Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

​Teror Penumpasan PKI di Salido

Dibaca : 5.2K

Padang, Prokabar – Jauh di sudut Sumatera Barat,Salido, Pesisir Selatan. Awal Oktober 1965, masyarakat duduk di “lapau”, berdiskusi, bersenda gurau, bercerita tentang apa saja. Masyarakat juga menunggu pengumuman Presiden Soekarno tentang Gerakan 30 September, yang memang sudah mereka dengar sebelumnya. 

Tapi informasi yang didengar masih samar samar, tidak ada yang tahu pasti, apa sebenarnya yang terjadi di Jakarta. Satu satunya alat penyebar informasi saat itu adalah radio RRI.

Salido, dulu adalah negeri yang makmur. seperti yang ditulis oleh Suryadi Sunuri, disini dulu ada tambang emas. Belanda mengeksploitasi daerah ini. Salido terbilang maju dibanding daerah lain, begitupun dengan perjuangan dan pemikiran masyarakat. 

Di tengah ketenangan Salido, rasa aman masyarakat terkoyak. Komandan Kodim Painan Letkol Inf. Purnomo Sipur masuk ke kampung. Mencari tokoh PKI, simpatisan PKI dan orang orang berbau PKI. Kampung ribut, ratusan orang ditangkap, tidak peduli tua dan muda, kaya dan miskin, ulama atau tokoh adat. Sedikit saja beririsan dengan komunis langsung dibawa pasukan tentara.

Tentang Letkol Inf. Purnomo Sipur tidak banyak yang Atahu latar belakangnya. Purnomo adalah Dandim Painan Kedua. Marthias Dusky Pandoe juga menulis sekilas tentang Purnomo Siput. Wartawan senior itu menggambarkan Purnomo sebagai sosok yang sangat anti PKI. Tidak salah Purnomo sangat membabi buta memberantas antek antek PKI di wilayah kekuasaan militernya. 

Akhir tahun 1965 Purnomo, pindah ke Kodam III/ 17 Agustus, yang berpusat di Kota Padang. Terakhir Purnomo Sipur menjabat sebagai Asops Kodam III/ 17 Agustus. Tahun 1971, Purnomo yang sudah berpangkat Kolonel tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat Merpati, di Pulau Katang-katang, lepas pantai Kota Padang.

Kecelakaan itu terjadi tanggal 10 november 1971. Selebihnya, tidak ada tulisan maupun penelitian yang ditemukan. Sebagai seorang tentara, Purnomo tentu mengikuti perintah Jakarta, untuk membasmi PKI hingga ke akar akarnya. Agaknya hal ini yang melatarbelakangi Purnomo masuk keluar kampung, untuk mencari orang orang yang terlibat dengan gerakan PKI.

Dari tulisan Joseph Taher Aryanto. Dijelaskan bagaimana Tentara menangkap masyarakat yang terlibat PKI ini. “Ninik mamak, alim ulama, tokoh masyarakat yang ditangkap itu,  digiring seperti menggiring hewan ternak, dimasukkan ke dalam penjara-penjara dan digunduli. Sebagian disuntik  oleh  dokter, yang adalah seorang  wamilda (wajib militer darurat) dan dimuat  ke  sebuah dump truk  yang biasa digunakan buat mengangkut sampah, tanah, atau pecahan batu, dan dibawa ke Bukit Pulai, sekitar 10 km di luar kota Painan.

Di sana, para pemuka rakyat yang dijubelkan dalam dump truk itu, dituangkan dari dump truk seperti menuangkan sampah, lalu ditembak,” tulis Aryanto. Tragedi ini terjadi tanggal 9 November 1965. 

Diperkirakan 300 Orang yang dianggap aktivis dan simpatisan PKI meregang nyawa. Dibunuh dan disiksa oleh Tentara.   Pemberontakan PKI memang menjadi sejarah kelam bagi Indonesia. Gara gara PKI masyarakat dan militer dibenturkan. Sedangkan pada bagian lain, konflik horizontal dipelihara.(eda/laf)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top