju Kapolri Cup

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB