Agam, Prokabar – Yayasan Nurus Shalihin didirikan di Maninjau, pada tanggal 15 September 2014. Dirintis Hajah Erni Nurdin (72) bersama anak-anaknya. Didasari keinginan membangun sumber daya manusia semakin madani di kampung halaman, melalui pengalaman pribadinya selama di rantau.
Erni Nurdin kepada Prokabar.com, Kamis (7/4), menceritakan kisah perjuangannya, tidak mudah merintis dan membangun yayasan berbasis pendidikan informal itu. Terlebih lagi sulitnya merangkul dan mengajak banyak pihak untuk berperan aktif. Terutama konsisten dalam mendidik anak kemenakan belajar agama Islam.
Dengan hati yang tegas, ikhlas dan cerdas perjuangan sosial kemasyarakatan, terutama dibidang keagaman ini dapat bertahan. Persoalan ekonomi selalu jadi alasan klasik masyarakat kebanyakan, menjauhkan diri dari kepedulian pada sosial budaya dan agama ini.
Meski tertatih-tatih mengajak masyarakat, akhirnya dapat jua membuahkan hasil. Merangkul sejumlah mubaliq Nagari Maninjau dan Sungai Batang.
“Kami telah berhasil melakukan sejumlah rangkaian kegiatan. Pertama Taman Pendidikan Al Quran anak-anak, Pengajian remaja satu kali seminggu, dan bersama ibu-ibu majelis taklim baca Al Qur’an satu kali seminggu dan hafiz Quran satu kali sebulan,” ungkapnya.
Pada tahun 2018 lanjutnya, Yayasan Nurus Shalihin mengadakan tahfidz Al Quran yang diikuti oleh anak-anak 15 orang. Tenaga pengajarnya dari ustad LTPQ Rahmatan Lil Alamin di Kubu Baru. Pada tahun 2019, mengadakan pondok karantina quran santri menginap siang dan malam. Anak-anak berjumlah 12 orang mengikuti khusus menghafal quran. Ustad dibina dari Tajjul Hafadz Kamang pimpinan Ustad Ari Jauharudin Sanusi.
Pada tahun 2020, Yayasan Nurus Shalihin menjadi Pondok Tahfiz Nurus Shalihin dengan pengesahan Kemenkumham. Saat itu, salah satu santri bernama Jimi Candra diterima di Pondok Cinta Center Al Quran. Karena pandemi Covid-19, santri banyak berkurang dan masih ada yang bertahan beberapa orang anak.
“Desember 2021, kami melaksanakan Pendidikan Kader Mubaliq, Imam dan Khatib. Program yang ditargetkan selama 6 bulan, dimulai 12 Desember 2021 sampai bulan Juni 2021,” terangnya.
Tenaga pengajar berasal dari Mubaliq di Maninjau dari Sungai Batang. Seperti Ustad Wendri Naldi Katik Bandaro, Membidangi Sejarah Kebudayaan Islam. Ustad Rayhan mengajarkan bidang Study Al Quran. Ustad Dasri mengajarkan Study Bahasa Arab. Ustad Idris mengajarkan Study Hadis, Akhidah dan Aklak. Ustad N. Katik Sinaro mengajarkan materi Retorika.
Sedangkan Ustad Sy. Katik Basa mengajarkan Study Praktek Ibadah. Ustad Hamdi mengajarkan Fikih. Dan Ustad S. Katik Sati mengakarkan Budaya Alam Minangkabau atau Pendidikan Adat.
“Jumlah santri sebanyak 14 orang terhitung dari 7 Januari 2022. Pada bulan Ramadan ini, anak-anak kami melaksanakan praktek ceramah agama di beberapa masjid dan mushalla bersama guru pembimbing dari tanggal 2 April sampai 10 April 2022,” tutup Hajah Erni Nurdin. (rud)
















