Agam, Prokabar – Delsy, sosok wanita inspiratif asal Jorong Tanjung Sani, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Pelaku usaha rumah tangga nan gigih dan penuh sangat berinovasi.
Berawal pada 2005, ia memiliki sebuah warung minuman kopi dan membuat berbagai macam sarapan pagi. Seperti lontong, nasi goreng dan aneka kue lainnya. Waktu terus berjalan.
Ingin meningkatkan inovasi usaha, Delsy kembali berfikir, apa yang lebih bagus untuk menarik dijual selain sarapan pagi yang bisa meningkatkan pendapatan. Hingga malam, aktifitas kembali berlanjut seiring membuatkan minuman kopi untuk orang yang duduk di kedai. Santai sambil ngobrol.
Sang suami, seorang supir harian angkutan Tanjung Sani ke Bukittinggi. Mobil milik saudara laki-lakinya. Walau suaminya seorang supir, ia tetap bangga dan bahagia. Kehidupan cukup, untuk menghidupi kedua anak gadisnya. Anak pertama masih Kelas 1 SMPN 1 Maninjau, anak kedua kelas 3 SD Islam Rasuna Said di Maninjau.
Kemudian tercetus ide, Bagaimana bisa membuat kue donat yang empuk dan enak. Hingga suatu ketika, ide itu terwujud. Kue donat nan empuk dan lembut berhasil dibuat, berkat bantuan orang yang datang dari Padang.
Kisahnya bisa ketika ada pengerjaan jalan pengaspalan di depan rumah. Karena berjualan, para sebagian pekerja berhenti dan istirahat di warung. Salah seorang supir pekerja itu kebetulan membawa istrinya dari Padang.
“Kebetulan banget ibu ini bisa bikin kue. Saya bisa bantu mengajarkan membuat donat yang empuk dan lembut,” ujarnya.
“Beliaulah yang mengajarkan saya bagaimana membuat donat yang lembut,” terangnya. Walau sudah jam sebelas malam menyediakan bahan untuk membuat kue donat empuk dan lembut itu, Alhamdullillah Allah masih memberiku kesehatan untuk belajar. Esok harinya, Delsy langsung mempraktekannya.
Sejak saat itu, selain tetap berjualan lontong dan nasi goreng, usaha kue donat dimulai dengan jumlah satu kilogram. Secara bertahap mulai naik dua kilo hingga tiga kilogram perhari.
Karena memiliki hobi masak-memasak, usaha donat hingga berkembang catering, meski masih skala kecil. Pesanan berkembang melalui berbagai kegiatan di tingkat jorong hingga Pemerintahan Kenagarian Sungai Batang. Berfikir, kue yang telah dibuat tidak hanya dinikmati masyarakat Tanjung Sani saja, juga bisa sampai ke luar Kenagarian Sungai Batang.
Pelanggan dan pembeli terus meningkat, berbelanja di warung. Dalam sehari berhasil habis mencapai 100 buah perhari.
Karena konsumen meningkat, Desy pun kembali meningkatkan jumlah pembuatan. Dari sekitar satu hingga tiga kilogram, menjadi 10 kilogram bahan tepung dan lainnya.
Donat yang dibuat mulai dititipkan ke setiap warung dan hampir ke kedai sekeliling Danau Maninjau. Harga penjualan satu buah senilai 2000 rupiah. Dengan modal motor mio untuk bisa mengantar dan menjemput sisa kue terjual. Hingga motor sempat dimodifikasi agar bisa ada keranjang mengangkut kue donat.
Usaha semakin meningkat, dan kue donat mulai dijual setiap hari balai di pasar tradisional. Terutama di hari rabu dan hari jumat. Namun terjadi kendala, seiring usaha meningkat, menuntut kebutuhan produksi harus ditambah. Apa daya menggunakan alat seadanya tentu produksi tidak bisa ditingkatkan lebih dari 15 kilogram bahan baku. Sementara, untuk membeli mesin pengaduk belum mampu karena harganya cukup mahal.
Kebutuhan terus bertambah, seiring tingkat pendidikan anak pun bertambah. Warung lontong mulai sepi. Usaha dan ide mulai buntu.
Berjalannya waktu, Delsy mendapat kesempatan bergabung dengan kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sebagai anggota aktif berbagai ilmu, pengalaman dan kesempatan bertambah lebar.
Kaena sudah memiliki usaha donat, pengolahan masih manual, ia tetap optimis ikut berbagai pameran atau bazar yang diadakan pihak Pemerintah Kecamatan Tanjung Raya dan Kabupaten Agam. Kondisi ini berhasil meningkatkan kemampuan dan memiliki surat perizinan usaha seperti P-IRT, IUMK dan Sertifikat Halal dari MUI.
Wabah pandemi covid 19 datang secara mendadak mengganggu stabilitas perekonomian dan kesehatan. Dan ibu dua anak gadis ini harus terdiam kaku, sambil memungut 150 kotak donat tersimpan di warung. Hingga saat ini belum maksimal memproduksinya.
“Aku berharap bisa mendapatkan mesin pengolah roti atau donat, untuk kualitas yang lebih baik. Sampai sekarang belum juga dapat. Sementara kebutuhan dan biaya terus meningkat ke tingkat universitas. Adeknya pun akan menyusul,” ungkapnya.
