4. Masjid Raya Pariaman

Masjid dengan heritage (warisan budaya) masyarakat Pariaman dengan nama sebelumnya Surau Pasa. Masjid ini memiliki struktur dan motif bangunan unik dan mistis, serta menggambarkan arsitektur tempo dulu. Masjid yang diperkirakan berumur 200 tahun atau sudah ada sejak abag ke-19 atau tahun 1882. Didirikan oleh Ulama Syekh Muhammad Djamil Djambek dibantu arsitektur Cina dan Arab dahulunya. Perjuang memakan biaya yang cukup besar dan tenaga pada saat itu.
5. Wisata Muaro Mati

Wisata muaro mati terletak di Desa Marunggi, Kecamatan Pariaman Utara. Daerah Talao dengan wilayah lebih kurang empat hektar dipenuhi Mangrove mati. Lokasi dikelilingi danau kecil dan kini malah menjadi destinasi baru di Kota Pariaman. Masyarakat setempat memanfaatkan momen tersebut untuk keuntungan ekonomi. Selain indah, pengunjung selalu ramai berdatangan ke lokasi tersebut.
Wisata Muaro Mati
Objek wisata yang belum terkelola dengan baik itu lahir, berawal seorang foto grafer dan artisnya melakukan foto wedding di sekitar lokasi. Beberapa hari kemudian hasil karya foto grafer tersebut beredar di dunia maya dan menjadi viral di tengah masyarakat. Sejak saat itu kunjungan terus mengalir hingga berkembang menjadi wisata muaro mati. Masyarakat menyediakan tiga buah sampan serta sebuah lokasi untuk berfoto ria. Pengunjung dan masyarakat tampak menikmati lokasi tersebut sebagai sarana wisata menarik dan menghasilkan nilai ekonomis.
6. Kesenian Ulu Ambek Di setiap Sanggar atau Laga-laga

Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman sebagai masyarakat pesisir pantai Sumatera Barat memiliki ragam budaya unik yang tidak dimiliki daerah Minangkabau lainnya. Seperti kesenian Ulu Ambek. Pelestari Ulu Ambek adalah para pendekar yang tergabung dalam sebuah perguruan silat yang memiliki Laga-laga (tempat mereka tampil dan berlatih).
Ulu Ambek sendiri adalah seni pertunjukan dua orang pandekar dalam memainkan gerak silat yang tidak bersentuhan, melainan menggunakan (raso jo pareso atau rasa dan periksa) antara serangan dan tangkisan. Bila seseorang terlambat menahan tangisan atau terkena serangan lawan, disebut buluih. Bila itu terjadi, biasanya pemain beserta gurunya akan menanggung malu di kampung halamannya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
















