oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama)
Pada menit ke 11, seluruh penonton di stadion AT&T kota Dallas, Negara bagian Texas , Selasa dinihari, menahan nafas. Argentina mendapat hadiah penalti, seteleh Lautaro Martinez “digunting” dua bek Austria di kotak penalti.
Sang mega bintang Leonel Messi bersiap jadi algojo. Penonton dan pemirsa di seluruh dunia sedang menunggu sejarah. Andai penalti itu gol, Messi resmi dinobatkan sebagai top skorer Piala Dunia sepanjang masa. Karena dengan gol itu, Messi akan melewati catatan rekor 16 gol milik penyerang Jerman, Miroslav Klose.
Tapi stadion mendadak gemuruh, Messi yang biasanya jago dan jarang gagal penalti, kali ini eksekusinya melenceng ke sisi kiri gawang Austria. Pemecahan rekor dunia pun tertunda. Messi nampak kecewa, tapi dari gesturnya terlihat dia tetap tenang.
“He is a human”, begitu kata komentator pertandingan di televisi. Ya, Messi tetaplah seorang manusia biasa dan bukan robot. Walaupun dia disebut pesebakbola terhebat sepanjang masa, tapi dia tetap punya rasa gugup dan bisa kehilangan fokus di moment-moment seperti itu.
Tapi itulah Messi, dia punya kelebihan yang tak dimiliki pesepakbola pada umumnya. Kegagalan penalti itu tak membuatnya melemah. 27 menit kemudian, Messi menebus kegagalan penaltinya itu dengan sebuah gol yang sangat berkelas. Tendangan kaki kiri dari garis kotak penalti yang menyusur tanah dan bersarang di pojok kiri gawang Austria.
Ya, rekor itu akhirnya terpecahkan, dan lebih mengesankan karena tercipta melalui sebuah aksi kelas tinggi yang memang khas seorang Mrssi. Seisi stadion pun meledak dengan aksi spektakuler sang bintang, apalagi para pendukung Argentina.
Tersorot di kamera, pria berkostum Argentina di tribun tak kuasa menahan air matanya yang emosianal. Bahkan seorang nenek-nenek disorot kameramen dengan mengusung selembar kertas bertuliskan “100 year old Messi fan”. Bahkan ada yang menampilkan tulisan “Messi, will you Merry me?.
Itulah ungkapan kebangggaaan dan kecintaan fans Argentina kepada mega bintang yang empat tahun lalu telah mempersembahkan gelar juara Piala Dunia kepada Argentina. Sebuah gelar yang membuat Messi telah meraih segalanya di panggung sepakbola dunia. Semua trophy bergengsi telah diraihnya, semua penghargaan gelar individu terbaik sudah didapatkannya.
Kini, di usianya yang sudah 38 tahun, Messi masih terlihat tiada banding di lapangan. Pengaruh dan ketajamananya tak berkurang sedikitpun untuk tim Argentina. Gila memang, di usia seperti itu, dari lima gol yang sudah dicetak Argentina di dua laga, semuanya di borong oleh Messi.
Lihat juga rapor pemain Argentina, ketika rekan-rekan mudanya susah payah mendapat angka 7, Messi sendirian mendapat penilaian 8.9. Bahkan saat laga melawan Aljazair, Messi mendapat nilai rapor 9,2 dari opta super komperter.
Tidak bisa dipungkiri, usia memang tak bisa dibohongi. Kecepatan Messi pastinya tak lagi seperti dulu, ketika dia sanggup menggiring bola sepanjang lapangan meliuk-liuk melewati pemain lawan yang pontang panting mengejar untuk menghentikannya.
Kini Messi bermain lebih efektif dan cerdas. Dia lebih banyak tampak berjalan santai ketimbang berlari mengejar bola. Bahkan terlihat seperti pemain yang malas-malasan di lapangan.
Tapi ketika dia dapat bola, dengan sedikit sentuhan skillnya yang tinggi dia bisa mengancam ganwang lawan. Itu sudah dibuktikannya dengan lima gol yang sudah diciptakannya di dua laga awal Piala Dunia 2026 ini.
Pelatih Lionel Scaloni seperti hanya menerapkan taktik dan strateginya cuma untuk 10 pemainnya saja. Sedangkan Messi diberi kebebesan yang mutlak di lapangan. Tidak ada arahan, tuntutan, teriakan, dan tekanan dari Scaloni kepada sang bintangnya.
Malah yang lebih ekstrem, semua pemain Argentina sengaja diarahkan bekerja untuk Messi, karena Scaloni memang menjadikan Messi sebagai pusat pemainan timnya. Sehingga 10 pemain Argentina lainnya terlihat seperti dayang-dayang pelayan Messi.
Kondisi ini memancing mantan bek tengah Timnas Inggris, Rio Ferdinand untuk berkomentar; “Ketika pemain Argentina tidak tahu bola akan diapakan; berikan saja pada Messi, maka dia akan mencarikan solusinya.” cuap Ferdinand.
Di sisi lain, banyak orang mengira setelah meraih juara Piala Dunia 2022 bersama Argentina, Messi tak akan lagi bermain total, all out, dan penuh ambisi, karena dia sudah mendapatkan segalanya untuk kesempurnaan karirnya. Apalagi dengan usia yang sudah 38 tahun sekarang ini.
Ternyata bagi Messi, berkostum Argentina adalah sesuatu yang sangat spesial. Dengan kostum itu, dia akan berusaha memberikan yang terbaik. keberadaaanya di lapangan adalah bara api yang membakar rekan-rekan mudanya. “Kami adalah Argentina dan selalu ingin menang melawan siapa pun.”ucapnya.
Hal itu seakan menerangkan, bahwa Messi masih bersemangat membawa Argentina back to back atau juara Piala Dunia dua kali berturut-turut. Hal yang terakhir kali hanya bisa dilakukan timnas Brasil 64 tahun lalu, saat juara dunia tahun 1958 dan 1962.
Menarik ditunggu, apakah Messi akan bisa mewujudkan ambisinya bersama Argentina di Piala Dunia 2026 ini. Tapi berhasil atau tidak, bagi seorang Messi dengan apa yang telah didapatkannya, dan apa yang sudah dilakukannya sejauh ini di Piala Dunia 2026 ini, dia sejatinya sedang menegaskan dirinya adalah GOAT sejati di pentas sepabola dunia.
“Greatest Of All Time” yang berarti “Terbaik Sepanjang Masa”, adalah hal yang tak terbantahkan, walaupun seorang Cristiano Ronaldo dari Portugal juga mengklaim dirinya lebih berhak menyandang gelar GOAT tersebut.(*) .
















