MENUSUK RINDU – DAHLAN ISKAN MENANGIS

Penulis -

Jumat, 5 Oktober 2018 - 17:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Tidak terhitung.

Entah sudah berapa kali.
Saya ke Palu.
Di masa lalu.

Tak terhitung.
Berapa banyak ikan lautnya yang sudah kulahap.
Berapa cobek sambalnya yang kulumat.

Berapa botol bawang merah gorengnya yang kubawa pulang.

Palu.

Tempatku merintis koran.
Tempatku mendidik wartawan.
Tempatku menikmati makanan.

Pernah saya ke Palu
Hanya satu jam di sana
Hanya karena kangen ikannya
Dan sambalnya.

Tak pernah hilang dari ingatan.
Sebuah restoran
Tidak bisa tutup sebelum tengah malam
Karena pesawat saya terlambat tiba

Sang suami menunggu di teras
Seorang keturunan Arab.

Sang istri tetap di dapur membuat sambal baru.
Seorang wanita keturunan Tionghoa.
Yang tidak bisa bahasa Mandarin melainkan Hokkian.

Saya lihat putri-putrinya.
Setengah Arab.
Setengah Tionghoa.

Palu…

Kesegaran ikannya,
Kelegitan sambalnya,
Masih menempel di lidahku.
Sampai belasan tahun kemudian.
Sampai sekarang.

Palu…

Kutitikkan air mataku.
Kuremaskan genggam tanganku.
Marah.
Geram.
Tak berdaya.
Menyaksikan rakyat sengsara.

Tidak cukup listrik di sana
Di tahun 2009 itu.
Kulanggar hukum.
Kutabrak peraturan.
Demi listrik di sana.

Yang mati tiga kali sehari.
Kadang seminggu mati abadi…

Palu-Kebunkopi,
Palu-Parigi,
Palu-Tentena,
Palu-Donggala,
Adalah rute-ruteku.
Kala itu.

Rute yang menantang
Rute yang ngeri-ngeri sedap itu.

Palu…

Telukmu,
Nyiur melambaimu,
Al-Khairatmu,
Gerejamu,
Kelentengmu,
Semua lekuk-lekukmu,
Begitu abadinya diingatanku.

Palu…

Lama saya tidak ke sana
Sejak saya sendiri terkena bencana.

Palu…

Tiba-tiba namamu menusuk jantungku.

Pilu
Gempa dan tsunami itu.
Jumat senja akhir September lalu.
Meluluhlantakkan bumimu.

Palu.

Membuatku pilu.

Palu.

Membangkitkan rinduku padamu.

Dahlan Iskan

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB