Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

​Hijab, Sejarah Panjang di Kepala Perempuan

Dibaca : 3.1K

Prokabar, Padang –Sejarah panjang hijab adalah kisah agama-agama samawi. Konsep hijab bukan saja domain Islam. Dalam Taurat, kitab suci agama Yahudi, sudah disebut beberapa istilah yang semakna dengan hijab seperti tif’eret. Demikian pula dalam kitab Injil misalnya istilah zammah, re’alah, zaif dan mitpahat. 

Sejarah mencatat, hijab dikenal berbagai bangsa dan masyarakat Timur kuno sejak dahulu. Bentuknya sangat beragam. Hijab wanita Yunani kuno berbeda dengan yang dipakai wanita Romawi dan Arab jahiliah.
Menurut Eipstein konsep hijab dalam arti menutup kepala bahkan sudah dikenal sebelum datangnya agama-agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam). Tradisi penggunaan kerudung yang merupakan bagian dari hijab, sudah dikenal dalam hukum kekeluargaan Asyiria.
Hukum ini mengatur istri, anak perempuan, janda, bila bepergian ke tempat umum harus menggunakan kerudung. Taurat-perjanjian lama yang di penuhi oleh ayat- ayat yang berkenaan dengan hijab, kemudian ditetapkan oleh Isa Al-Masih manakala ia datang membawa Injil-perjanjian baru. Banyak sekali ayat Taurat dan Injil yang menetapkan wanita pada zaman itu harus memakai hijab dan cadar. Pada pasal kejadian, ayat 65, bagian 24 disebutkan : “Ia berkata kepada hamba-Nya : Siapa laki-laki yang berjalan menuju taman berjalan menuju kita? ‘Hamba itu menjawab : “Dia adalah tuanku. maka Maryam mengambil tudung dan menutup dirinya”. “Maha Ishaq memasukkan Maryam kepada khaba’. milik ibunya, kemudian ia memuliakannya.dan akhirnya wanita itu . Sementara itu, bangsa Arab pada zaman Jahiliah telah mengenal hijab sebagai bagian dari tradisi cinta dan persahabatan. Demikian antara lain catatan Nawir Sadewa dalam www.tongkronganislami.net 

Dalam buku “Pesona jilbab dari Padang, Sebuah Laporan Empiris,”yang ditulis Khairul Jasmi, Abdullah Khusairi dan kawan-kawan terbaca dengan jelas, pro kontra tentang kerudung perempuan ini sepertinya tak pernah basi. Ia lebih panjang dari sejarah itu sendiri. Di berbagai negara, selalu ada masalah jilbab ini mencuat. Dari berbagai sisi, jilbab menjadi masalah. Alasannya bermacam-macam. Asal-usul jilbab dibahas oleh banyak orang pada 1970  hingga 1980. Perdebatan soal jilbab menjadi bagian, betapa marjinalnya perempuan dalam agama karena penafsiran yang masukulin.

Jilbab dalam arti penutup kepala hanya dikenal di Indonesia. Di beberapa negara Islam, pakaian sejenis jilbab dikenal dengan beberapa istilah, seperti chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, hijâb di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Hanya saja pergeseran makna hijâb dari semula berarti tabir, berubah makna menjadi pakaian penutup aurat perempuan semenjak abad ke-4 H.

Terlepas dari istilah yang dipakai, sebenarnya konsep hijab bukan saja domain Islam. Misalnya dalam kitab Taurat, kitab suci agama Yahudi, sudah dikenal beberapa istilah yang semakna dengan hijâb seperti tif’eret. Demikian pula dalam kitab Injil yang merupakan kitab suci agama Nasrani juga ditemukan istilah semakna. Misalnya istilah zammah, re’alah, zaif dan mitpahat. 

Bisa jadi soal jilbab ini, ada hubungannya dengan sejarah di atas. Namun yang jelas, dalam Islam, perempuan yang sudah “datang bulan” diwajibkan menutup aurat di depan bukan mahramnya. Seperti dijelaskan dalam Al-Quran, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Al-Ahzab. 59)

Para mufassir dan fuqaha memiliki pendapat berbeda-beda soal batas aurat perempuan setelah baligh. Paling tidak ada tiga pendapat yang berbeda. Pertama, ada ulama yang menyatakan seluruh tubuh muslimah itu aurat yang harus ditutupi, termasuk menutup wajah (dengan menampakkan mata) yang biasa disebut cadar. Kedua, ada ulama yang berpendapat bahwa aurat muslimah adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Ketiga, ada ulama yang berpendapat bahwa batas aurat muslimah diserahkan kepada budaya dan tradisi daerah masing-masing. 

