Padang, Prokabar – “Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.” Kalimat ini menjadi kalimat pembuka saat prokabar.com mewawancarai Widdiyanti, salah seorang penerima PIN Emas yang diberikan Pemerintah Kota Padang Panjang pada Jumat, 1 Desember 2023 lalu, yang bertepatan dengan Hari Jadi Kota Padang Panjang ke-233 tahun.
Menurut Widdiyanti, prestasi membanggakan tersebut bukan prestasi instan atau prestasi semalam yang dirinya raih, melainkan sebuah pekerjaan yang dimulai dari nol, usaha yang benar-benar merangkak dari bawah hingga besar sampai saat sekarang ini.
Adalah melakoni UMKM yang bergerak dalam bidang batik, dari usaha batik inilah PIN Emas yang disematkan oleh Pemerintah Kota Padang Panjang itu dimulai.
Sedikit bersejarah, jiwa seni khususnya menggambar sudah tertanam sejak dirinya kecil, namun karena lahir dari orang tua yang biasa-biasa saja ditambah dengan tinggal di Kabupaten Pasaman yang belum ada sarana dan prasarana untuk menyalurkan hobi nya, terpaksa jiwa seni menggambar dilakukan di atas kertas semata.
Jiwa seni yang dimiliki oleh Widdiyanti terus bergejolak, hingga setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas membuatnya harus meninggalkan kampung halaman dan melanjutkan sekolahnya ke Perguruan Tinggi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Di gembleng oleh seorang paman yang juga pencinta seni, semangat Wid -sapaan akrabnya- terus menjadi-jadi dalam belajar batik. Tak ayal, empat tahun kurang dirinya berhasil menyelesaikan pendidikan dan langsung melanjutkan pendidikan ke Strata 2. Dengan pengalaman dan ilmu yang cukup mumpuni, Widdiyanti menjadi satu-satunya asesor batik yang ada di Pulau Sumatera.
Memiliki Rumah Batik
Tak ingin ilmu di bangku kuliah tidak dimanfaatkan dengan baik, awal tahun 2010 Wid mendirikan rumah batik di daerah Silaing Kota Padang Panjang.
Rumah batik tersebut awalnya hanya untuk menumpuk peralatan batik dan membatik, namun saat ini rumah batik ini benar-benar telah menjadi salah satu UMKM yang besar dan telah terkenal di dunia internasional.
Selain membuat batik, di rumah batik ini juga dijadikan sebagai sekolah alam di mana setiap hari puluhan hingga ratusan orang mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga orang dewasa belajar cara membatik di rumah batik Canting Buana Kreatif ini.
Tidak saja pelajar atau mahasiswa dalam negeri, mahasiswa internasional pun juga belajar membatik yang diasuh dan dibina langsung oleh Widdiyanti. Dalam memilih karyawan, Wid juga terlihat berbeda. Dirinya mempekerjakan dua orang penyandang disabilitas di mana dua orang difabel tersebut paham dan mengerti apa yang dimaksud dan diinginkan oleh Wid dalam membatik.
Didukung Suami yang Juga Pencinta Batik
Dorongan keluarga menjadi salah satu alasan kuat bagi Widdiyanti untuk terus mengembangkan usaha batik. Bersama suaminya, Wid juga membagi ilmu turun ke daerah-daerah, sekolah-sekolah, hingga ke tingkat desa dan nagari yang berjarak ratusan kilometer dari rumahnya, hanya untuk mengajarkan masyarakat cara membatik yang nantinya bisa menopang ekonomi keluarga itu sendiri.
Saat ini, telah lebih dari 350 ribu lembar batik dengan bermacam-macam motif telah ia buat dan terjual, di mana penikmat batiknya tidak saja dari masyarakat biasa, tetapi juga kalangan pejabat tinggi negara, duta besar, hingga kepala daerah baik dalam wilayah Sumatera Barat maupun di luar Sumatera Barat.
Widdiyanti juga menyampaikan salah satu karya terbaiknya adalah ikut berpartisipasi dalam Hari Jadi Kota Padang Panjang yang ke-233 tahun, di mana 666 lembar batik koleksi dari Canting Buana dipakai dalam kegiatan tersebut dan pembuatannya sendiri memakan waktu kurang dari 30 hari pengerjaan. (*)
















