Bukittinggi Prokabar — Petaka itu tiba Senin (30/10) pagi. Seribu kios jadi abu. Warga di sekitar kota itu kaget bukan main.
“Ondeh biyai lah tabaka pulo Pasa Ateh, minantu den lai ndak baa ko lah kios no,” kata seorang ibu di Ampek Angkek. Maksudnya pasar sudah terbakar semoga milik menantunya aman.
“Apo tabaka? Bilo tabaka?
“Cako pagi, ibo wak”
Percakapan model ini terjadi hampir di semua nagari di sekitar Bukittinggi.
Pasar Ateh itu merupakan pasar bagi produk lokal dari daerah sekitar. Apa saja itu? Kapau, Sanjai, Bukit Apin, Gaduik, Padang Lua, Banuhampu, Pakan Sinayan,Koto Tuo, Tabek Sarojo, Koto Gadang, Balingka, Lawang, Matua, Tilatang Kamang, Pinang Balirik, Canduang dan lainnya. Setiap desa datang dengan produk khasnya sendiri-sendiri. Brand paling kuat datang dari Nagari Kapau dan Sanjai.
Makanya kalau Pasar Atas terbakar atai pasar manapun di Bukittinggi yang menangis tak hanya orang kota itu tapi lebih-lebih warga sekitar. (laf)
Inilah Pasar Atas yang terbakar pada Senin (10/30). Ribuan orang memotret dengan kamera HP dan disebar, sebagian di antaranya seperti ini. (Foto netizen)




















