7 Fakta Unik Wisata di Kota Pariaman

Penulis -

Minggu, 8 April 2018 - 16:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pariaman, Prokabar – Pariaman salah satu kota kecil yang terletak di Pantai Barat Provinsi Sumatera Barat. Salah satu wilayah yang hanya berjarak 25 km dari Bandara Internasional Minangkabau dan 56 km dari Kota Padang. Kota Tabuik nama lain dari kota kecil ini memiliki 7 fakta unik dan legenda di tengah masyarakat. Dan bagi pengunjung berwisata ke Pariaman, wajib mengetahui cerita legenda tersebut. Apa saja itu? Mari kita urai satu persatu:

1. Pulau Angso Duo

Foto : Pulau Angso Duo

Pulau Angso Duo adalah salah satu Objek wisata pertama paling menarik dan unik untuk dikunjungi. Pasalnya, di pulau dengan luas sekitar 1 hektar ini terdapat sejarah yang belum terungkap sepenuhnya dari pakar sejarah. Di pulau itu terdapat sebuah Sumur Tua, beserta beberapa Pemakaman kecil disertai satu kuburan dengan panjang 7 meter. Masyarakat mengenal kuburan tersebut mendiang Ulama Katik Sangko.

Makam Ulama Katik Sangko

Menurut catatan naskah aksara jawi hasil transliterasi dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Addriyetti Amir dan disunting oleh Sudarmoko di buku PUITIKA Edisi Khusus Agustus 2001, Katik Sangko merupakan pengawal perjalanan Syekh Burhanuddin yang diperintah Syekh Abdulrauf as Singkili (guru dari Syekh Burhanuddin) dari Aceh kembali ke Ranah Minang. Bertujuan menyiarkan Agama Islam pada tahun 1070 Hijriah atau 1689 Masehi.

Singkat cerita, mereka bersama-sama kembali ke kampung halaman dalam waktu dua kali periode dengan jumlah rombongan hulu balang (pendekar) yang berbeda pula. Kepulangan pertama gagal hingga yang kedua kali berhasil, melawan kelompok jahat ahli sihir. Seperti Pasukan Basa Nan Ampek (masyhur 4 orang) yaitu Kilik-kilik Jantan, Gaga Tangah Padang, Jin Paneh dan Wama. Sebelum mendarat ke pesisir Pariaman, Syekh Burhanuddin dan Katik Sangkob terlebih dahulu berlabuh di Pulau Angso duo. Mitosnya, Angso Duo dari nama Pulau itu merupakan lambang atau simbol dari dua tokoh Ulama berseragam jubah putih tersebut. Konon mereka memiliki kemampuan terbang dan berjalan di atas air, seperti Burung Angsa. Masyarakat Pariaman mengabadikan pulau bertuah tersebut sebagai pulau kiramat nan sati dengan sebutan Pulau Angso Duo.

2. Konservasi Penyu

Konservasi Penyu

Kota Pariaman terletak dengan garis pantai sepanjang 12,73 km. Di samping itu juga terdapat 4 (empat) pulau kecil seperti Pulau Ujung, Pulau Tangah, Pulau Angso dan Pulau Kasiak. Pulau itu disekeliling ekosistem terumbu karang. Kawasan yang merupakan kawasan penyu bertelur setiap tahun. Jenis penyu yang banyak ditemukan adalah penyu lekang, penyu hijau dan penyu sisik. Berdasarkan potensi yang terdapat pada kawasan tersebut maka dijadikan kawasan konservasi perairan daerah Kota Pariaman oleh Walikota Pariaman pada tanggal 20 Oktober berdasarkan SK No. 334/523/2010. Kemudian berpindah ke wewenang Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera barat sesuai adanya Undang-Undang 23 Tahun 2014.

Konservasi Penyu

Penyu merupakan hewan yang dilindungi Indonesia sesuai Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pangawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. “Bahwa penyu berikut bagian-bagiannya termasuk telurnya merupakan satwa yang dilindungi oleh negara.” Dan peluang pemanfaatannya melalui penangkaran yang diatur PP No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.

3. Taman Hutan Mangrove

Taman Hutan Mangrove

Hutan Mangrove di Kota Pariaman terletak antara Desa Apar dan Desa Mangguang. Awalnya Hutan Mangrove atau Bakau cukup luas dan terdapat habitan udang dan kepiting, menjadi santapan masyarakat setempat. Akibat minimnya kesadaran masyarakat, Hutan Bakau tersebut hanya tersisa 1 hektar, dan terancam musnah akibat seringnya penebangan dan perusakan secara liar. Hampir semua jenis mangrove ada di sini. Namun yang sudah ditanami ribuan bibit di sana adalah jenis Rhizophora.

Melalui penggiat atau komunitas TDC (Tabuik Diving Club) bersama Pemerintah Kota Pariaman dan PT. Pertamina (DPPU) Minangkabau, Hutan Tersebut kemudian disulap menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi di Sumatra Barat. Taman Hutan Mangrove saat ini memiliki jembatan dengan panjang 50 meter dan lebar 1,5 meter (nantinya pembangunan dilanjutkan hingga tuntas), disertai papan informasi tentang Mangrove. Pengunjung dapat menikmati suasana asri Hutan Mangrove beserta seluk beluk manfaat Bakau bagi kehidupan Manusia.

Lanjut Halaman 2 –>>

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wonderland Hadir di CitraRaya Jambi, Tambah Pilihan Wisata Keluarga
Daerah Istimewa Yogyakarta Jalani Program Beti Dewi Kemenparekraf/Baparekraf
Dorong Pelaku Parekraf Desa Wisata di Malang, Menparekraf Kemas Paket Wisata Menarik
‘Beti Dewi’ Program Kemenparekraf Tingkatkan Promosi Digital Desa Wisata Labuan Bajo
Tingkatkan Daya Saing, Dinas Pariwisata Padang Gelar Pelatihan Pengelolaan Usaha Homestay
40 Desa Wisata Sumbar Masuk Nominasi 500 Desa Terbaik di Indonesia
Dispar Padang Berikan Pelatihan Tata Kelola, Bisnis Dan Pemasaran Destinasi Pariwisata
Pelaku Usaha di Pantai Air Manis Ikuti Pelatihan Kebersihan Lingkungan, Sanitasi dan Pengelolaan Sampah

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 21:37 WIB

Wonderland Hadir di CitraRaya Jambi, Tambah Pilihan Wisata Keluarga

Senin, 2 September 2024 - 20:53 WIB

Daerah Istimewa Yogyakarta Jalani Program Beti Dewi Kemenparekraf/Baparekraf

Selasa, 30 Juli 2024 - 21:21 WIB

Dorong Pelaku Parekraf Desa Wisata di Malang, Menparekraf Kemas Paket Wisata Menarik

Jumat, 26 Juli 2024 - 09:54 WIB

‘Beti Dewi’ Program Kemenparekraf Tingkatkan Promosi Digital Desa Wisata Labuan Bajo

Selasa, 11 Juni 2024 - 19:16 WIB

Tingkatkan Daya Saing, Dinas Pariwisata Padang Gelar Pelatihan Pengelolaan Usaha Homestay

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB