Limapuluh Kota,Prokabar – Savana sesayup mata memandang, luasnya 200 hektare lebih. Awan merendah. Patut dijangkau saja.
Itulah Padang Mengatas, Limapuluh Kota nan indah. Di sini 3 presiden pernah berselfie: Soeharto, SBY dan Jokowi.

Di sini, jalan membentang seperti tangga langit. Angin jangan disebut, melambai dia. Sibak rambut dibuatnya.
Jika pundak anda berat karena beban pikiran, bisa hilang sakitnya, kalau tiba di sini. Sejuk tuen.
“Kalau ada menteri yang suntuk di Jakarta, bisa hilang stresnya kalau di sini,” kelakar mantan Presiden RI SBY, saat ke Padang Mengatas 2013 lalu.

Begitu benarlah suasana padang gembala Padang Mengatas, atau disebut Balai Pembibitan Ternak Unggul-Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas milik Kementerian Pertanian di Luhak, Limapuluh Kota, Sumbar.
Sejak 4 tahun terakhir, Padang Mengatas mengalami kemajuan pesat.
“Populasi sapi di sini, sudah 1.500 ekor lebih. Ada simental, limocyn dan sapi lokal jenis pesisir,” kata Irwandi, Kepala BPTU HPT Padang Mengatas, belum lama ini.
Deputi Pembibitan Kementrian Pertanian Sugiono yang juga mantan Kepala BPTU Padang Mengatas menyebut, fasilitas peternakan ini adalah warisan pendudukan Belanda di Indonesia.
“Bahkan, sempat menjadi area peternakan terbesar se-Asia Tenggara,” kata Sugiono, terpisah. Padang gembala ini, pertama kali didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1916.
Saat itu hewan yang diternakkan adalah kuda. Baru pada 1935 didatangkan sapi Zebu dari Benggala, India untuk dikembang biakan. Perjalanan peternakan ini kerap jatuh bangun.
Pada Zaman Revolusi Kemerdekaan sekitar 1945 –1949 kegiatan peternakan di area ini terhenti.
Baru, kemudian pada 1950 oleh Wakil Presiden Dr. Moh. Hatta dipugar kembali dan 1951 – 1953 dijadikan sebagai Stasiun Peternakan Pemerintah dan di beri nama Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas.
Tahun 1955 ITT Padang Mengatas itu jadi peternakan yang terbesar di Asia Tenggara, di mana ternak yang dipelihara adalah ternak kuda, sapi, kambing dan ayam.
Padang Mengatas sempat mengalami kerusakan hebat, pada 1958 –1961, tepatnya saat terjadi pergolakan PRRI, dan lokasi ITT Padang Mengatas dijadikan sebagai basis pertahanan PRRI.

“Tahun 1973 –1974 Pemerintah Jerman mengadakan kajian di ITT Padang Mengatas maka pada 1974 – 1978 dilakukan kerja sama pembangunan kembali ITT Padang Mengatas antara pemerintah RI dan Jerman melalui proyek Agriculture Development Project (ADP),” sebut Sugiono.
Nah, pada 1978, proyek ADP berakhir dan diserahkan kepada Departemen Pertanian dengan nama Balai Pembibitan Ternak – Hijauan Makanan Ternak (BPT-HMT) Padang Mengatas sesuai dengan SK Menteri Pertanian RI No. 313/Kpts/Org/1978 dengan wilayah kerja 3 propinsi yaitu Sumbar, Riau, dan Jambi.
Tahun 1978 Padang Mengatas dibiayai Pemda Sumbar dan Pemerintah Pusat. Barulah 1985 seluruh pembiayaan diambil alih pemerintah pusat.
Soeharto, Presiden RI saat itu, pernah berkunjung ke Padang Mengatas. Sampa kini, foto Soharto ada di sana. Begitupun Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Ada pula foto SBY dan Ibu Ani di Padang Mengatas.
Tak kalah penting, kedatangan Presiden RI Joko Widodo 2015, justru seakan membuat Padang Mengatas kena vitamin baru. Kini, Padang Mengatas terus berbenah. Beberapa infrastrukturnya dibenahi total.
Hijauan, rumput khusus untuk makanan sapi, kini semakin luas saja ditanam. Mirip di New Zeland, Padang Mengatas indah sekali.
Sehabis menikmati panorama alam yang sempurna di Padang Mengatas, selain bulan Ramadhan, jangan lupa meneguk susu sapi segar di luar. Ada warga yang menjualnya. Susu sapi murni. Anda tak ke sini? Rugi! (vbm)
















