Maninjau, Prokabar – Suasana gotong royong yang awalnya penuh kebersamaan di Jorong Pasa Maninjau mendadak berubah menjadi mencekam pada Kamis (25/12). Sungai Muaro Pisang yang meluap secara tiba-tiba membawa material lumpur dan bebatuan besar, menerjang pemukiman warga serta sejumlah fasilitas umum di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.
Peristiwa bencana alam ini terjadi sekitar pukul 13.30 WIB, di saat puluhan ASN dari Dinas Kominfo Agam sedang berjibaku membersihkan sisa longsor setinggi satu meter. Lokasi pembersihan tersebut berada di kawasan BRI Lama, rumah warga yang sebelumnya sudah terdampak banjir beberapa waktu lalu, namun kini justru diterjang bencana susulan yang lebih besar.
Menurut informasi yang dihimpun di lapangan, tanda-tanda kehadiran banjir bandang ini mulai dirasakan saat hujan lebat mengguyur wilayah Maninjau sejak siang hari. Tim gotong royong (goro) yang tengah beristirahat di pinggir sungai mulai mendengar suara dentuman keras dengan durasi yang cukup lama dari arah hulu sungai, menandakan adanya pergerakan material besar dari perbukitan.
Kepala Dinas Kominfo Agam, Roza Syafdefianti, mengonfirmasi situasi darurat tersebut berdasarkan laporan personelnya di lokasi. “Kami menerima informasi dari ASN yang ikut goro bahwa terdengar suara dentuman yang sangat lama. Saat mereka berupaya mengevakuasi diri ke arah kantor camat, air sudah meluap hebat dan material lumpur menyebar sangat cepat hingga memutus akses jalan,” jelasnya.
Beruntung, kesigapan tim goro dan warga sekitar dalam merespons suara dentuman tersebut membuahkan hasil. Mereka berhasil menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi tepat sebelum arus air menyeberang ke jalan utama. Meski sempat tertahan karena derasnya arus yang membawa material padat, dipastikan tidak ada korban jiwa dalam kepanikan tersebut.
Dampak luapan Sungai Muaro Pisang kali ini dilaporkan jauh lebih parah dibandingkan kejadian sebelumnya. Berdasarkan laporan sementara dari Kepolisian Sektor (Polsek) Tanjung Raya, sedikitnya 30 unit rumah warga terendam material lumpur pekat dan bebatuan, yang mengakibatkan kerugian materiil yang cukup besar bagi masyarakat terdampak.
Tak hanya menyasar pemukiman penduduk, sejumlah objek vital pemerintahan juga tak luput dari terjangan banjir lumpur ini. Kantor Danramil dan Kantor Polsek Tanjung Raya dilaporkan ikut terdampak parah, di mana material lumpur telah memenuhi ruangan kantor, mengganggu pelayanan publik dan operasional keamanan di wilayah tersebut.
Kondisi darurat juga memaksa pihak berwenang melakukan langkah luar biasa terhadap warga binaan di Lapas Maninjau. Sejumlah narapidana sempat dievakuasi ke Kantor Nagari demi menjamin keselamatan mereka, sebelum akhirnya dikembalikan ke Lapas setelah situasi dipastikan stabil dan pergerakan batuan dari hulu sungai mulai berhenti.
Hingga berita ini diturunkan, proses penyisiran secara menyeluruh ke rumah-rumah warga masih menghadapi kendala besar di lapangan. Selain ketebalan lumpur yang mencapai puluhan sentimeter, keberadaan arus listrik yang masih aktif di area terdampak menjadi ancaman serius bagi petugas penyelamat dan relawan yang ingin melakukan evakuasi lanjutan.
Pemerintah setempat mengimbau warga Maninjau untuk tetap waspada dan menjauhi bantaran sungai Muaro Pisang untuk sementara waktu. Mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi, risiko pergerakan material susulan dari lereng perbukitan tetap tinggi, sehingga kesiapsiagaan warga menjadi prioritas utama saat ini. (*)
