Walau semuanya mengacu kepada QS. An-Nur: 31, Al-Ahzab: 59, namun tafsir yang berbeda-beda membuat hasilnya bisa berbeda pula. Ini memperkaya pemikiran dunia Islam sekaligus membawa kebingungan pula di tengah ummat. Namun demikian, hasil dari penelitian seorang akademisi bidang Tafsir Hadits terhadap hadits yang mendukung soal aurat perempuan telah membuka jalan terang. Sebuah jalan alternatif. Bahwa aurat muslimah itu adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah.  

Dosen Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang, Dr. Riri Fitria, M.Ag, yang meneliti kedudukan Hadits seputar batas aurat perempuan dalam rangka mendapatkan gelar doktor, menyatakan, pada dasarnya aurat perempuan seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, namun demikian, bukan berarti tidak boleh mukminah berpenampilan modis. Justru itulah tantangannya, begitu banyak kesempatan untuk membuat pakaian muslimah lebih modis. Yang paling penting, tidak memancing pandangan negatif dari yang bukan muhrim. Misalnya, tidak tipis, tidak ketat mengikuti alur tubuh perempuan.  

Menurut Yusuf Qaradhawi, di kalangan ulama sudah ada kesepakatan tentang masalah aurat perempuan yang boleh ditampakkan. Ketika membahas makna Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa tampak daripadanya (QS 24:31), menurut Qaradhawi, para ulama sudah sepakat bahwa yang dimaksudkan itu adalah muka dan telapak tangan. 

Dimensi pakaian muslimah, selain dari dalam Al-Quran, juga terdapat dalam hadits. Busana yang dipakai tidak dianjurkan tipis dan mengikuti lekuk tubuh alias longgar. 

Kajian Soal Padang

Jurnal Perempuan Edisi 60, November 2008 menurunkan liputan khusus dari Mohamad Guntur Romli. Reportase dan wawancara beragam, menyuarakan kaum minoritas yang mendapat imbas dari sebuah kebijakan untuk kaum mayoritas. 

Seperti ditemukan dalam buku “Pesona Jilbab dari Padang, Sebuah Laporan Empiris,” tentang busana muslimah  disebutkan, liputan khusus itu dengan judul yang sedikit bernada provokatif “Siswi-Siswi Kristen Pun Terpaksa Berjilbab; Kewajiban Busana Muslim di Kota Padang,” reportase itu ingin menyampaikan sebuah nada miris atas kebijakan tersebut, namun di dalam wawancara langsung dengan pendeta, siswi non muslim, agak terasa tentram diimana, keterpaksaan itu sudah dimaklumi sebagai kaum minoritas. 
Guntur dalam penelitiannya juga menemukan: Dalam masalah pandangan masyarakat Padang terhadap bentuk negara dan isu aturan-aturan negara dengan berdasarkan pada syariah memperoleh jawaban yang ambigu. Ketika ditanya “apakah Indonesia negara Islam atau bukan” jawabannya: 97% bukan negara Islam 2.4%, namun ketika ditanya “setuju atau tidak setuju aturan-aturan berdasarkan ajaran Islam”, jawabannya: setuju (58.5%), tidak setuju (36.6%). Dua isu berbasis syariah: wirid dan busana muslim juga memperlihatkan hasil yang mencengangkan. Ketika responden ditanya “perlukah Perda kewajiban wirid bagi siswa/i” jawabannya: perlu (87.8%), tidak perlu (9.8%). Saat dilanjutkan dengan pertanyaan “tidakkah Perda ini diskriminatif terhadap warga lain yang tidak beragama Islam” jawabannya: tidak diskriminatif (87.8%), ya (7.3%). Sedangkan kewajiban busana muslim (jilbab dan baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan: kecuali wajah dan dua telapak tangannga) hasilnya: perlu (92.7%), dan tidak perlu (4.9%). Ketika ditanya “apakah Perda tersebut tidak diskriminatif terhadap pemeluk agama lain” jawabannya: tidak diskriminatif (80.5%), diskriminatif (14.6%). Meskipun sangat tinggi harapan dan dukungan masyarakat Padang terhadap Perda Syariah, namun ketika ditanya “siapa yang punya usul/inisiatif pertama kali Perda itu”, jawabannya adalah: pemerintah daerah (75.6%), sedangkan ormas/kelompok masyarakat (12.2%). Demikian juga ketika ditanya “draft Perda itu dibuat siapa”, jawabannya: Pemda (76.6%). Hal ini menunjukkan bahwa lembaga eksekutif (pemerintah daerah) memiliki peran yang sangat sentral dalam mengusulkan dan membuat peraturan yang berdasarkan syariat Islam. 

Belum ada survei ilmiah tentang efektivitas dari peraturan-peraturan ini namun, booming pakaian muslimah sudah terjadi di mana-mana. Dimulai dari para idola, artis, yang mulai membudayakan untuk berbusana muslimah. Sebuah peradaban baru yang sudah mulai beranjak menuju simbol-simbol keagamaan menjadi budaya. Demikian catatan prokabar.com yang diramu dari tiga sumber untuk Anda. (nrs/laf)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top