Wisata

Wae Rebo, Rantau Jauh Orang Minangkabau


Catatan Perjalanan Ekspedisi Merdeka (2)

Flores, Prokabar – Pagi di Labuan Bajo, gerah seperti biasa. Jam 7 pagi, aktivitas masyarakat bergerak. Ke sekolah, kantor dan pasar. Sementara di depan hotel, belasan pemandu dan driver sudah menunggu tamu yang akan pergi sesuai dengan rencana liburan mereka.

Tim ekspedisi merdeka sudah berkumpul di lobby hotel. Trip plan dibahas, tujuannya adalah Wae Rebo. Untuk menuju desa di atas awan ini, bisa melalui dua jalur. Pertama melalui Ruteng dan terus ke Iteng. Jalur kedua melalui Lembor, belok kanan lewat Nang Lili. Kami memilih jalur kedua karena pertimbangan jarak dan waktu.

Labuan Bajo menuju Lembor ditempuh selama 2 jam. Melewati pegunungan dengan pepohonan yang kering. Tapi pemandangan tidak kalah indahnya. Melihat lautan dari ketinggian, sungguh pengalaman yang sulit dilupakan. Liukan jalan yang mulus, mengantarkan kami ke desa pemasok beras Manggarai itu.

Lembor tidak seperti desa sebelumnya yang dilewati. Di sini ratusan hektar sawah membentang. Hijau. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah sawah.

“Sawah ini dibuat tahun 80 an, sekaligus dibangun irigasi. Makanya sepanjang tahun, masyarakat bisa menanam padi. Lembor pemasok utama beras di Manggarai,” cerita Ajo Johan, orang Lubuk Alung yang berjualan nasi Padang di jantung Lembor.

Perjalanan dilanjutkan menyisiri pantai Nang Lili. Pantai berbatu dengan aspal yang kurang mulus, menemani perjalanan. Tak lama, sebuah pulau terlihat. Pulau Molas (baca moles) mengintip dibalik birunya laut. Molas dalam bahasa Manggarai adalah cantik. Jika diamati benar, pulau itu terlihat seperti perempuan yang sedang tidur menelentang. Di bawahnya terlihat pasir putih. Kami akan ke sana, tapi tidak hari ini.

Hampir 2 jam melewati jalan tepi pantai, akhirnya tim ekspedisi sampai di gerbang Wae Rebo. Namanya Desa Dintor. Desa ini menjadi satu satunya pintu masuk ke Wae Rebo. Di desa ini juga sinyal seluler terakhir muncul. Itupun hanya sekedar untuk melakukan sambungan telepon dengan kekuatan sinyal ala kadarnya.

Jam menunjukkan pukul 16.00 WITA, tim Ekspedisi menapaki Desa Denge. Di desa ini akhir dari jalan beraspal. Selepasnya hanya ada jalan setapak menuju Kampung Wae Rebo. Tempat yang kami tuju adalah Tourist Information Centre. Beruntung, kami disambut tuan rumah yang ramah, Blasius.

“Selamat datang di Wae Rebo, saya Blasius, lebih baik bapa bapa, tinggal di sini dulu, karena kalau berangkat sore ini, dipastikan akan sampai di Wae Rebo malam hari. Silahkan nikmati kopi kampung kami,” sapa Blasius.

Akhirnya setelah diskusi singkat, kami memutuskan untuk menginap di homestay sederhana milik Blasius. Alasannya, selain karena terlalu sore, ternyata upacara penyambutan oleh tetua adat, hanya bisa dilakukan sebelum matahari terbenam.

Sore itu dihabiskan dengan mengulik sejarah Wae Rebo. Blasius yang juga seorang guru ini bercerita panjang tentang desa adat ini.

“Kami adalah keturunan Minangkabau, kata orang tua saya, leluhur kami bernama Empo Maro, berlayar dari tanah Minang ke Flores ini, kita adalah saudara” tutur Blasius.

Kalimat yang kami tunggu – tunggu. Sebelumnya tim ekspedisi merdeka ini sudah membaca sejumlah literasi tentang kaitan Wae Rebo dengan Minangkabau. Lalu kami terpana sambil bertanya dengan cerita Blasius.

Alkisah, Empo Maro dengan saudaranya, kehabisan bekal di tengah Laut Flores. Mereka terpaksa menepi untuk bertahan hidup. Nun jauh di atas gunung dua bersaudara ini melihat kepulan asap membumbung tinggi. Filsafat alam takambang jadi guru dipakai, karena dimana ada asap, berkemungkinan besar ada kehidupan. Maka berjalanlah adik beradik ini menyusuri hutan. Tempat asap tersebut benar benar sebuah perkampungan, disebutkan nama kampung tersebut adalah Todo. Empo Maro dan saudaranya akhirnya tinggal disitu, hidup bersama warga. Dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Maro berasimiliasi dengan budaya Todo.

