Saat ini berbagai pihak sedang mengumpulkan uang untuk membeli pesawat RI08. Tahukah Anda, RI01 bukan dibeli orang Aceh tapi oleh ibu-ibu Minangkabau. Tak tercatat, tapi tak masalah, nasionalisme bukan soal nomor urut di dinding pesawat.
Avro Anson
Langit Bukittinggi agak mendung, “Pak Hatta,” begitu urang awak menyapa Proklamator itu, sedang berpikir keras. Ia ingin bangsa besar yang baru tegak ini bangga atas dirinya sendiri. Kita harus punya pesawat terbang, tapi harganya mahal.
Hatta “meminta” uang pada ibunya yaitu kaum wanita Minangkabau. Dapat satu kaleng biskuit. Penuh. Emas itu dilebur, jadi 14 Kg. Lalu dibelikan pesawat Avro Anson di Thailand Selatan
Desember 1949 pesawat itu mendarat di lapangan udara Gadut, Bukittinggi. Pada 9 Desember tahun tersebut pesawat pertama milik Indonesia itu diterbangkan kembali. Pesawat diterbangkan oleh Iswahyudi dan Halim Perdana Kesuma.
Bung Hatta sebagai salah seorang pemrakarsa amat bangga, sayang saat kembali ke Bukittinggi, pesawat jatuh di Tanjung Hantu Malaysia.
Monumen pesawat itu ada di Gadut, bisu dan nyaris tak dimengerti orang lalu.
Copot Anting dan Kalung
“Pak Hatta minta kita membantu beli pesawat, kita sedang berjuang,” kabar itu bagai dibawa angin ke seantero Minangkabau pada tahun-tahun yang berat 1948 -1949. Minangkabau baru saja menyelamatkan Indonesia dengan PDRI, kini datang permohonan dari Hatta.
Ibu-ibu Minangkabau kemudian mencopot subang, gelang, cincin dan kalungnya. Emas perhiasan itu dikumpulkan dari desa ke desa, kota ke kota. Emas tadi dikumpulkan dan dibawa ke Bukittinggi.
“Dapat satu kalung biskuit, lalu dilebur,” kata almarhum ketua PWI Sumbar, H. Kamardi Rais Dt. Simulie. Emas yang dilebur itu beratnya 24 Kg lantas dibarter pesawat Avro Anson.
Jika hari ini Anda naik pesawat dan mendarat di Bandara Halim Perdanakesuma Jakarta, maka nama itu diambil dari pejuang bangsa yang membawa pesawat pertama milik bangsa. Pesawat jatuh sejarahnya lenyap nyaris tak berbekas.
Saya menyaksikan pembangunan monumen Avro Anson di gerbang lapangan terbang Gadut Bukittinggi.
Tulisan : Khairul Jasmi (pemred singgalang)
Kisah avro anson ini pernah dimuat di Republika dan kemudian jadi salah satu tulisan dalam buku kumpulan featurenya. Buku tersebut diluncurkan Presiden Jokowi di Jakarta. [*]
















