​Waduh, Jantung Wisata Itu yang Terbakar

Penulis -

Selasa, 31 Oktober 2017 - 07:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bukittinggi, Prokabar — Kebakaran Pasar Atas Bukittinggi, Senin (30/10) merupakan pukulan bagi dunia wisata.

Pasar Atas atau Pasar Ateh Bukittinggi, Berusia Hampir 200 Tahun Inilah pusat bordir terbesar di provinsi Sumbar. Pasar yang dijaga oleh Jam Gadang tersebut, dikawal Istana BungHatta yang oleh lidah rakyat disebut gedung Tri Arga, tiga gunung. Datanglah ke sana, Anda akan disambut riuhnya amai-amai (ibu-ibu) pedagang, yang dengan santun memanggil Anda dengan “menantu”, sapaan akrab orang Bukittinggi untuk tamu yang singgah ke kedai mereka. Pasa Atas sekaligus adalah pusat canda ria, keteguhan dan lambang Agam Tuo, kawasan inti Kabupaten Agam yang melingkari Bukittinggi.

Di Pasar Atas terdapat 973 toko, sebanyak 204 petak toko berada di lantai dua yang didominasi pedagang bordiran dan tukang jahit, sebagian besar mereka berasal dari Ampek Koto, Agam. Selain itu juga ada lapak pada hari pakan sekitar 610, namun pada hari biasa sekitar 497 lapak. Juga ada pedagang lapangan 265 pedagang.

Di Minangkabau dikenal hari pakan atau hari balai, yaitu hari saat pasar dikunjungi. Bukittinggi hari pakannya Sabtu dan Rabu, namun kini, tidak ada bedanya, karena setiap hari ramai. Apalagi banyak pelancong yang datang. Miliran rupiah transaksi terjadi setiap hari di pasar ini dengan pengunjung yang beragam. Jika hari libur, maka Pasar Atas susah didekati dengan kendaraan. Parkirnya amat susah. Apalagi makin hari, kian banyak saja PKL yang nekat berdagang di kawasan terlarang.

Jika Anda masuk maka pertama-tama yang menyambut tak lain Jam Gadang, sebuah patok titik nol kilometer Bukittinggi yang dibangun 1926. Melangkah menyeberangi jalan, langsung disambut rumah makan Simpang Raya. Selain sambalnya yang enak, di sini ada kuliner ampiang dadiah, susu kerbau yang dikentalkan dicampur emping dan tengguli, enaknya bukan buatan. Tentu saja non kolesterol. Deretan kios-kios kecil memajang, di sisinya hingga ke Pasar Seni, merupakan tempat berjualan pernak-pernik apa saja, terbanyak kaos dengan berbagai kata tentang Bukittinggi.

Toko-tokonya di lantai satu, menjual aneka pakaian dan bordiran khas Minang. Apalagi di lantai dua. Order bukan saja dari seluruh penjuru Sumatera Barat, tapi juga dari provinsi tetangga, Jakarta dan Malaysia. Jika turis Malaysia dalam dua tahun belakangan datang membawa koper kosong ke Bandung, hal serupa sudah terjadi puluhan tahun di Bukittinggi. Di sini harga bordiran, pakaian tradisional wanita Minang, mukenah, jilbab dan entah apalagi, murah meriah. Semua jualan itu disiapkan di Bukittinggi dan nagari-nagari sekitarnya, tapi jangan cemas dulu kebutuhan modern Anda juga tersedia di sini.

Jejeran patung dengan kain aneka warna menjadi konfigurasi indah di pasar ini. Sulaman yang indah pada kain akan menggoda siapa saja yang mampir. Lebih menggoda lagi rayuan para penjual. Sulaman itu dibuat gadis-gadis Bukittinggi dan sekitarnya. Hampir tiap rumah ada mesin bordir dan mesin jahit. Jika listrik PLN mati, maka terlihatlah gadis-gadis itu keluar rumah melepas lelah.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Harganya tentu bervariasi, mulai dari Rp 250.000-700.000, bahkan jutaan, tergantung banyak sulaman dan jenis bahan. Selain kain sulam, Anda juga bisa melihat jejeran kain songket yang dipajang di etalase toko. Songket ini juga lain pula indahnya.

Pasa Atas adalah etalase Bukittinggi, seperti juga Pasar Bawah dan Pasar Aur Kuniang. Yang disebut terakhir merupakan pusat pasar konveksi terbesar di Sumatera, punya jalinan khusus dengan Tanah Abang, Jakarta. Tak hanya Aur Kuniang, tapi juga Pasar Atas Bukittinggi dan Tanah Abang, ibarat dua tangan.

Sejarah Pasa Atas

Pasa Atas merupakan pasar rang Kurai, satu suku di Bukittinggi. Bukittinggi sampai sekarang disebut Koto Rang Agam (Kota Orang Agam). Agam merupakan sebuah kabupaten. Dulu, nenek moyang Agam Tuo, telah membagi produksi tiap nagari, sekarang disebut one village one product. Sebagai contoh, nasi yang enak sampai ke bulan itu, tak lain nasi kapau, dipercayakan pada warga Nagari (desa) Kapau.