Entah terjadi konflik, atau memang ingin pindah, Maro memilih untuk meninggalkan Kampung Todo. Setelah berjalan jauh ke tengah rimba, Maro menemukan sebuah lembah. Disana dia hidup dan bercocok tanam. Anehnya, tidak sekalipun kebunnya diganggu oleh binatang buas. Akhirnya Maro membangun rumah di lokasi itu.

“Waktu itu belum ada nama, maka suatu malam leluhur kami itu bermimpi, untuk memberi nama tempat tinggalnya dengan Wae Rebo. Dalam bahasa Manggarai, tidak ada kata rebo. Sampai sekarang kami tidak tahu arti kata rebo itu,” tutur Blasius.

Kopi Wae Rebo di meja, hampir habis. Blasius mengerti, datang lagi beberapa gelas kopi panas, dan cerita itupun dilanjutkan.

Bicara tentang kemiripan budaya dan kata, lanjut Blasius, memang tidak ada. Begitupun dengan keilmuan, belum ada penelitian tentang keterkaitan suku kami dengan Minangkabau. Kami hanya mendapatkan cerita itu hanya secara turun temurun.

“Ada beberapa kemiripan, seperti kain khas Wae Rebo adalah Songkek, nah di Minangkabau katanya punya songket, lalu tentang nama Maro, dulu ada orang Minang berkunjung kesini, katanya ada nama Tuanku Maro di Minangkabau, saya tidak tahu, karena memang saya belum pernah ke tanah leluhur saya, Sumatera Barat,” cerita Blasius.

Blasius adalah generasi ke 21 suku Modo, suku yang tinggal di Wae Rebo. Dirinya adalah salah satu penggerak wisata di kampung ini. Dulu, sebelum dunia mengenal Wae Rebo, Blasius bersama beberapa saudaranya, merasa terenyuh, dari tujuh Mbaru Niang, hanya tersisa empat saja, itupun dengan kondisi reot. Sedangkan tiga rumah sudah hancur.

Blasius dengan segala keterbatasan, mencari jalan. Bagaimana warisan leluhur mereka bisa diselamatkan. Gayung bersambut, melalui sejumlah araitek yang dimotori Yori Antar, berhasil meyakinkam Yayasan Tirto Utomo untuk ikut merestorasi rumah adat ini. Bersama Laksamana Sukardi dan Arifin Panigoro, Mbaru Niang kembali ke jumlah asalnya.

Perjuangan banyak orang itu berbuah manis, tahun 2012 Wae Rebo dianugerahi Award of Excellence pada UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation. Sebuah penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi warisan budaya.

Kembali ke asal usul Wae Rebo. Dari sisi fisik terdapat perbedaan wajah mencolok antara suku Modo suku Flores lainnya. “Pak Blasius ini perawakannya lebih mirip orang minang, dibandingkan orang Flores,” kelakar Firdaus Abi.

Hal itu diamini Blasius, beberapa orang memang tidak berwajah Flores, kecuali turunan yang sudah terjadi perkawinan campuran beberapa generasi dengan suku lain di Manggarai.

Malam di Denge terasa hening. Yang terdengar hanya suara generator, pembangkit listrik mini. Kopi sudah habis bergelas gelas. Sungguh nikmat Kopi Arabika Wae Rebo itu. “Jam 22.00 WIB, generator akan dimatikan, tidak boleh ada lilin,” tegas Blasius.

“Sekarang hujan, tidak kelihatan bintang di langit, tapi saya punya bintang di lemari kaca, harganya Rp 50 ribu,” candanya.

Tapi kami tidak tertarik dengan bintang. Bercengkrama tanpa gangguan gadget jauh lebih menarik. “Sudah lama kita tidak merasakan suasana ini, tidak ada HP ditangan, tapi entah bagaimana kata istri di rumah, saya belum sempat kasih tahu, disini tidak ada sinyal,” kata Adrian Tuswandi.

Malam makin hening, sebentar lagi genset akan dipadamkan. Besok pagi pagi sekali, tim ekspedisi bergerak ke negeri di atas awan. Malam ini kami tidur berkelambu, mengingatkan pada tidur di rumah gadang yang berjarak ratusan kilometer dari Wae Rebo.(laf)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top