Untuk usaha donat aku istirahat dulu, tuturnya. “Aku berharap suatu saat aku bisa memiliki mesin pengaduk dan pencetak donat yang sampai bisa menghasilkan ribuan donat, dengan hasil maksimal.
Karena prospeknya sangat bagus.
Dan banyak disukai semua kalangan masyarakat,” imbuhnya.
Menurut banyak pembeli, donat buatannya berbeda dengan buatan yang sering beredar di pasaran. Hanya saja keterbatasan alat produksi, ditambah pandemi Covid-19, salah satu wanita Inovatif dari Sungai Batang ini istirahat memproduksi donat. Untuk sementara waktu beralih ke bidang kuliner pengolahan ikan, karena banyak permintaan dan bergabung dengan sejumlah penggiat pengolahan ikan di tingkat Kabupaten Agam.
“Aku pun berfikir lagi, kenapa tidak mencoba untuk mengembangkan hasil pengolahan ikan yang berserakan di Danau Maninjau?
Sementara aku hidup di pinggir Danau Maninjau yang banyak potensi dan bisa di ambil hasilnya,” Kata Delsy.
Ibu itu mencoba mengolah Ikan Bada, menjadi Bada Goreng Garing. Juga Rinyuak (Ikan Bada dan Rinuak merupakan ikan endemik khas Danau Maninjau) yang selalu banyak dijual orang setiap pagi. Mencoba untuk mempelajari Lagi cara mengolah Rinyuak menjadi pelengkap menu yan digemari masyarakat.
Sejumlah olahan terutama Dendeng Rinyuak, Rendang Rinyuak, Rinyuak Krispy Orei, Bada Goreng dan Bada Salai atau Bada Masiak. “Aku coba pasarkan melalui online ke grup yang ada di dalam kontak hp. Dan kebetulan aku bergabung dengan organisasi Aisyiyah, Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Agam yang pernah mengorbitkan aku ikut lomba ketahanan pangan untuk olahan ikan,” terangnya.
Saat mengikuti perlombaan, berhasil lolos di Tingkat Kabupaten Agam, kemudian berlanjut ke Tingkat Provinsi Sumatera Barat.
“Alhamdullillah, hasil olahan ini diorbitkan ke Tingkat Nasional yang diadakan ke Kota Gudeg, Yogyakarta. Bersama rombongan penggerak UMKM Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Agam, menuju Kota Budaya dan Kota lahirnya Muhammadiyah,” ulasnya.

Maaf aku lupa berapa yang ikut lanjutnya. Kami mewakili Sumatera Barat, Alhamdullillah mendapatkan nominasi terbaik, Peringkat 10 besar untuk seluruh Provinsi Se-Indonesia. Walau tidak juara satu, tapi kami bangga bisa mengikuti kompetisi.
Ia senang mendapat kesempatan yang tak ternilai harganya. Juga pengalaman yang kami dapatkan, sekaligus kunjungan istimewa salah seorang Profesor UGM dan Brigjen Pol Hery saat itu menjabat sebagai Waka Polda Yogjakarta. Kebetulan beliau orang Minang. Dan beliau sangat tertarik dari segala olahan ikan Danau Maninjau.
“Alhamdullillah jualan kami di hari pertama laris manis. Selanjutnya, aku sering datang ke kantor Dinas Perikanan dan Dinas Koperindag untuk mendekatkan diri dan produk yang aku buat. Terutama dari olahan ikan. Dengan dorongan dari dinas terkait, aku mulai mengajukan permohonan bantuan alat produksi. Tapi sampai saat ini belum ada yang berhasil,” ujarnya.
Yang sangat menarik dan sangat bermanfaat imbuhnya, usaha yang sudah dilakoni sudah mendapatkan sertifikat halal yang tak ternilai harganya. Dan begitu sulit untuk mengurusnya jika secara pribadi.
Dengan pemasaran hanya melalui online, disebarkan ke semua grup yang ada di ponselnya. Orderan lumayan bisa dikumpulkan untuk tambahan uang semester anak yang kuliah jauh darinya di Jakarta, kos pula sendiri.
Untuk menambah wawasan, ia mengikuti segala pelatihan-pelatihan yang diadakan dari dinas terkait. Cukup bermanfaat terutama dilaksanakan melalui dana Pokir Anggota Dewan untuk UMKM. Ilmu yang sangat berharga didapatkan.
Untuk saat ini, pesanan hanya bisa melalui online karena masih pandemi covid 19. Penjualan jauh merosot. “Tapi aku tak putus asa. Aku tetap mempromosikan semua produk yang aku olah. Baik melalui sosial media WhatsApp, Instagram, Facebook dan lainnya. Bahkan membuat video lagu sambil promosi produk,” imbuhnya.
“Untuk menjalani kehidupan dari mulai bangkit dan berjalan, jatuh, bangkit lagi. Jatuh lagi dan bangkit lagi. Kita butuh hidup.
Tak mungkin hanya diam saja. Semangat akan tetap tumbuh, dengan dukungan suami juga anak anak,” tutupnya. (rud)
















