​Kisah Jatuhnya Pesawat Merpati di Laut Katang Katang Pessel

Penulis -

Selasa, 26 September 2017 - 20:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Rabu 10 November 1971, Vickers Viscount Merpati Nusantara Airlines, dengan registrasi PK-MVS, terbang dengan indah dari Bandara Kemayoran, Jakarta menuju Bandara Tabing di Padang. 
Pesawat yang membawa 69 penumpang dan awak kabin serta pilot itu, jatuh beberapa menit sebelum mendarat. Persisnya di Laut Katrang Katang, Pesisir Selatan. Di antara penumpangnya adalah koreografer terkemuka Minangkabau, Huriah Adam. Tari ciptaannya antara lain, tari Piring, Gelombang dan Pasambahan yang saat ini selalu kita lihat saat acara-acara resmi. Selain Huriah juga terdapat anak gubernur kala itu, Azwar Anas.

Menurut catatan resmi, pilot sempat memberi tahu kepada pengatur lalu lintas udara mereka tidak dapat sampai ke tujuan karena cuaca buruk. Pada saat itu, tulis wikipedia, kecelakaan ini adalah yang terburuk dalam sejarah Indonesia; sekarang kejadian ini yang terburuk kesembilan dalam sejarah kecelakaan penerbangan di Indonesia. Masih terburuk ketiga untuk kecelekaan yang menimpa Vickers Viscount.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Kontoler di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, melaporkan pesawat tersebut menyatakan tanda bahaya dari pesawat. Awak pesawat melaporkan tidak dapat melihat daratan karena cuaca yang buruk dan jarak pandang yang pendek.

Semua penumpang berkewarganegaraan Indonesia, kecuali dokter berkewarganegaraan Jerman dan istrinya, seorang pilot helikopter berkewarganegaraan Britania Raya yang bekerja di Indonesia. Delapan anak-anak termasuk menjadi penumpang di dalam pesawat ini.

Warga Indonesia 

Korban tewas dari Indonesia 59 orang dan tujuh awak pesawat total 66 orang. Kemudian penumpang warga negara Jerman dua orang, Inggris satu orang, total korban 69 orang. Kesemuanya tak pernah ditemukan. Yang bersua tiga hari kemudian, kepingan-kepingan pesawat yang ditemukan nelayan.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Nelayan menemukan kursi pesawat di antara Beringin dan kepulauan Katang-Katang. Angkatan Laut Indonesia menemukan pakaian dan jaket keselamatan pesawat 

Huriah Adam

Menurut buku yang ditulis Bram, Mhd Ibrahim Ilyas, Huriah Adam satudi antara korban pesawat itu. Huriah merupakan putri seorang ulama Minangkabau, Syekh Adam Balai Balai. Selain Huriah, anak-anak Syekh Adam yaitu Bustanul Arifin Adam, Irsjad Adam, dan Achyar Adam. Huriah banyak menggali kekayaan tari Minang berdasarkan gerak-gerik silat. Setelah bersekolah di Yogyakarta, ia kembali ke Padang Panjang dan kemudian menikah dengan Ramudhin, seorang pemain biola. 

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Pada tahun 1968 ia menetap di Jakarta dan mendirikan Bengkel Tari di Taman Ismail Marzuki. Tiga tahun kemudian, ia menjadi pengajar tari pada jurusan tari, Akademi Teater Tari, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Di Jakarta, dia banyak menghasilkan karya-karya populer. Yang cukup terkenal adalah seni drama Tari Malin Kundang dalam 3 babak, dipentaskan di Jakarta (1969) dan Padang Panjang (1971). 

Atas jasa-jasanya di bidang kesenian, tahun 1977 ia menerima penghargaan Anugerah Seni dari Presiden RI Soeharto, dan pada  2011 ia memperoleh Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. (eda)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB