Walid versi kearifan lokal?

Penulis -

Minggu, 27 April 2025 - 17:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Sri Mega Hayatulnupus

Mahasiswa UIN Imam Bonjol

Banyak pasang mata terbawa arus setelah tayangnya film Bida’ah, film aksi-thriller asal Malaysia yang kini menggemparkan dunia maya lewat slogan “Walid nak dewi boleh”. Film ini banyak mengundang berbagai respon dan juga berbagai komentar masyarakat, mulai dari geli hingga dijadikan bahan candaan.

Belum selesai kita tertawa karena meme Walid, kita diterpa kabar miris dari Simeulue, Aceh. Seorang pria asal Padang, yang semenjak tahun 2021 ini diterima baik oleh masyarakat Simeulue dan dianggap sebagai tokoh ustadz muda, ditangkap karena melancarkan aksi bejadnya dengan mencabuli anak-anak dibawah umur. Lebih mirisnya, ia datang ke Simeulue itu membawa embel-embel dakwah untuk menyebarkan islam.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Setelahnya muncul kasus serupa dimana seorang pimpinan pondok pesantren di lombok yang menjadi tersangka pencabulan puluhan santriwati berkedok “ mensucikan rahim”. Para korbannya baru tersadar setelah menyaksikan film Walid, ini membuktikan minimnya edukasi terhadap anak yang terbilang masih labil dan awam mengenai edukasi seksual. Kejahatan ini bukan baru-baru terjadi namun sudah berlarut-larut dari tahun 2016 dan terungkap setelah korbannya sadar bahwa yang mereka terima adalah pelecehan dan melapor ke pihak yang berwajib.

Dimana akal sehat mereka?

Mungkin Pertanyaan ini begitu sulit untuk dijawab oleh kita yang hanya melihat dari layar ponsel. Mereka yang kita anggap sehari-harinya mengkonsumsi agama, malah lebih bejad dari pada serigala. Akibatnya banyak diantara kita malah semakin menganggap tidak semua tokoh agama itu suci. Tetapi perlu dicatat, bukan semua tokoh agama berlaku bejad seperti ini melainkan beberapa oknum nakal yang belindung dibalik jubah agama. Sebagai masyarakat yang peduli semestinya harus lebih peka dan tidak mudah terbawa arus karena melihat cover saja. Banyak dari mereka yang menggunakan sorban, menyandang kitab dan menjinjing tasbih kadang lebih berbahaya dari pada kriminal. Jika kriminal beraksi dengan melukai fisik mereka malah beraksi dengan mengutak- atik isi kepala si korban.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Tanda tanya besar, mengapa oknum seperti ini masih juga berkeliaran?

Karena oknum seperti ini karena mereka memoles tampilan mereka dengan amat rapidan mereka bersembunyi di balik jubah besar kesalehan. Kita terlalu fanatik dengan tampilan luar yang begitu agamis sehingga lupa mencari tahu tentang identitas orang di baliknya. Kita diajarkan untuk tak berprasangka buruk kepada orang lain bahkan terhadap yang tampak alim, padahal dibalik teduhnya penampilan mereka sering kali kita ditipu dengan mengatasnamakan agama. Dalam konteks ini, kita tidak harus mencurigai semua tokoh agama, tapi kita harus lebih kritis dan sadar bahwa kejahatan bisa datang dari siapa saja.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Kita sekarang hidup di zaman yang mana kejahatan dapat ditutup rapat dengan topeng yang bisa dibeli di toko, dan juga sangat disayangkan, banyak yang memilih memakainya saat dihadapkan dengan masalah agama. Kejadian seperti yang terjadi di Simeulue, Lombok, dan

Penulis : Opini

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB