
Oleh Rizal Marajo
(wartawan utama)
966-LPDS/WU/DP/XI/2012/09/08/72
Seperti biasa, setiap Piala Dunia ada satu pertanyaan wajib yang akan terus bermunculan. Siapa yang akan juara? Pertanyaan basi, tapi menjadi segar lagi setiap iven empat tahun sekali itu digelar.
Apakah Argentina dengan Lionel Messi-nya yang masih memburu mahkota di penghujung karirnya? Messi yang merana, karena selagi belum meraih juara Piala Dunia untuk Argentina, namanya akan tetap dibawah bayang-bayang Diego Maradona, selamanya.
Atau Brasil, tim yang disebut punya skuad paling berkelas dan komplit tahun ini. Tapi perlu dicatat, Brasil sejak juara tahun 2002, selalu jadi pecundang tim-tim Eropa di empat Piala Dunia terakhir.
Inggris bagaimana?, tim yang punya nilai skuad termahal versi transfermarket ini, disebut berpeluang bagus setelah 56 tahun tak pernah lagi juara.
Start bagus dengan melipat Iran 6-2 dalam pertandingan pertama Grup B tadi malam, setidaknya memberi sedikit tanda, The Three Lions cukup layak masuk kandidat juara.
Jangan lupakan Prancis, juara bertahan yang tetap harus diperhitungkan. Kendati hancur lebur diterpa badai cedera pemain, Prancis tetap layak diunggulkan.
Le Bleus masih punya Kylian Mbappe, pemain sepakbola terbaik di dunia saat ini. Bersama Erling Haaland, dia menjadi simbol peralihan generasi pesepakbola hebat, setelah era Messi dan Cristiano Ronaldo meredup.
Spanyol, dengan deretan pemain muda yang siap menghibur publik planet ini dengan sepakbola mereka yang simple dan dinamis.
Tapi rasanya mereka belum cukup kuat untuk kembali merajai iven-iven besar seperti Piala Dunia ataupun Euro, layaknya era generasi emas mereka seperti Xavi, Gerard Pique, Andreas Iniesta, Xabi Alonso, Sergio Ramos, dan tentu saja IUker Casillas.
Apa kabar Belanda?
Sejak Piala Dunia edisi pertama tahun 1930 sampai Piala Dunia 1994, trophy juara hanya berputar-putar di enam negara saja, Brasil, Italia, Jerman (Barat), Uruguay, Argentina dan Inggris.
Butuh 68 tahun untuk mendapatkan juara baru, ketika Prancis juara di rumah sendiri tahun 1998. Setelah itu hanya perlu dua kali Piala Dunia lagi untuk mendapatkan juara baru lagi, yaitu Spanyol yang juara tahun 2010 di Afrika Selatan.
Setelah dua Piala Dunia sejak Spanyol juara 2010, sekarang muncul lagi pertanyaan apakah akan muncul juara baru lagi di Qatar 2022. Bisa saja, jika teori siklus sejak Prancis juara 1998 butuh dua kali Piala dunia untuk munculnya juara baru.
Berbicara tentang juara baru, dua negara yang punya tampang untuk bisa memegang trophy, adalah Portugal dan Belanda. Tapi diantara keduanya, Belanda lebih berpotensi meng-oranje-kan Qatar.
Portugal kini bermasalah dengan bintang dan kaptennya, Cristiano Ronaldo yang semakin banyak tingkah dan suka membuat gaduh di usia senjanya. Diyakini dia tak akan cukup kuat terbang sampai tangga juara di Qatar bersama Portugal.
Tinggal Belanda, negara yang paling apes nasibnya di Piala Dunia. Tiga kali maju ke final, 1974, 1978, dan 2010, semuanya diunggulkan untuk jadi juara. Tapi tiga final itu de Oranje gagal merengkuh trophy, miris.
Belanda hari ini memang tak lagi punya pemain seperti era Arjen Robben, Wesley Sneijder, atau Robin van Persie. Juga sangat jauh dari kualitas tim era Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard dan kawan-kawan.
Apalagi dibandingkan tim era total Fottball era 1970-an yang berujung dua final Piala Dunia 1974 dan 1978.
Tapi dibawah pelatih jenius, Louis van Gaal, Belanda bisa melakukan apa saja dengan skuad semenjananya, termasuk mengangkat trophy di Lusail Iconic Stadium, 18 Desember 2022 mendatang.
Langkah awal sudah dilalui Belanda dengan mulus, walau harus susah payah mengalahkan Senegal 2-0 di Grup A. Cukup menjanjikan permainan Virgil Van Dijk, Nathan Ake, Frankie De Jong, dan tentu saja bintang muda yang sedang jadi rebutan klub-klub besar, Cody Gakpo.
Berlebihan dan subjektif? Tidak juga, dalam sepakbola apapun bisa terjadi.
Hayya…hayya….hayya, Nikmati Qatar 2022.(*)
















