Prokabar.com – Kunjungan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar ke Sumatera Barat, Sabtu (15/11) tak hanya menjadi agenda protokoler kementerian.
Bagi UIN Bukittinggi, momentum tersebut menegaskan peluang strategis untuk menempatkan diri sebagai pusat riset dan pembangunan wakaf produktif di Sumbar.
Rektor UIN Bukittinggi Silfia Hanani mengatakan arah kebijakan Kemenag saat ini tertuju pada dua prioritas besar.
Pertama, modernisasi tata kelola wakaf dan kedua penguatan kemandirian ekonomi pesantren.
Keduanya membutuhkan kontribusi ilmiah yang kuat dari perguruan tinggi keagamaan.
“PTKIN khususnya UIN Bukittinggi harus menjadi pelopor riset model wakaf produktif. Jika wakaf ingin masuk ke era modern, maka pendekatannya tak lagi dengan pengelolaan tradisional,” kata Silfia Hanani.
Dia menekankan tantangan ke depan adalah membangun sistem wakaf berbasis data, inovasi, dan transparansi.
Selain itu, perlu mendorong model-model investasi syariah yang dapat diterapkan lembaga wakaf di tingkat lokal.
Terkait kunjungan Menag ke Sumbar, ada tiga agenda strategis yang menyertai.
Ketiga agenda tersebut adalah Konferensi Wakaf Internasional, Pengukuhan Pengurus BP4 Sumbar, serta Expo Kemandirian Pesantren di UIN Imam Bonjol Padang.
Dari seluruh agenda tersebut, isu yang konsisten muncul adalah penguatan kolaborasi antara pemerintah, PTKIN, dan pesantren untuk membentuk ekosistem ekonomi umat yang lebih modern.
Menurut Silfia Hanani, hal tersebut merupakan ruang kontribusi yang semakin nyata.
Sebab, wakaf produktif bakal mampu menggerakan ekonomi masyarakat berbasis keadilan, terlebih jika ditopang riset multidisipliner dari kalangan akademisi.
“UIN Bukittinggi wajib hadir memberikan rekomendasi ilmiah dan solusi implementasi, bukan hanya soal kajian normatif. Wakaf adalah lokomotif pembangunan sosial-ekonomi umat kalau dikelola secara serius,” ucapnya.
Siflia Hanani menyebut spiriti transformasi dibawa Menag sejalan dengan arah pengembangan akademik UIN Bukittinggi yang menempatkan riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat sebagai basis pengembangan institusi.
Dalam konteks Sumbar, ekosistem wakaf dan pesantren cukup besar namun belum terintegrasi secara optimal.
Posisi UIN Bukittinggi dinilai strategis menjadi simpul riset dan laboratorium implementasi kebijakan wakaf produktif.
“Ini bukan momentum seremonial. Ini tanda bahwa PTKIN di Sumbar harus mengambil peran lebih besar dalam pembangunan ekonomi umat,” tutupnya.
