Di atas sudah disinggung juga tentang sanjai, yaitu keripik ubi. Itu dibuat awalnya oleh orang Nagari Sanjai, bukan yang lain. Baju atau pakaian dipecayakan pada warga Ampek (IV) Angkek. Pandai perak pada warga di nagari Emil Salim, Koto Gadang, namun tetangganya, Tabek Sarojo kampungnya Irman Gusman dan Tifatul Sembiring, justru pandai emas. Pandai besi untuk orang Sungai Pua dan produsen sayur mayur Banuhampu, namun bibit sayur disediakan oleh warga Pakan Sinayan. Khusus bibit ikan dijual oleh warga Magek dan gula oleh Lawang. Satu sama lain fokus pada produksinya dan semuanya dijual ke Bukittinggi pada Sabtu dan Rabu.

Pasa Atas pada 2012 ini berusia 192 tahun, itu hitungan paling akurat. Sesungguhnya lebih. Sebagaimana jamaknya pasar rakyat, tumbuh dengan sendirinya, namun kemudian disentuh oleh pemerintahan kolonial Belanda.
Terletak di atas tanah pasukuan Rang Kurai Lima Jorong, termasuk Agam Tuo yang yang merupakan satu dari 16 nagari di wilayah itu. Masa itu walaupun Belanda membangun di atas tanah Rang Kurai, namun tidak satupun atas nama bangunan atas orang Belanda.

Pasar ini pada zaman Belanda, itulah pasar satu-satunya di Bukittinggi dan dinamai Pasa Bukittinggi dibangun oleh orang Kurai. Terletak di Bukik Kandang Kabau. Seiring waktu, sekitar 1820 di resmi menjadi pasar dengan pedagang yang kian ramai. Pertama-tama yang dibangun adalah los untuk berjualan. Pedagang umumnya amai-amai (kaum wanita) yang menjual berbagai hasil ladang dan sawah. Ada juga yang berjualan barang kelontong dan dagangan lainnya. Belanda menetapkan aturan jika berjualan rempah, maka tidak boleh di tempat lain, kecuali di Pasar Atas.Untuk itu mulailah pedagang dari Sungai Pua, IV Angkek, Maninjau dan lainnya mulai berdatangan Lama-kelamaan pasar menjadi ramai, sebab Bukittinggi saat itu adalah ibukota Padang Darat (Padangche Bovenlanden).

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Sekitar  1890 Belanda mulai membuat los pertama, yaitu bangunan tinggi tanpa sekat dengan konstruksi besi. Pada bagian atapnya dan kapnya dibuat melengkung. Sehingga rakyat menamakan los perdana tersebut dengan Los Galuang (gelung).

Sesuai perkembangannya, pembangunan pasar ini terus dilanjutkan oleh pemerintah Belanda. Tanah yang sepincit awalnya untuk pasar ini, kemudian terus diperlebar. Pameo “Bantuak Balando mintak tanah” menemukan buktinya. Perkembangan pasar terus berlanjut hingga kemudian dibangun 6 los lainnya. Bentuk dan konstruksinya sama dengan los seperti di pasar -pasar Minangkabau yang ada sekarang.

Pada los yang lebar tersebut pedagang berjualan dengan ketentuan harus rapi dan pada sore hari tidak ada satupun barang-barang yang boleh ditinggalkan. Semua barang dagangan dibawa pulang. Aturan inilah yang kemudian menyebabkan, orang Minang banyak yang terlibat aktivitas, dagang babelok, atau berdagang pindah-pindah dari pasar yang satu ke pasar yang lain menggunakan pedati.

Setelah selesai membangun los, kemudian didirikan kantor polisi, menjaga keamanan pasar. Kerapian dan kedisiplinan pada masa itu sangat menyolok sekali jika dibandingkan dengan pasar pasar sekarang. Garis garis yang ditentukan tempat berdagang selalu dipatuhi pedagang. Entah karena takut dengan pemerintahan Belanda atau karena sadar akan kerapian. Los dipakai hanya untuk beradagang saja. Tidak seperti fungsi los sekarang, pedagang meninggalkan barangnya dengan digembok atau ditutup dengan terpal.

Di depan pasar ada areal terbuka yang dilengkapi dengan bangku-bangku dan payung. Semua teratur dan rapi. Tapi sore sudah harus kosong. Begitu juga untuk sepeda dan gerobak tidak dibenarkan terletak atau berkeliaran di areal pasar. Petugas tidak tebang pilih terhadap pedagang yang melanggar aturan ditindak. Tapi mereka tidak memakai senjata api. Masing-masing los punya fungsi dan kegunaan berbeda. Los nomor 1 dinamakan Los Kasur, di sini pasti hanya ada penjual kasur. Los berikut dinamakan Los Kumango, untuk berdagang aneka barang-barang mulai peniti sampai apa saja. Disebut juga los kelontong.

