Pasaman, Prokabar — Penelitian makara, benda bersejarah peninggalang masa Hindu-Budha yang ditemukan di di Sungai Batang Sibinail Kampung Padang Nunang, Nagari Lubuk Layang, Kecamatan Rao Selatan terus disimpulkan tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat.
Ternyata, penemuan ini sangat wajar. Hal ini didasari pada temuan-temuan sebelumnya di Pasaman. Baik berupa candi di Tanjung Medan, Candi Koto Rao, Candi Pancahan, Candi Patani, Candi Tanjung Bariang, temuan arca, prasasti seperti di Prasasti Ganggo Hilia, Prasasti Lubuk Layang atau Kubu Sutan, dan temuan lainnya yang berasal dari masa Hindu-Budha dari abad ke-13-14 Masehi.
“Jika kita merujuk kepada temuan-temuan sebelumnya, ini sangat wajar. Bahkan masih banyak peninggalan-peninggalan bersejarah lainnya yang belum terungkap di Pasaman. Dalam Laporan Penelitian Arkeologi di Sumatera oleh Bennet Bronsen (et.al) tahun 1973 oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional serta The University of Pennsyvania Museum dijelaskan, wilayah Pasaman memiliki tinggalan dari masa Hindu-Buddha yang cukup banyak. Temuan arca dwarapala dan makara yang ditemukan sebelumnya di Sungai Batang Sibanail masih belum lengkap dan masih ada makara yang hilang dan mungkin berada di sungai yang sama,” jelas Kepala BPCB Sumatera Barat, Nurmatias.
Diakui Nurmatias, disimpulkannya makara yang ditemukan ini dari abad ke-13-14 Masehi, didukung oleh data Prasasti Lubuk Layang, Kubu Sutan yang ditemukan tahun 1970-an dulu. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, isi dari prasasti tersebut adalah penyebutan Bijayawarmma, seorang yauwasuta Jayendrawarmma, moksam, yauwaraja Bijayendrasekhara, pitamahadara dan Śrī Indrakilaparwatapuri.
Prasasti ini dibuat untuk memperingati pembinaan kuil pemujaan nenek moyang dari raja yang memerintah, yaitu Bijayawarmma. Terdapat seorang yuwaraja (raja muda) yang bernama Jayendrawarnan, beliau di gambarkan memiliki sifat selayaknya dewa/buddha. Menelisik pada temuan sebelumnya, temuan arca dwarapala dan makara menunjukkan adanya keterkaitan. Karena pada umumnya, arca dwarapala dan makara ditempatkan pada bagian depan candi, tepatnya di sisi kanan dan kiri bangunan candi. Bangunan candi yang terdapat khususnya di Rao diperkirakan berlatar agama Budha aliran aliran Tantrayana.
Tantrayana adalah salah satu sekte dalam agama buddha yang berkembang di Sumatera khususnya pada masa Adityawarman. Arca dwarapala ditempatkan di depan bangunan candi sebagai area penjaga, ditunjukkan dengan ciri-ciri peralatan yang dipegang oleh tangan kanannya yaitu sebuah gada, adapun laksana di tangan kirinya tidak diketahui karena sudah aus. Di bahu area tersebut juga terdapat upawita (tali kasta) berupa seekor ular. Laksana yang dipakai adalah sesuatu yang menyeramkan mengingat fungsi area tersebut sebagai area penjaga agar bangunan suci terhindar dari unsur-unsur yang tidak dikehendaki. Di bagian atas makara biasanya berasosiasi dengan kala yang diletakkan pada bagian atas pintu masuk bangunan candi. Kala-makara merupakan simbolisasi dari persatuan dari penguasa gunung (kala) dan laut (makara).
“Sebelum lebih jauh, kami masih perlu meneliti dan dilakukan pelindungan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat,” tukas Nurmatias. (Ola)
















