Oleh: Rizal Marajo
(Wartawan Utama)
Jerman, negara juara dunia empat kali itu jadi bulan-bulanan setelah melakoni laga pertama di Piala Dunia 2022 di Qatar. Tidak hanya karena kalah dari Jepang, tapi juga karena perangai dan arogansi yang tak berkeruncingan.
Sebelum laga memalukan itu, aksi tutup mulut dalam foto sesion sebelum laga banyak dipertanyakan. Jerman katanya melakukan itu sebagai bentuk protes, karena Qatar sebagai tuan rumah dan didukung FIFA, dengan tegas melarang segala bentuk kampanye LGBT, termasuk memakai ban kapten pelangi, simbol LGBT.
“Sok-sokan dukung kampanye one love, ujung-ujungnya dibabat Jepang one two.”olok-olok netizen.
Belum lagi sikap over konfiden para pemainnya di lapangan, karena lawannya “cuma” Jepang. Bahkan seorang pemainnya, Antonio Rudiger dikecam habis-habisan karena mengolok-olok gaya lari pemain Jepang, Takuma Asano.
Sialnya, justru si Takuma Akano itulah yang mencetak gol penentu kemenangan Jepang dan membuat Jerman dipermalukan di pentas yang telah empat kali dijuarainya. Der Panzer seketika jadi bahan tertawaan.
Di Jerman sendiri, para pemain dan official juga mendapat banyak hujatan, karena dinilai tak fokus pada pertandingan. Termasuk kritik tajam dari Legenda timnas Jerman Lothar Matthaus.
Mantan Kapten Jerman itu menyebut Der Panzer kurang kerjaan di Qatar dan terlibat terlalu banyak drama tak penting jelang Piala Dunia 2022, sehingga kalah dari Jepang. Pasukan Hansi Flick larut dalam polemik ban kapten LGBT One Love sebelum laga melawan Jepang.
Bahkan para pemain Jerman sempat melakukan protes terhadap keputusan FIFA yang melarang ban kapten One Love dengan berpose menutup mulut sebelum laga. Aetinya, terlalu banyak isu yang dimunculkan diluar sepakbola.
Hal ini sama seperti Piala Dunia 2018, dimana Jerman datang ke Rusia dengan menepuk dada sebagai juara bertahan. Mereka kerap bicara tentang isu-isu diluar sepakbola, ketimbang serius bekerja keras mempertahankan gelar juara yang direbut di Brasil 2014.
Hal seperti itu juga mereka lakukan di Qatar. Bahkan, Kekalahan dari Jepang juga membuat sejumlah media Jerman murka.
Bahkan Die Welt menulis: “Kekalahan Jerman melawan tim rata-rata, terasa seperti mandi air dingin. Karena kesombongan Jerman yang telah menetes dari setiap pori pemain dalam beberapa minggu terakhir”kecam media itu.

Seperti mengalami deja vu, empat tahun lalu Timnas Jerman gagal lolos fase grup di Piala Dunia 2018 setelah dikalahkan Korea Selatan 0-2, dalam sebuah pertandingan yang juga membuat malu Jerman sebagai juara bertahan.
Ketika itu skuad Der Panzer katanya diganggu isu di luar lapangan, yakni munculnya foto Ilkay Gundogan dan Mesut Ozil bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Foto itu membuat berang masyarakat Jerman hingga Kanselir Angela Merkel. Ketika itu nasionalisme Gundogan dan Ozil, yang keturunan Turki, dipertanyakan.
Entah mengapa hal itu kembali dipertanyakan Jerman. Padahal kebangkitan kembali sepakbola Jerman tak bisa dilepaskan dari peran para pemain keturunan dan anak-anak para imigran yang datang ke Jerman.
Sedikit kilas balik, ketika sepakbola Jerman terpuruk dan hancur lebur di Piala Dunia 1994 dan Piala Dunia 1998, para petinggi sepakbola Jerman kebakaran jenggot. Tim yang tahun 1990 masih bisa juara dunia, hanya dalam waktu empat tahun, langsung terjun bebas secara beruntun di dua Piala Dunia.
Ini ilustrasinya tahun 1994 sebagai juara bertahan, Jerman kalah 0-2 dari Bulgaria di babak perempatfinal. Empat tahun kemudian di Prancis, giliran Kroasia menggebuk Jerman 3-0 di perempatfinal.
Sempat lolos ke final Piala Dunia 2002, tahun 2006 saat jadi tuan rumah, Jerman justru dipangkas Italia di semifinal. Tahun 2010 pun nama besar Jerman pun belum kembali, karena disikat Spanyol di semifinal.
Apa yang dilakukan Jerman?
Usai Piala Dunia 1994, diam-diam DFB atau PSSI-nya Jerman membuat sebuah program jangka panjang, menyamakan kurikulum Sekolah sepakbola (SSB) dan akademi klub-klub Bundesliga.
Dana puluhan juta Euro dialokasikan untuk mencetak pemain-pemain berbakat dari berbagai SSB dan akademi klub-klub Jerman itu. Yang menonjol akan diambil DFB untuk masuk proyek Timnas Jerman secara berjenjang.
Menariknya, para pemain keturunan atau anak-anak imigram diperbolehkan masuk proyek pengembalian nama besar sepakbola Jerman itu. Jerman yang biasanya nol toleran terhadap hal-hal yang berbau imigran, apalagi menyangkut Timnas Der Panzer, kini mulai terbuka.
Setelah berpuluh-puluh tahun tak ada tempat di Timnas Jerman bagi pemain keturunan dan anak-anak imigran, kini Jerman mulai berwarna dan ramah. Mereka tak lagi sombong dengan semboyan Deutschland Uber Ales, yang merupakan warisan Hitler.
Hanya 20 tahun, di Piala Dunia 2014 di Brasil. Jerman sudah mulai memetik hasil proyek mereka. Bahkan mereka membuat rekor, tim Eropa pertama yang juara dunia saat Piala Dunia digelar di benua Amerika.
Lihat juga pengisi skuad Jerman; ada nama-nama seperti Jerome Boateng, Mesut Ozil, Shokrean Mustafi, Sami Khedira, Emre Can, Ilkay Gundogan, ataupun Antonio Rudiger. Nama-nama yang mustahil ditemukan sampai dua dekade sebelumnya.
Sekarang di Piala Dunia Qatar 2022, semakin banyak warna-warni Timnas Jerman, ketika ada nama-nama seperti Youssoufa Moukoko, Nicklas Sule, Karim Adeyami, Leroy Sane, Armel Bella-Kotchap, atau Jamal Musiala.
Mereka, bisa satu tim dengan Manuel Neuer, Thomas Muller, Mathias Ginter, Joshua Kimmich, ataupun Kai Harvertz, dan lain-lainya yang ‘asli” Jerman.
Entah kenapa, dengan keterbukaan dan warna-warni yang sudah demikian menyatu dalam Die Mannschaft, tapi masih sempat-sempatnya melakukan kampanye kurang kerjaan dan tutup mulut di Qatar.(*)
















