Proses Pengobatan Tradisional Black Magic Dalam Naskah Mantra

Penulis -

Kamis, 29 Desember 2022 - 21:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Nurhayati
Mahasiswa FIB, Universitas Andalas

Pada zaman dahulu, banyak orang yang mengunakan pengobatan dengan cara tradisional. Pengobatan tradisional manfaatkan bahan alami untuk pembuatan obat. Penggunaan obat tradisional dengan bahan alami, untuk peningkatan kesehatan maupun pengobatan penyakit. Berbagai macam cara pengobatan dengan memanfaatkan bahan alami pada alam sekitar dengan meracik atau meramu obat-obatan.

Salah satunya pengobatan melalui media tanaman seperti sirih, akar-akar kayu, majur wadak, pupuk, lungsur yang terdapat dalam salah satu naskah Mantra, tidak hanya bermedia tamanan terdapat juga mantra-mantra pengobatan sebagai salah satu pengobatan herbal atau penawar yang menggunakan madia mantra, bacaan dan azimat.

Perpaduan antara obat tradisional yang mengunakan bahan alami dengan bermedia mantra adalah salah satu cara orang zaman dahulu untuk mengatasi penyakit dan pengobatan tradisional yang masih digunakan.

Naskah Mantra merupakan naskah lama yang berisi tentang pengobatan. Naskah mantra menggunakan bahasa Arab dan Melayu dengan aksara Arab dan Jawi berbentuk prosa. Jumlah baris setiap halaman ada sebelas dan keadaan naskah sudah dalam kondisi lapuk. Isi naskah mantra milik Najib memuat tentang mantra dan pengobatan yang lengkap.

Mantra dan pengobatan yang tertulis dibagi dalam beberapa bagian, yaitu (1) obat berupa mantra (2) obat berupa bacaan untuk penyakit yang terbagi ke dalam tiga bagian; bacaan yang diambil dari ayat Alquran; bacaan yang diambil dari selawat, dan bacaan yang diambil dari doa.

(3) pengobatan secara herbal (4) obat herbal untuk penyakit yang mendapat tambahan bacaan atau wafak (5) obat yang berbentuk tulisan wafak tau rajah yang terbagi beberapa jenis, yaitu wafak yang bersumber dari ayat Alquran, wafak yang terdiri dari huruf-huruf hijaiyyah yang disusun sedemikian rupa, wafak yang berasal dari doa.

(6) pengobatan yang berupa azimat (7) bacaan atau mantra untuk berbagai tujuan seperti menjaga diri dan harta dari marabahaya dan (8) isim.

Mantra hitam (black magic) yang lebih dikenal secara umum oleh masyarakat Jawa Barat sebagai teluh atau tenung atau santet sebagaimana dikenal di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur, secara definitif dapat diartikan merusak secara halus (ilmu gaib). Mantra sering disalah gunakan salah satunya mantra pendendam adalah mantra pembalasan atas perbuatan jahat orang yang mengirimkan mantra untuk mencelakai si pembalas.

Mantra hitam merupakan motif mendendam dan ingin mencelakai orang yang mencoba mencelakainya. Adapun menurut kalangan paranormal, mantra hitam yang lebih dikenal sebagai santet atau teluh terbagi atas beberapa jenis, yaitu: Dematrealisasi, Teluh kontak, Teluh kekuatan aku batin, Teluh kekuatan roh, dan Teluh ngelmu.

Mantra hitam atau black magic baik yang bertujuan untuk mencelakai atau memperdayakan orang dapat ditolak atau dicegah dengan beberapa cara.

Adapun cara pencegahan terhadap teluh dan sejenisnya yang paling utama ialah kita harus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahaesa di samping harus tawakal (berserah diri) kepada Allah SWT. Hikmah dari berserah diri tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu tidak mudah kecut atas gertakan dari pihak lain karena kita yakin bahwa setiap makhluk hidup ada yang menghidupi dan sudah tentu ada yang menjaganya.

Mantra pengobatan lainnya, dengan berbekal keyakinan dan bersandar sepenuhnya kepada Allah, mantra diucapkan untuk tujuan agar dapat menolong dan mengobati orang lain yang terkena suatu penyakit dapat disembuhkan, khususnya Jampé dan Jangjawokan. Berfungsi untuk kebaikan serta dirasakan manfaatnya oleh sendiri dan atau orang lain, maka mantra dapat diterima.

Masyarakat penghayat mantra menolak kehadiran dan penggunaan black magic tersebut. Baik jampé maupun jangjawokan ada syarat-syarat tertentu yang harus dilaksanakan oleh pengguna agar mantra atau jampénya sempurna, seperti misalnya harus berpuasa selama delapan hari dan selama itu pula orang tersebut tidak boleh tidur, lalu harus berendam di sungai, atau mandi di tujuh pancuran, serta jangan sampai bertemu dengan orang lain.(*)

 

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB