Oleh: Irsyad Syafar
Yang saya maksud dengan umrah yang mahal ini bukanlah tingginya biaya yang anda bayarkan kepada pihak penyelenggara umrah tersebut. Akan tetapi, maksudnya adalah terlalu banyaknya kebaikan yang lolos dan luput tidak anda kerjakan selama perjalanan umrah, dan dominannya kesia-siaan dalam agenda anda, serta tidak adanya perubahan diri anda kepada yang lebih baik setelah pulang dari ibadah umrah.
Apabila anda berangkat umrah, tapi anda tidak punya rencana apa-apa selama perjalanan umrah tersebut, juga tidak ada target-target kebaikan yang hendak diselesaikan disana, hanya ikut sajalah bersama rombongan, kemana mereka pergi nanti, ikut pula dengan mereka, sungguh anda kurang beruntung. Sebab umrah bukanlah jalan-jalan atau study tour. Ini perjalanan untuk kemenangan akhirat.
Bila selama umrah, yang anda kerjakan hanya ibadah shalat wajib saja, dan tidak dengan kualitas yang lebih baik, tidak menghadirkan kekhusyukan, tidak diperkaya dengan berbagai shalat sunat, kalaupun ada tambahan, hanya shalat tahiyatul masjid saja, sungguh anda telah sia-sia. Teramat banyak kasih sayang Allah yang tidak anda ambil.
Anda sudah datang lebih awal ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, satu jam menjelang adzan. Lalu anda hanya shalat sunat dua rakaat, dan kemudian diam (bermenung) dan bengong saja sampai adzan berkumandang. Tidak anda buka mushaf Al Quran untuk dibaca, tidak juga berdzikir atau bermunajat, tidak shalat malam beberapa rakaat, sungguh teramat kasihan untuk anda. Karena sudah berada di tempat terbaik, tapi anda tidak melakukan hal-hal yang terbaik.
Anda sudah jauh-jauh dari tanah air menuju tanah suci Makkah. Melewati jarak ribuan kilometer. Tapi, sesampai di Makkah, anda lebih sering shalatnya di mushalla hotel. Dengan alasan itu tersambung dengan Imam Masjidil Haram. Anda itu kan sengaja beribadah ke Makah, bukan sedang ada tugas kantor atau bisnis. Misi anda fokus untuk beribadah. Kenapa tidak awal-awal waktu ke Masjidil Haram? Kalau sudah terlambat, hati akan tergoda untuk shalat di mushalla tersebut. Bila itu berkeseringan, sungguh itu sebuah kesia-siaan.
12 hari perjalanan umrah yang anda lakukan. Setiap hari langkah-langkah kaki anda bisa mencapai 15 ribu atau bahkan 20 ribu langkah. Akan tetapi, bila diperhatikan secara seksama, dihitung-hitung dan dikira-kira, ternyata langkah-langkah kaki tersebut lebih dominan di pasar, toko, kedai, restoran dan mall, dibandingkan dengan langkah-langkah “ibadah”. Otomatis juga, durasi keberadaan anda di dalam masjid lebih sedikit dibandingkan durasi keberadaan anda di pasar, toko dan kedai, serta “rehat” di dalam hotel.
Kain ihram anda pakai, kalimat-kalimat talbiah juga dilantunkan. “Kami sambut panggilanMu yaa Allah” begitu berulang-ulang terucap dibibir. Tapi tangan masih pegang rokok, mulut yang bertalbiah masih “nyaman” menghisap yang sia-sia. Dipinggir dan di selasar hotel di luar pagar masjid, anda masih asyik saja menikmati barang yang sudah diharamkan oleh para ulama semenjak puluhan tahun yang lalu. Sangat kontradiktif antara talbiah dengan rokok yang anda hisab.
Pergi umrah itu sejatinya untuk menjemput sebanyak-banyaknya “jatah” akhirat di sisi Allah. Tapi, sebagian orang ada yang “berbelanjanya” saat perjalanan umrah, berlipat-lipat angkanya. Emas, perhiasan, pakaian, kenang-kenangan dan lain sebagainya. Kadang bisa pula untuk biaya umrah sekali lagi. Ujung-ujungnya, justru banyak “dunia” yang dibawa pulang. Bukan tabungan akhirat.
Setelah pulang umrah, ternyata anda masih begitu-begitu juga. Tidak ada perubahan yang signifikan. Masih belum naik kualitas dan kuantitas ibadahnya. Masih belum gemar dengan Masjid, Al Quran, majelis ilmu, dan kebaikan lainnya. Juga tidak meninggalkan (mengurangi) kebiasaan buruk sebelumnya. Tentu jadinya, pergi dan tidak pergi umrah, sama saja.
Bila semua atau mayoritas hal-hal di atas ada dalam diri anda, maka sesungguhnya biaya yang anda habiskan untuk pergi umrah terlalu MAHAL. Umur, waktu, tenaga dan kesempatan yang Allah berikan, terlalu banyak yang anda sia-siakan. “Betapa banyak orang yang pergi umrah, tidak banyak yang dia dapatkan selain piknik, selfie, letih dan lelah.”
#Allahummaghfirlanaa
















