Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

​Kisah Jatuhnya Pesawat Merpati di Laut Katang Katang Pessel

Dibaca : 3.4K

Padang, Prokabar – Rabu 10 November 1971, Vickers Viscount Merpati Nusantara Airlines, dengan registrasi PK-MVS, terbang dengan indah dari Bandara Kemayoran, Jakarta menuju Bandara Tabing di Padang. 
Pesawat yang membawa 69 penumpang dan awak kabin serta pilot itu, jatuh beberapa menit sebelum mendarat. Persisnya di Laut Katrang Katang, Pesisir Selatan. Di antara penumpangnya adalah koreografer terkemuka Minangkabau, Huriah Adam. Tari ciptaannya antara lain, tari Piring, Gelombang dan Pasambahan yang saat ini selalu kita lihat saat acara-acara resmi. Selain Huriah juga terdapat anak gubernur kala itu, Azwar Anas.

Menurut catatan resmi, pilot sempat memberi tahu kepada pengatur lalu lintas udara mereka tidak dapat sampai ke tujuan karena cuaca buruk. Pada saat itu, tulis wikipedia, kecelakaan ini adalah yang terburuk dalam sejarah Indonesia; sekarang kejadian ini yang terburuk kesembilan dalam sejarah kecelakaan penerbangan di Indonesia. Masih terburuk ketiga untuk kecelekaan yang menimpa Vickers Viscount.

Kontoler di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, melaporkan pesawat tersebut menyatakan tanda bahaya dari pesawat. Awak pesawat melaporkan tidak dapat melihat daratan karena cuaca yang buruk dan jarak pandang yang pendek.

Semua penumpang berkewarganegaraan Indonesia, kecuali dokter berkewarganegaraan Jerman dan istrinya, seorang pilot helikopter berkewarganegaraan Britania Raya yang bekerja di Indonesia. Delapan anak-anak termasuk menjadi penumpang di dalam pesawat ini.

Warga Indonesia 

Korban tewas dari Indonesia 59 orang dan tujuh awak pesawat total 66 orang. Kemudian penumpang warga negara Jerman dua orang, Inggris satu orang, total korban 69 orang. Kesemuanya tak pernah ditemukan. Yang bersua tiga hari kemudian, kepingan-kepingan pesawat yang ditemukan nelayan.

Nelayan menemukan kursi pesawat di antara Beringin dan kepulauan Katang-Katang. Angkatan Laut Indonesia menemukan pakaian dan jaket keselamatan pesawat 

Huriah Adam

Menurut buku yang ditulis Bram, Mhd Ibrahim Ilyas, Huriah Adam satudi antara korban pesawat itu. Huriah merupakan putri seorang ulama Minangkabau, Syekh Adam Balai Balai. Selain Huriah, anak-anak Syekh Adam yaitu Bustanul Arifin Adam, Irsjad Adam, dan Achyar Adam. Huriah banyak menggali kekayaan tari Minang berdasarkan gerak-gerik silat. Setelah bersekolah di Yogyakarta, ia kembali ke Padang Panjang dan kemudian menikah dengan Ramudhin, seorang pemain biola. 

Pada tahun 1968 ia menetap di Jakarta dan mendirikan Bengkel Tari di Taman Ismail Marzuki. Tiga tahun kemudian, ia menjadi pengajar tari pada jurusan tari, Akademi Teater Tari, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Di Jakarta, dia banyak menghasilkan karya-karya populer. Yang cukup terkenal adalah seni drama Tari Malin Kundang dalam 3 babak, dipentaskan di Jakarta (1969) dan Padang Panjang (1971). 

Atas jasa-jasanya di bidang kesenian, tahun 1977 ia menerima penghargaan Anugerah Seni dari Presiden RI Soeharto, dan pada  2011 ia memperoleh Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. (eda)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top