Oleh : Azirah Shahieza Simatupang
Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris
UIN Imam Bonjol Padang
“Bidaah,” serial drama asal Malaysia yang juga dikenal dengan judul internasional Broken Heaven ini viral di media sosial. Disutradarai oleh Ellie Suriaty, serial ini bercerita tentang Baiduri, seorang gadis dari keluarga religius yang dipaksa ibunya untuk bergabung dalam kelompok keagamaan ekstrem bernama Jihad Ummah.
Serial ini jadi sorotan tajam oleh para penonton karena sosok sang “Walid”, pemimpin sekte yang diperankan dengan sangat kuat dan baik oleh aktor senior Faizal Hussein. Walid digambarkan sebagai tokoh berwibawa yang dihormati santri-santrinya. Namun di balik jubah putih dan lantunan doa, tersembunyi manipulasi, ajaran sesat, pernikahan fiktif, hingga pelecehan dan banyak melakukan tindakan-tindakan tidak senonoh lainnya yang mengatas namakan ajaran Rasulullah sehingga menimbulkan kehebohan bagi para netizen. Ketika akhirnya Walid dijebloskan ke penjara, kita pun bertanya tanya: apa betul ini hanya fiksi belaka? Atau cerminan realita?
Siapa sangka terkait fenomena diangkatnya film ini yang membuat viral bukan hanya karna dramanya saja tapi kenyataan pahit bahwa kasus semacam ini sudah banyak terjadi di negeri kita, bahkan telah banyak kasus kasus lama yang membuktikan penyimpangan dan penyelewengan agama. Salah satu contoh kasus yang sama di Indonesia Pada tahun 2023, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh penyimpangan terbuka secara terang terangan yang terjadi di ‘‘Pesantren Al-Zaytun’’, Indramayu. Mulai dari mencampuri saf laki-laki dan perempuan saat shalat, ajaran doktrin doktrin sesat tentang Islam, hingga pemimpin pesantren yang mengklaim otoritas keagamaan di luar batas syariat. Semua itu bukan isu semu melainkan fakta yang terekam, viral, dan menjadi sorotan nasional.
Kasus ini menggambarkan bahwa pesantren yang semestinya mencetak karakter justru memusnahkan karakter. Bukan karena lembaganya, tapi karena oknum di dalamnya yang menyalahgunakan kepercayaan umat demi kepentingan pribadi. Padahal pesantren ialah tempat yang seharusnya suci dan aman, justru jadi ruang yang sunyi untuk korban-korban yang dibungkam atas nama hormat.
Ini bukan serangan pada pesantren, melainkan ajakan refleksi: apakah kita sudah cukup membekali diri dan generasi muda dengan iman yang kuat dan nalar yang sehat?
Solusinya bukan sekedar ‘‘omon-omon’’ saja. Kita harus kembali mengulang dan menekankan betapa pentingnya nilai-nilai Islam yang murni pada diri kita. Belajar kembali fiqh, hadis, sunnah, dan terutama Al-Qur’an. Dalam surah Al-Ikhlas telah dijelaskan: “Allah itu Esa.” Esa berarti tidak butuh perantara. Tidak bisa diwakili. Apalagi diklaim demi nafsu pribadi.
Dari Santri Untuk Negeri
Sebagai pelajar yang kaya akan wawasan, kita tidak bisa diam. Kita adalah generasi yang harus mencetak masa depan yang lebih sehat dalam akhlak, literasi agama, maupun sikap kritis. Kita bisa mulai dari hal kecil: berani bertanya, tidak menelan mentah-mentah informasi, dan memegang teguh nilai kemanusiaan yang diajarkan Islam. Fenomena ini adalah bentuk peringatan dan mungkin juga panggilan buat para umat muslim, upaya-upaya yang dapat kita lakukan :
Pertama, perkuat kembali kurikulum pesantren agar tidak hanya menekankan hafalan, tapi juga pemahaman mendalam dan kontekstual tentang ajaran Islam. Santri harus diajak berpikir, bukan hanya taat tanpa tanya. Guna meningkatkan literasi agama sejak dini
Kedua, pemerintah dan ormas Islam perlu bahu-membahu membangun sistem kontrol dan evaluasi berkala terhadap lembaga keagamaan. Bukan untuk mengekang, tetapi untuk melindungi para santri dari penyalahgunaan kuasa yang membungkus diri dengan simbol kesucian. Sebab, ketika sistem memilih diam, pelaku merasa aman. Ketika negara tak sigap, korban kehilangan harapan. Kita tidak butuh lagi janji, kita butuh aksi cepat, tegas, dan berpihak pada yang benar. Walid di layar adalah cermin, dan terlalu banyak Walid di luar sana yang masih bebas berkeliaran.
Ketiga, kita sebagai pelajar, masyarakat, dan generasi penerus harus aktif menciptakan ruang diskusi yang aman dan kritis. Ruang untuk bertanya, ruang untuk curiga, ruang untuk menyuarakan kebenaran tanpa takut dicap melawan.
Keempat, pelatihan dan pengembangan kompetensi pengajar, pesantren dapat menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.”
Kelima, Tumbuhkan mental kritis terhadap ajaran yang terasa janggal. Agama itu ruang untuk bertumbuh, bukan untuk dikunci dengan rasa takut atau malu.
Keenam, Dukung Santri untuk Bicara, Buat ruang aman bagi santri yang ingin melapor. Jangan biarkan mereka merasa sendiri atau disalahkan ketika berani bicara.
Ketujuh, kembali lah kepada Al-Qur’an, pada sirah Nabi, dan pada akal sehat. Karena iman tanpa ilmu bisa membabi buta, dan ilmu tanpa iman bisa membeku.
Jangan Biarkan Agama Diculik oleh Mereka yang Berjubah
Kita hidup di zaman di mana jubah bisa menipu, sorban bisa jadi topeng, dan ayat bisa dijadikan alat menundukkan logika. Maka jangan heran kalau “ustaz” macam Walid bisa terus hidup di dunia nyata karena kita sendiri yang membiarkannya.
Kalau hari ini kita masih diam, masih takut bertanya, dan masih lebih percaya “gelar ustaz” ketimbang isi ajarannya maka bersiaplah penerus bangsa kita akan sujud pada orang yang bukan Tuhan. Jangan cuma marah ke Walid, tapi lihat sekeliling kita. Berapa banyak pesantren yang sudah jadi kerajaan mini? Berapa banyak dalil yang dikutip untuk membungkam, bukan membimbing?
Karena kalau iman hanya diwariskan tanpa dipertanyakan, maka yang tumbuh bukan keyakinan. Tapi kepatuhan tanpa arah. Inilah salah satu alasan kenapa bangsa kita sulit maju:
kita diajari untuk manut, bukan untuk memahami. Dan selama kita membiarkan ketaatan dibungkus kebodohan, maka nama agama akan terus dicatut oleh orang-orang yang paham cara memanipulasi rasa takut.
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















