Tanjung Raya, Prokabar — Kanagarian Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam menggelar Festival Tambua dan Silat Tradisional. Pesta rakyat tersebut berlangsung dari 1 Mei hingga 3 Mei 2019 ini. Ratusan masyarakat setiap harinya, menyaksikan dan turut memeriahkan kegiatan tersebut.
Untuk kesenian Tambua, peserta diikuti 11 group sanggar dari Kecamatan Tanjung Raya dan sekitarnya. Masing-masing group unjuk kebolehan dengan kelebihan masing-masingnya. Sehingga kemeriahan penampilan membuat masyarakat yang menonton sangat puas karenannya.
Menurut Walinagari Maninjau, Alfian, tujuan utama sebagai wujud pelestarian kesenian tradisional. Perkembangan zaman harus terus dibendung dengan menggiatkan terus penampilan kesenian yang masih lestari disetiap daerah. Dengan Adanya perlombaan berupa festival, memacu semangat dan motivasi pelestari budaya tersebut.
“Zaman dan teknologi tidak dapat kita bending dengan melawannya, melainkan dengan cara tetap menanamkan nilai-nilai budaya. Terutama dengan menggiatkan penampilan-penampilan kesenian dari sanggar kesenian yang terus bertahan. Memotivasi mereka dengan berbagai ivet dan festival,” ungkapnya.
Dalam pengangakatan kegiatan ini lanjutnya, tanpa modal dan tidak ada anggaran dana desa. “Modal nekat ini saya beranikan agar kegiatan tetap berlangsung. meski demikian, Alhamdulillah dukungan semua pihak selalu saja ada. Hal tersebut mungkin semangat dan niat tulus kita untuk melaksanakannya,” tutur Walinagari Maninjau.
Nilai-nilai kesenian dan silat khususnya, merupakan warisan leluhur nenek moyang kita. Pendidikan karakter dan reliqius telah melahirkan ratusan pahlawan Nasional dari Ranah Minang. “Dalam silat, terdapat nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kittabullah. Makanya, orang minang yang telah mahir belajar silat, memiliki prinsip tegas, konsisten, komitmen, patriot dan reliqius. Sehingga dalam pergaulannya, selalu menjaga nilai-nilai etika dan moralitas yang tinggi,” terang Alfan.
Kita berharap lanjutnya, seni bela diri silat terus lestari dan menjadi pembentuk karakter generasi Minang. “Dan kelestarian budaya ini, kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi,” pungkasnya. (rud)
