Selanjutnya ada Los Tembakau. Berikut los kupiah (peci nasional) tempat Bung Hatta selalu memesan peci.Yang menarik ada Los Lambuang (lambung). Untuk apa lagi, kalau menggalas kuliner khas Minang, tentunya juga nasi kapau yang terkenal itu. Lainnya los Los Maninjau, di dalamnya dipakai oleh orang asal Maninjau yang menjual hasil danaunya. Ada juga Los IV Angkat sebab dipakai pedagang asal IV Angkat yang menjual pakaian. Karena itulah kemudian terkenal konveksi IV Angkek. Pasar Bukittinggi berkembang terus dan terbukti untuk Padang Darat, pasar ini paling ramai. Di pasar ini tidak saja dijual barang eceran tapi juga sudah grosir.

Tapi kerapian dan kedisiplinan pedagang di Pasar Bukittinggi ini terenggut dengan kejadian Perang Dunia II. Pasar berubah sebagai tempat penampungan pengungsi. Tidak hanya los tapi gerbong kereta api dipenuhi manusia.

Sebab dengan kalahnya Belanda, tentara Jepang terlalu banyak datang ke Bukittinggi. Lantas mulai muncul bangunan bangunan darurat. Sebab selain penampungan tempat tinggal, jumlah pedagang bertambah pula. Di samping pedagang yang sudah menggalas sebelumnya, juga bermunculan pedagang alamiah dari berbagai daerah.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Di zaman pergolakan tujuh los yang ada mulai beranak cucu di lokasi yang tak luas itu. Muncullah los-los tambahan. Los pun disekat-sekat, jadilah toko. Dulu mobil pompa (pemadam kebakaran) atau kereta sampah bisa melewati lorong-lorong dalam pasar, namun pada masa itu tidak bisa lagi. Sepeda saja susah.

Pada 1969 oleh pemerintah kota bersama dengan DPRDGR berencana menertibkan kembali kondisi pasar. Maka ditetapkan pemakaian los hanya untuk berkedai saja. Untuk pemakaian gudang maupun tempat tinggal tidak dibenarkan lagi. Lapangan terbuka boleh untuk berdagang tapi diberi garis batas. Demi menjaga kebersihan pada pagi dan sore petuas sampah bekerja hilir mudik. Bangunan baru tidak boleh ada, sementara bangunan lama ditinjau kembali keberadaannya.

Tapi kerja keras menertibkan pasar di jantung kota itu tidak tuntas hingga akhirnya pada 1970 terjadi kebakaran. Musibah itu terulang lagi setahun kemudian. Namun cerita pilu kembali terulang 1 hingga 2 Februari 1972 terjadi kebakaran hebat. Api diketahui berasal dari Los Kasur dan secepat kilat merambat ke los lainnya. Semua petugasdan mobil pemadam dikerahkan.Masyarakat dan pedagang cemas dan panik, barang dagangan musnah seketika. Kejadian ini membuat langit memerah.

Peristiwa besar ini juga menjadi perhatian utama pemerintah provinsi dan pusat, sebab pasar ini sudah menjadi sentra perdagangan terbesar pada masa itu. Hingga pukul 06.00 WIB esoknya baru api bisa dipadamkan.

Menurut datanya, akibat kebakaran tersebut telah memusnahkan 6 los besar, 20 los kecil yang terdiri dari 684 petak kedai dalam areal pasar, 162 petak kedai, satu kantor pos, mushalla, WC dan kantor keamanan pasar. Barang barang dagangan tidak banyak yang dapat diselamatkan. Bahkan tercatat kerugian pada masa itu Rp589.350.000,-

Pada masa itu situasi dikatakan darurat hingga kemudian ada penampungan untuk pedagang, bahkan dari sini munculah pengumuman untuk menempati tempat – tempat yang ditunjuk oleh pemerintah untuk berdagang darurat. Tapi kelak berkembang menjadi tempat berdagang permanen.

Pasar Ateh tidak bisa berdiri sendiri, tapi berkait berkulindan dengan benteng Fort de Kock dan Kebun Bunga atau Kebun Binatang di sisinya. Benteng itu dibangun pada 1825 oleh  Kepala Opsir Militer Belanda untuk Dataran Tinggi Agam, Kapten Bauer. Lokasi benteng berada di puncak sekitar –300 meter utara Pasar Atas.

Fort de Kock diambil dari nama Komandan Militer dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda Baron Hendrik Markus de Kock. Bukik Jirek satu dari 72 bukit yang ada di Bukittinggi.

Kini Pasar yang menyimpan sejarah itu kembali membara, pedagang merana. Dari data disebutkan kerugian mencapai Rp 1,5 T. Denyut Bukittinggi sementara melemah, tapi pedagang sudah tahan banting, sebentar lagi, mereka kembali berjual beli. (lag/eda)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB