Opini

Untuk Tercintaku Pasaman, Titip Salam Kabar Pada Pemimpin dan Pak Dewan

Oleh Chandra Firman Hura, Ss
Alumni Sastra Indonesia UNP

 

 

Pasaman, Prokabar — Apa kabar Pasaman. Semoga engkau baik-baik saja, meski aku dan kami tau, engkau sedang sakit. Tenang saja, badai pasti akan berlalu. Pasaman, sebelum kita jauh bercengkrama, ingin aku tanyakan dulu pada pejabat dan penjabat pemerintahan di Pasaman dan juga pak dewan? Apakah kalian tahu bagaimana kabar kami masyarakat badarai yang jadi penyangga tiang nama besarnya Pasaman? Aku rasa, kalian tahu, namun pura-pura tidak tahu. Kalian terlalu fokus mengisi perut masing-masing. Perlu bukti? Ini aku dan kami urai.

Baru-baru ini, jagat raya dihebohkan dengan kasus korupsi pasca bencana di Mapattunggul Selatan. Tiga pejabat divonis bersalah, belum lagi ada dua pejabat dan satu rekanan yang menjadi tersangka kelanjutan kasus yang sama. Sampai-sampai nama bupati Yusuf Lubis dan wakilnya Atos Pratama disebut-sebut terlibat dalam kasus itu. Meski ini mereka sangkal. Bukti persidangan membuktikan, uang yang seharusnya untuk fasilitas yang dinikmati masyaraat, kalian bagi-bagi, korupsi. Kami yang jadi teraniaya. Tak ada lagi dana pasca bencana dari pusat.

Itu satu, baru-baru ini juga, Wakil Bupati Atos Pratama dan Bupati Yusuf Lubis cakak gadang. Dengan gagahnya Atos Pratama menyebut ia dizholimi masalah pelantikan beberapa pejabat yang tak sesuai dengan sebuah keinginan antara kalian-kalian juga. Hingga akhirnya dengan senyum manis ‘Ini hanya kesalahpahaman, kami baik-baik saja,” kata mereka berdua dengan gagah di depan para awak media, diberitakan pula dan aku baca. Ini lagu lama.

Itu sedikit, masih ada. Di penghujung tahun 2019, Pasaman defisit. Serapan rendah di sana-sini. Pelatikan tiap sebentar, alasannya sama, percepatan kinerja. Namun hasilnya masih sama,banyak Dana Alokasi Khusus yang kembali ke pusat. Pembangunan terhambat, korupsi menjadi-jadi, tidak satu dua kasus yang digarap Kejaksaan Negeri Pasaman, terberitakan pula. Aku dan kami baca.

Mau bapak-bapak bawa kemana Pasaman ini sebenarnya?

Lain sisi, untuk pak dewan, apa kabar. Baru saja dilantik, namun gelagat busuk mulai tercium agaknya. Perlu bukti, ini aku urai.

Akhir-akhir ini, masyarakat Pasaman teramat resah adanya beberapa proyek pembangunan siluman. Tidak usah jauh-jauh, di Sekretariat Dewan contohnya. Pembangunan kolam dan taman. Dari mana anggarannya? Saat ditanya, Sekretaris Dewan, Mukhrizal menjawab, itu aspirasi ketua DPRD Pasaman, Bustomi. Anggarannya belum ada, namun rekanan bersedia dulu mengerjakan meski anggarannya di kemudian hari. Ini apa namanya? Baru menjabat, kalian sudah berani bermain api. Memaksakan kehendak, menyalahi aturan, sementara masyarakat menengadah mengharapkan banyak sentuhan dan pembangunan. Belum lagi proyek pengembangan tugu di Ruko pusat kota. Tak bertuan pula, sama dipaksakan.

Sebelum bertindak menengoklah ke belakang agak sedikit. Atau tidak saat becermin, usap-usap jas yang kalian pakai. Itu anggarannya masih berutang, belum lunas pada tukang jahit. Ini diakui Mukhrizal, Sekretaris Dewan pada aku dan kami. anggarannya belum terealisasi, sebab ada kesalahan pada proses adminitrasi. “Jangan dibesar-besarkanlah, malu nanti anggota dewan,” itu pesan Mukhrizal pada kami perihal jas. Untuk itu, malulah, agak sedikit saja, jadi la.

Hampir lupa, kalian tahu bagaimana kabar kami masyarakat badarai? Kami beri tahu, pasir di sungai sudah mulai payah, tak banyak yang bisa ditambang. Getah murah pula, begitu juga dengan kakao. Apalagi ikan, mahal pula makanannya dari pada nilai jualnya. Diharapkan pula pada serai wangi, sudah banyak pula gaya pengepulnya, tidak sesuai inilah-tidak sesuai itulah, ditawar murahnya minyak serai kami.

Kami sakit, namun masih tersenyum. Ini terpaksa, kalau tidak pula senyum pada kalian yang turun menengok kami, nanti dibilang pula tak menghargai.

Satu lagi, untuk para pejabat dan penjabat di Pemkab Pasaman, janganlah sering-sering mengupload foto-foto di media sosial yang menggambarkan kalian sedang makan enak di restoran atau lesehan pada sela-sela kunjungan kerja. Iri kami. Simpan sajalah foto-foto itu di HP saja, agar kami meyakini dalam hati kalau kalian kunjungan ke luar daerah itu, benar-benar pergi bekerja yang hasilnya nantik untuk kami masyarakat badarai. Tapi kalau kalian tidak mendengar, terserahlah. Nanti berang bupati baru tau rasa, sebab ini dilarangnya dulu-dulu di awal menjabat. Diberitakan pula, dan sempat aku dan kami baca. Cukup itu dulu.

Apa kabar Pasaman, tenang saja, badai pasti akan berlalu. Tidak lama, mungkin terlebih kurang satu tahun lagi, setelah itu, mari sama-sama kita berdoa, semoga lebih baik ke depannya. (*)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top