Agam, Prokabar — Pusat Penelitian Limnologi bersama UPT Loka Alih Teknologi Penyehatan Danau Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LATPD LIPI) Maninjau melaksanakan Program Prioritas Nasional 2018/2019 di Jorong Kubu, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumbar. Kegiatan baru saja dilaksanakan dua bulan ini sudah masuk tahap pembuatan teknologi ramah lingkungan.
Menurut Kasubid UPT LATPD LIPI Maninjau, Tri Suryono, kegiatan merupakan program Prioritas Nasional dalam upaya penyelamatan dan pemulihan Danau Maninjau. Pencemaran danau memicu kerusakan dan kelangkaan ikan asli. Dan butuh waktu lama untuk pemulihannya.
“Seluruh masyarakat dan semua pihak, ayo kita sadar pentingnya pemulihan serta kelestarian Danau Maninjau ini. Ini penting untuk anak cucu kita nanti,” ajak Tri Suryono.
Ia menjelaskan ada 15 Danau Se-Indonesia yang menjadi target penelitian LIPI. “Sangat beruntung danau geopark sisa gunung vulkanik puluhan ribu tahun lalu ini terpilih menjadi program Prioritas Nasional Pusat Penelitian Limtologi dan LIPI 2018/2019.
“Kami sudah melakukan banyak penelitian berbagai danau di Indonesia. Salah satunya di Danau Toba, Sumatra Utara. Namun untuk Danau Maninjau, butuh penanganan khusus karena terlalu banyak kerusakan akibat faktor,” terangnya.
Tri Suryono melanjutkan metode penelitian sederhana sudah dilakukan. Seperti Teknologi Lahan Basah Buatan, Teknologi Aquaponik, Teknologi Habitat Semi Eks Situ, Budidaya Multitronik dan Rekayasa Habitat.
“Selain memastikan air danau kembali jernih dan bersih, ikan endemik atau habitat asli dapat berkembang dengan baik. Karena ikan pasti akan mencari sumber air yang baik dan sehat,” pungkasnya.
Muhammad Badjori selaku Peneliti LATPA LIPI Maninjau merincikan metode digunakan sudah hasil dari Kajian Pusat Penelitian Limnologi di Bogor. “Penelitian ini sudah skala lapangan, labolatorium, dan pilot projek teruji Peneliti LIPI Pusat di Cibinong, Bogor. Aplikasi teknologi IMTA, yakni memanfaatkan nutrien air danau kemudian dimasukan ke dalam kolam penelitian,” ungkap Badjori.
Ia kembali menjelaskan untuk pengganti pakan ikan alami, dilakukan pembuatan kolam khusus membudidayakan tanaman Lemna Minor. “Yaitu sejenis tumbuhan kecil yang memiliki kandungan protein tinggi yang tidak kalah hebat dari pelet,” tuturnya.
Tanaman Lemna Minor nama lainnya dari ‘duckweed’ atau Kiambang. Banyak orang tidak menyangka tanaman ini bermanfaat dan memiliki kandungan protein tinggi untuk pakan ikan.
“Dan kami akan mensosialisasikannya agar masyarakat Selingkar Danau Maninjau paham dan memanfaatkan tanaman ini sebagai pengganti pakan ikan pelet,” terangnya.
Wetland alami biasanya didaratan sedangkan wetland terapung merupakan teknologi untuk pengelolaan kualitas air. Wetland atau lahan basah adalah wilayah daratan dimana tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen (tetap) ataupun temporer (musiman).
“Wetland ada yang alami seperti rawa-rawa, hutan bakau atau mangrove di laut, paya-paya maupun rawa gambut. Sedangkan Wetland terapung termasuk lahan basah buatan (constructed wetland) yaitu lahan basah yg sengaja dibuat oleh manusia,” tutur Peneliti LIPI tersebut.
Lebih lanjut, Bambang Teguh Setiono selaku Teknisi Rekayasa UPT LATPD LIPI Maninjau juga menuturkan kegiatan ini lebih terfokus peningkatan kadar oksigen air danau dengan berbagai metode teknologi sederhana dan ramah lingkungan, budidaya tanaman untuk pakan ikan alami serta menjadikan lokasi sebagai konservasi edukasi masyarakat.
“Dalam waktu dekat ini kami juga akan mengembangkan rekayasa penelitian berbasis konservasi edukasi. Lokasi ini memang akan dijadikan objek wisata Nagari Sungai Batang. Maka kami akan membuat rekayasa alam seindah mungkin. Akan ada air mancur dengan pemandangan indah nantinya,” tutup Teguh. (rud)
















