Jakarta, Prokabar – Perjalanan Artjog, perhelatan seni rupa kontemporer berskala besar di Indonesia telah menginjak usianya ke 17 tahun. Pernyatan ini disampaikan Heri Pemad selaku Founder dan CEO Artjog di acara Temu Media dan Pembukaan Road To ARTJOG 2024 – Performa Kinestetik, di Serambi Salihara, Jakarta.
Menurutnya, Artjog yang awalnya bernama Jogja Art Fair, dan merupakan bagian dari rangkaian event Festival Kesenian Yogya (FKY) memang bukan sekedar pameran seni rupa belaka, tapi ada wacana pasar, pameran kontemporer dan seterusnya.
“Kita butuh ruang dan harus kita ciptakan sendiri. Spiritnya membuat pameran besar yang bisa terorganisir dengan baik. Yang menjadi tempat seniman bukan sekedar adu nyentrik.
Sampai saat ini Artjog telah memamerkan ribuan karya seni, yang bisa dinikmati anak-anak, anak muda hingga orang awam. Dengan kesadaran menghadirkan kesetaraan,” ujarnya.
Road to ARTJOG 2024 – Performa Kinestetik akan berlangsung mulai 20 hingga 30 April 2024 di Galeri Salihara. Sedangkan Artjog Motif: Ramalan, akan berlangsung mulai 28 Juni 2024 di Museum Nasional Jogjakarta.
“Road to Artjog ditujukan untuk menjemput bola, kami ingin menyapa lebih banyak orang. Menurut kami, masih banyak yang belum tahu atau ingin terlibat tapi kurang dekat dengan Artjog. Kami ingin keluar kandang, menuju Jakarta. Supaya lebih dekat,” kata Heri Pemad menambahkan.

Selama penyelenggaraannya, atau sejak tahun 2008 lalu, Artjog telah dikunjungi puluhan ribu penonton setiap tahunnya, sekaligus menjadi tujuan wisata seni, dan menjadi ruang diplomasi budaya.
“Sekaligus menjadi lebaran seniman. Dan tempat memperjuangkan kegelisahan kami sebagai seniman,” katanya.
Ditambahkan seniman Zulfian Amrullah yang terlibat melalui karya instalasi kursinya ia mencoba mengutak-atik bentuk kursi yang dilekatkan dengan tubuh manusia. Melalui proses berkarya yang telah dijalani Zulfian selama 10 tahun terakhir dengan obyek kursi, Zulfian ingin menghadirkan bentuk lain dari kursi yang menyerupai manusia tanpa wajah.
“Jadi ada peristiwa atau adegan yang saya bikin dari kursi-kursi tersebut. Misalnya, orang saling tuding-menuding, orang bercinta, atau melompat. Karena kursi tidak punya wajah, saya menghilangkan ekspresi itu. Jadi ekspresinya dari bentuk kursi. Sisi imajinasinya di situ ada gerak terbatas tapi ada kemampuan tubuh kursi yang saya utak-atik. Mencoba memantulkan apa yang biasanya dilakukan oleh manusia,” jelas Zulfian.
Penasaran dengan maha karya seniman Artjog, pengunjung dapat membeli tiket pameran Performa Kinestetik, melalui media sosial dan website ARTJOG atau langsung kunjungi tiket.salihara.org. (beb)
















