Padang, Prokabar – Seketika terjadi penyerangan pasukan yang dipimpin oleh Ahmad Husen ke Rimbo Kaluang pada 21 Februari 1946, tentara Sekutu berteriak, “Harimau dari Kuranji menyerang.” Tentara Sekutu ketakutan sekali, sebab mereka menyerang begitu cepat, lantas menghilang bak Harimau.
“Sejak itulah lekat sebutan nama Harimau Kuranji itu,” kata A. Rahman, suatu ketika.
Pertempuran Rimbo Kaluang antara TKR dan Dewan Perjuangan Kemerdekaan di satu fihak dengan Sekutu dan NICA Belanda di fihak lain merupakan pertempuran yang cukup dahsyat.
“Dengan perencanaan yang matang, dibawah pimpinan Ahmad Hosen berhasil memporakporandakan markas Sekutu di Rimbo Kaluang. Banyak korban jatuh di fihak mereka dan beberapa di fihak kita,” kata Rahman Kompong, ketika lainnya.
Ya, Rahman Kompong, begitu dia dikenal. Salah seorang pelaku sejarah anggota Laskar Harimau Kuranji. Nama Kompong melekat pada dirinya, setelah dia terkena ledakan granat dalam salah satu pertempuran semasa perjuangan.
Kini, Harimau Kuranji terakhir itu telah pergi untuk selamanya. Persis pada Selasa (27/8), A. Rahman menghadap sang Khalik pada usia 96 tahun di Rumah Sakit Bunda Medical Center (BMC) Padang.
“Hingga akhir hayatnya, beliau masih aktif di tengah masyarakat. Bahkan ingatan beliau masih cukup jernih mengenang sejarah perjuangan meskipun usianya sudah 96 tahun,” kata Dr. Ardizal Rahman, SPM. anak tertua Rahman Kompong.
Bahkan pada peringatan HUT RI ke-74 lalu, beliau masih memberikan harapannya kepada pemerintah agar memperhatikan nasib para veteran dan pejuang kemerdekaan yang masih hidup.
“Beliau yang tergabung dalam DHD 45 Sumbar, berharap agar pemerintah terus memperhatikan nasib para pejuang kemerdekaan yang masih hidup,” ujar Ardizal.
Dalam kenangannya, A. Rahman dalam mendidik anaknya-anaknya selalu menanamkan kedisiplinan sehingga meraih kesuksesan dalam hidup mereka.
A. Rahman meninggalkan seorang istri Hj. Alamsiah (90 tahun), delapan orang anak, 24 cucu dan 12 cicit. Dia dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa, Lolong Padang, dipimpin Danramil Padang Timur, Mayor P. Simbolon.
Selama hidupnya, A Rahman yang lahir di Pariaman 17 April 1925 banyak memperoleh penghargaan dari pemerintah diantaranya Bintang Gerilya, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II, Satya Lencana GOM I hingga VI, Satya Lencana Penegak, Satya Lencana Bakti, Satya Lencana Cikal Bakal BKR, Medali Perjuangan Angkatan 45, Bintang Legiun Veteran RI, Piagam PETA.
Sementara selama perjuangan kemerdekaan, selain tergabung dalam Laskar Harimau Kuranji, dia juga pernah menjadi anggota Gyu-gun (PETA) Padang Chu-thai dengan pangkat Gyun-sjo, Anggota BPPI dan BKR dengan jabatan Komandan Seksi II/II Bataliyan I-Resimen III Divisi Banteng. Lalu pejabat Komandan Kompi II/I-III Divisi Banteng, Komandan Kompi I/II-101 Brigade Sumatera Tengah dengan pangkat Letnan Dua, Komandan Kompi Komando Banteng Sumatera Tengah dengan pangkat Letnan Satu hingga akhirnya pensiun pada tahun 1962.
“Sesudah pensiun, beliau aktif di berbagai organisasi diantaranya Pengurus PETA Tk. I, Pengurus DHD 45, Pengurus Veteran TK. I dan DEVI Tk. I Sumbar,” pungkas Ardizal.(mbb)

















