Oleh: Muhammad Salman Alfarizie
Santri ma’had Darul Hijrah
Dari rendang hingga rumah gadang, macam-macam kuliner hingga keindahan alam,di balik keindahan dan keramahannya ternyata Minangkabau tidak dapat di tawar dalam lingkup ketuhanan. disegani bukan hanya karna banyak melahirkan cendikiawan dan intelektual yang menyumbangkan pemikiran, namun juga karna para ulama cerdas yang terlahir dari tanah itu yang di akui kealimannya bukan hanya di indonesia namun memijak kancah dunia. Sekarang terpaksa harus menerima tantangan yang lumayan berat dan serius. Ranah minang di ambang kepunahan kian nyata, Banyaknya bujang minang yang mulai kehilangan minat dalam menjaga kehormatan suku yang di kenal beradat dan beragama. Fenomena ini mungkin layak kita kaji dan bincangkan bersama.
As syekh Ahmad Khatib Al Minkabawi, nama yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, nama yang seakan-akan menjadi icon kebanggan masyarakat minangkabau dalam keilmuan agama. Syekh ahmad khatib minangkabau memiliki andil yang besar dalam kaderisasi ulama minangkabau dan indonesia. Beliau lahir di Koto Gadang, Luhak Agam pada 6 Zulhijjah 1276 H (1860 masehi). Banyak sekali murid Syekh Ahmad Khatib yang menjadi orang besar di indonesia khususnya ulama minangkabau di antaranya Syekh DR.H Abdul Karim Amrullah (ayah dari Prof. DR .Hamka), Syekh Sulaiman Arrosuli, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Muhammad Djamil Jaho, Syekh Abbas Qodhi (ayah K.H Sirajuddin Abbas) dan banyak lagi yang lain. Dan sejarah mencatat bahwa dua orang yang menjadi guru besar dan pendiri organisasi besar di indonesia yaitu K.H Ahmad Dahlan (pendiri organisasi muhammadiyah) dan K.H Hasyim Asy’ari (pendiri nahdhatul ulama) pernah berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Salah satu karangan syekh ahmad khatib yang masih banyak di pelajari di dunia keilmuan pesantren adalah kitab ushul fiqh yang berjudul an-nafahat syarah dari kitab wiroqot karangan imam al juwaini. Syekh ahmad khatib alminkabawi menjadi bukti nyata untuk masyarakat indonesia secara umum dan minangkabau secara khusus bahwa hubungan erat masyarakat minangkabau dengan keilmuan agama bukan hanya sekedar dongeng belaka.
Beberapa puluh tahun yang lalu, orang tua kita sering menceritakan bahwa di zaman itu anak bujang minangkabau yang telah menginjak usia baligh sudah semestinya tidur berpisah dari ibu dan ayahnya. Pergi ke surau pada malam hari untuk ikut berlatih silek dan mengaji ilmu agama. Namun suasana indah dahulu sekarang hanya menjadi dongeng pengantar tidur, sangat jauh sekali dari apa yang di ceritakan orang tua kita pada zaman itu.
Hilangnya minat bujang minangkabau dalam mempelajari dan mendalami ilmu agama dapat memberi dampak yang kurang baik dalam lingkungan masyarakat minangkabau secara keseluruhan, karna agama memainkan peran penting dalam mendidik dan menjaga jiwa seseorang dari pada berbuat kerusakan, sebagai mana sabda Rosulallah S.A.W yang berbunyi :
عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب)؛ متفق عليه
Artinya: dari Nu,Man Bin Basyir R.huma aku mendengar Rosulallah bersabda ketauhilah bahwa sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging, apabila baik daging itu maka akan baiklah lah seluruh jasadnya apabila rusak daging itu maka rusak lah seluruh jasadnya, ketauhilah daging itu adalah hati.
Tanpa pemahaman agama yang baik dan cukup bujang minagkabau akan perlahan kehilangan jati dirinya, karna sejatinya minangkabau tidak hanya bertulangkan adat namun juga berdagingkan agama.
Kerusakannya perlahan terlihat jelas terjadi di depan mata , hari ini berapa kali berita kita dengar tentang anak remaja yang di amankan aparat karna ikut serta dalam kegiatan tawuran? Beberapa di antara mereka ikut bukan karna pengen, namun terbawa arus oleh teman-temannya atau hanya sekedar keren-kerenan. Hari ini berapa pemuda yang kita dengar dalam berita terlibat memakai dan menyebarkan narkoba? Beberapa di antaranya terlahir dari ajakan temannya. Ini adalah bukti dan tamparan keras bagi masyarakat suku minangkabau bahwa identitasnya sudah terancam hilang karna berkurangnya minat muda dan mudi masyarakat minangkabau dalam mempelajari pendidikan spiritual.
Kurangnya semangat syi,ar pemerintah setempat dalam mengayomi kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan agama mungkin menjadi salah satu faktor yang mengancam minangkabau untuk mempercepat kehilangan identitas. Tidak sedikit kita melihat para guru mengaji menerima upah yang tidak layak, sehingga menghilangkan minat untuk belajar agama bagi generasi setelahnya. Padahal mereka bukan hanya mengabdi untuk mencetak generasi yang cerdas,namun juga mendidik cerdas itu agar diiringi dengan tingginya moral.
Maraknya kasus kriminal di ranah minang menjadi serinai peringatan bahwa jati diri minangkabau memang sedang di ambang kepunahan, bukan hanya berita yang memilukan namun juga sangat memalukan. Ayah tiri yang menyetubuhi anaknya yang berusia lima tahun di padang pariaman, anak yang berharap menemukan kebahagiaan di sosok ayah barunya, berakhir tragis menanggung trauma seumur hidupnya. Berita ini bukan hanya sekedar memilukan namun juga memalukan, lebih-lebih kejadian itu di tanah yang beradat dan beragama.
Jika pendidikan agama ini di kesampingkan atau bahkan menjadi bahan olokan karna terlihat kuno dan tertinggal zaman, maka bersiaplah untuk minangkabau kehilangan jati diri dan identitas, cerdasnya hanya akan di pergunakan untuk menindas.
Aia janiah sayaknyo landai, jalan raya titisan batu, barundiang cadiak jo nan pandai paham duo manjadi satu.
Jangan sampai, sipiciak daun sipiciak pambungkuih daun jilatang nan cadiak manguliciak nan bodoh mambayia utang.
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















